Rembulan adalah salah satu panorama semesta yang secara spesifik bertahta di malam hari. Bagi orang-orang yang berdomisili di kampung-kampung dan pedalaman yang jauh dari ingar-bingar dan sergapan gemerlap lampu-lampu kota yang angkuh, sungguh memandangi rembulan yang berkisaran di angkasa pada malam hari merupakan suatu kenikmatan tersendiri. Apalagi ditemani oleh orang (-orang) tercinta.

Tentu saja keindahan rembulan itu tidak hanya terpacak pada dimensi fisikalnya belaka, tidak hanya pada konteks lahiriahnya melulu. Akan tetapi juga (dan ini yang paling utama) pada dimensi spiritualnya, pada bagian makna terdalam yang menampung nilai-nilai suci sekaligus keagunganNya. Itulah sebabnya, penting bagi kita untuk mengkaji dan menyelaminya.

Sedemikian pentingnya memaknai dan merenungi nilai-nilai filosofi sufistik makna rembulan itu sampai-sampai Allah sendiri pun turun tangan menyebutnya sebanyak 27 (dua puluh tujuh) kali di dalam kitab suci Al-Quran.

Wal qamari idzat tasaq/Demi rembulan apabila telah menjelma purnama,” firmanNya dengan begitu merdu tapi sekaligus tegas dalam QS. Al-Insyiqaq ayat 18. Di dalam lembar-lembar kepustakaan sufisme Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi (1165-1240) diungkapkan bahwa makna spiritual rembulan tidak lain adalah hati (al-qalb) manusia. Interpretasi terhadap ayat di atas dengan demikian berarti bisa diungkapkan begini: “Demi hati orang beriman yang telah terpenuhi oleh cahaya-cahaya ilahiat.”

Posisi hati secara spiritual sebenarnya berada di ruang antara, menempati kedudukan sebagai barzakh. Yaitu antara nafsu amarah yang kelam dan keindahan ruh yang terang-benderang sebagai pengejawantahan bayang-bayang Tuhan semesta alam. Keduanya memiliki sifat berlawanan dan seringkali terlibat cekcok dan pertikaian untuk memperebutkan dan menguasai hati manusia.

Sebagaimana rembulan yang teramat kurus dan ceking di awal mula dan akhir dari perjalanan tanggal, lalu menjadi sempurna dan menawan di tengah pengembaraannya yang senantiasa berputar atas nama cinta, demikian pula kedudukan dan nasib hati manusia. Hanya saja hati manusia itu tidak mesti sebagaimana rembulan yang secara istikamah senantiasa berpindah dari posisi sebagai bulan sabit menuju purnama raya, lalu dari purnama raya kembali lagi ke bulan sabit.

Hati manusia bisa sedemikian lama bertahta sebagai purnama raya yang tidak saja mempersembahkan jalan terang kehidupan bagi dirinya dan orang-orang lain di sekitarnya, akan tetapi juga dengan penuh kepastian mentahbiskan diri sebagai segumpal keindahan yang selalu dipuji oleh para pujangga dan mereka yang sedang jatuh cinta.

Dan ada kalanya pula hati manusia bisa tampak remang dan lisut, lalu dengan cepat atau lambat menjadi kelam ketika terjadi pertarungan antara nafsu ammarah dan kekuatan ruh pada gelanggang hati sebagai barzakh yang kemudian dimenangkan oleh musuh paling ampuh itu, oleh nafsu amarah yang pada ribuan tahun silam hampir saja menjerumuskan Nabi Yusuf pada jurang nista dan kehancuran ketika tergoda oleh rayuan Zulaikha yang pada waktu itu masih belum menjadi istrinya.

Lalu pertanyaannya, kenapa nafsu amarah itu diciptakan kalau tugasnya hanyalah untuk mengubur manusia di dalam liang nestapa dan kebinasaan? Demikian juga untuk apa Iblis dan setan-setan sebagai anak-cucunya diciptakan kalau hanya akan menyesatkan umat manusia dalam menempuh perjalanan panjang kehidupan agar akhirnya sampai dan berjumpa kembali dengan Tuhan semesta alam?

Rintangan-rintangan itu sengaja diciptakan dalam kehidupan ini agar manusia tidak meleset memotret dirinya sendiri sebagai seonggok kedaifan. Sehingga dengan demikian tidak boleh tidak manusia mesti senantiasa memohon perlindungan kepada Tuhan agar diselamatkan dari berbagai macam destruksi yang disemburkan oleh nafsu amarah dan setan.

Kesadaran tentang kedaifan itu sungguh sangatlah penting. Ia akan menjadikan manusia merunduk dan merenungi tentang betapa niscayanya perilaku dan sikap hidup yang disandarkan secara vertikal kepada hadiratNya dan dilandasi oleh keteguhan jiwa dan sikap rendah hati. Pada saat itulah bulan sabit ruhani dalam dirinya akan mengembang sekaligus menjadi semakin lebih terang. Dengan pasti ia beranjak menuju purnama raya.

Wal qamari idza talaha/Demi rembulan apabila telah mengiringi matahari,” (QS. Asy-Syams: 2). Idiom matahari pada ayat ini merupakan simbol yang mengacu kepada ruh. Sebagaimana rembulan yang menjalin hubungan dengan matahari lewat kesediaannya menampung cahaya raja siang itu sehingga tercipta purnama raya, demikian pula hati yang tunduk dan mengikuti langkah-langkah ruh dalam menyusuri rute untuk sampai kepada hadiratNya: ia akan dihuni oleh terangnya cahaya-cahaya ilahiat yang begitu menawan.

Dulu di zaman Nabi Muhammad saw rembulan pernah terbelah selama dua kali sebagaimana didedahkan oleh Syaikh Jalaluddin as-Sayuthi (1445-1505 M) dalam kitab al-Khashaish al-Kubra. Orang-orang, baik yang beriman maupun yang ingkar, sama-sama menyaksikan terbelahnya rembulan menjadi dua itu. Yang separuh berada jauh di punggung gunung, sedang yang separuhnya lagi bertengger jauh di depan gunung. Tidak saja mereka yang berada di dekat Nabi Muhammad saw yang menyaksikan peristiwa menakjubkan itu, tapi juga mereka yang berada di negeri-negeri yang jauh.

Di samping menunjukkan terhadap kebenaran risalahnya, hal itu juga merupakan bukti tak terbantahkan bahwa kecemerlangan cahaya ruhani Nabi akhir zaman itu sungguh jauh melampaui cahaya purnama yang selalu menjadi acuan dan kebanggaan orang-orang yang sedang menyusuri malam. Wallahu a’lamu bish-shawab.

baca juga: Ruh Kehidupan

Author: Kuswaidi Syafiie

ABOUT THE AUTHOR

Kuswaidi Syafiie

Pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, Sewon, Bantul. Pengampu Ngaji Ruba'iyat Rumi dan Tarjuman al-Asywaq Ibn Arabi Masjid Jendral Sudirman


COMMENTS