Roesdy Sh

Untuk keperluan tulisan singkat ini, saya melakukan survei pada lebih dari 10 teman yang dalam pandangan saya mereka adalah orang-orang jujur. Mereka terdiri berbagai kalangan, ada kyai, ustad, aktivis, guru, takmir masjid, mahasiswa, pegawai, wiraswasta, dosen, peneliti.

Kepada mereka yang bersedia jadi responden secara suka rela saya bertanya apakah pernah berbohong? Mengklarifikasi kebohongan yang dilakukan? Apakah pernah menyebarkan informasi yang belum diklarifikasi keberarannya/hoaks? dan apakah menyesalinya?

Seluruh responden menjawab bahwa mereka pernah berbohong, sebagian mengaku tidak mengklarifikasi, dan dengan perilaku kebohongan itu merasa biasa saja (artinya mereka tidak begitu menyesalinya) karena kebohongan yang dilakukan (mungkin) menurutnya tidak sampai merugikan orang lain.

Bohong adalah lawan dari jujur. Jujur menurut KBBI adalah “lurus hati, tidak berbohong (misalnya berkata apa adanya, tidak curang (misalnya dalam permainan, mengikuti aturan yang berlaku), tulus dan ikhlas.” Berdasar definisi tersebut jujur sejatinya sederhana dan mudah dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Tetapi dalam praktik hidup sehari-hari ketika dihadapkan pada persinggungan dengan orang lain adakalanya jujur itu terasa sangat sulit dilakukan, sesulit menyatukan air dan oli. Misalnya, kebanyakan dari kita—atau bahkan semuanya—terasa berat untuk jujur jika menyangkut tentang kelemahan atau kesalahan diri sendiri.

Di sekolah, siswa yang telat, bolos, tidak mengerjakan tugas atau melakukan pelanggaran lainnya, ketika ditanya alasannya oleh guru tak banyak yang berani dengan jujur berkata alasan yang sebenarnya. Guru pun jika melakukan kesalahan belum tentu berani mengakui kesalahannya kepada siswa. Dalam persinggungan dengan kehidupan sosial lainnya pun banyak yang terjebak pada stigma diri yang pada tahap tertentu jika stigma itu baik di hadapan orang lain kita cenderung untuk mempertahankannya, sekalipun dengan melakukan (sedikit) kebohongan.

Kenangan yang hilang

Kini, kita sampai pada sebuah era kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi. Siapa, kapan dan dimanapun bisa mengakses dan menyebar informasi sesukanya melaui gawai pintar dalam genggaman. Inilah sebuah sebuah era—meminjam istilah Pak Fahrudin Faiz—yang repot dan ribet karena kita dihadapkan pada masalah yang tidak hanya di alam nyata, melainkan juga di dunia maya.

Pada saat yang sama, kata Jakob Sumardjo (2006), ini adalah zaman kecerdikan, pura-pura, kalau perlu pengkhianatan. Dalam kondisi yang demikian, perilaku jujur seringkali disamakan dengan polos, kekanak-kanakan yang bagus dijadikan dongeng pengantar tidur, bahkan kejujuran bisa jadi masuk dalam ruang mitologi yang kini sudah bukan zamannya lagi. Kuno. Dalam keseharian laku luhur masih diperbincangkan dan diidealkan, tetapi tak hadir dalam laku sehari-hari pembincangnya. Seolah perilaku itu berada di luar diri atau di dunia yang jauh entah dimana.

Di zaman ini”, kata seorang teman, “kalau terlalu jujur akan ditertawakan dan tertinggal.

Pada kali yang lain teman yang berkecimpung di dunia pendidikan berkata, “Sistem birokrasi kita memang menuntut untuk berbohong dan banyak ngarangnya.”

Kenapa begitu?” tanyaku penasaran.

Iya, memang begitulah. Justru kalau kita jujur melaporkan dan mempertanggungjawabkan sesuai yang terjadi tanpa mengarang kita bisa kena sangsi.”

Kemudian ia melanjutkan, “Itu di dunia pendidikan lho, bagaimana di dunia lain seperti bisnis, politik, hukum, apa menurutmu ada yang bebas dari praktik menyimpang?

Tiba-tiba saya jadi malu sendiri, setelah direnung-pikirkan dan bertanya pada diri seperti apa yang ditanyakan pada orang lain dalam survei, ternyata diri ini  juga tak bebas dari berbohong. Atas semua kebohongan yang dilakukan, sering kali ada yang menganggap biasa saja, karena dalam ukuran subjektif dinilai tidak merugikan siapapun.

Padahal, menurut Ali ibn Abi Thalib bahwa, “Dosa yang paling besar adalah dosa yang dianggap kecil oleh pelakunya”. Bukankah ada pula yang bilang bahwa, “Setiap kebohongan akan ditutup dengan kebohongan yang lain”.

Standar moral

Apakah jujur dan bohong itu merupakan perilaku yang baik? Dalam perspektif etika (filsafat moral) terdapat dua teori etika yang dapat digunakan untuk menjawabnya.

Pertama, nilai baik dan buruk sebuah perbuatan didasarkan pada tujuan, akibat/hasil dari perbuatan itu. Dalam perspektif ini, jujur bisa bernilai baik jika akibat/hasil dari kejujuran itu  baik, sebaliknya jika dengan jujur berdampak buruk maka laku jujur itu bisa dinilai buruk. Teori ini disebut dengan teleologis.

Kedua, deontologis. Teori ini muncul sebagai kritik pada teori pertama. Akibat/hasil dari sebuah perbuatan menurut teori ini tidak bisa dijadikan kriteria baik dan buruknya sebuah perbuatan. Mengapa? Karena pelaku tidak bisa memprediksi secara pasti dan tidak bisa mengontrol sepenuhnya akibat yang lahir dari perbuatan yang dilakukannya.

Kalimat seperti, “Siapapun bebas melakukan apapun, tapi pastikan bahwa yang dilakukan itu bertujuan baik” barangkali cocok untuk teori yang pertama.

Sedang bagi teori kedua ini bisa berubah menjadi, “Siapapun bebas melakukan apapun, tapi ia tak bisa memastikan akibat apa yang akan diterimanya.”

Menurut Immanuel Kant yang merupakan penganut teori kedua, perbuatan baik akan tetap baik dimanapun dan kapanpun. Tiada urusan dengan hal lain yang di luar perbuatan itu (termasuk akibat dari perbuatan). Maka, jujur akan selamanya baik, dan bohong akan selalu buruk. Tidak ada alasan yang bisa merubah kualitas perbuatan baik jadi buruk dan perbuatan buruk jadi baik.

Dalam realias kehidupan sehari-hari, kedua teori itu tampaknya tak selalu berlaku secara ‘hitam-putih’, bahwa semua perbuatan atau tutur kata yang bertujuan dan akibatnya baik otomatis bernilai baik. Begitupun juga tidak semua laku benar dan jujur selalu bernilai baik dalam kondisi apapun.

Kedua teori tersebut ketika diaplikasikan dalam realitas kehidupan membutuhkan jembatan yang disebut dengan kebijaksanaan. Tingkat kebijaksanaan inilah yang mengantarkan pada penilaian sebuah laku.

Ada sebuah kisah inspiratif yang pernah saya baca entah kapan dan dimana yang barangkali pas untuk menggambarkan sebuah kebijaksanaan. Konon, ada seorang anak yang (dianggap) ‘nakal’ diberi surat oleh pihak sekolah agar dikasihkan ke orang tuanya. Sesampainya di rumah, surat itu diberikan oleh anak itu kepada ibunya. Ibunya pun membuka surat itu, membaca sejekan lalu meniteskan air mata.

Ibu kenapa menangis?” tanya si anak.

Sang ibu kemudian tersenyum dan berkata dengan penuh kelembutan, “Nak, kepala sekolah kirim surat. Katanya, kamu sangat pintar dan cerdas, suatu saat kamu akan jadi orang besar jika kamu bisa sekolah di tempat yang lebih bagus.

Sang ibu tersenyum kembali dan memegang kepala si anak, “Ibu bangga sama kamu. Mulai besok, ibu carikan sekolah yang lebih baik untukmu ya…” Mendengar itu sang anak langsung memeluk ibunya dengan penuh bahagia.

Berpuluh tahun kemudian, setelah si anak sudah dewasa dan sukses, di lemari kepunyaan ibu yang biasa digunakan untuk menyimpan barang sesuatu, ia menemukan surat itu masih tersimpan rapi. Ia membuka dan membacanya kembali, ternyata dalam surat itu tertulis bahwa, “Anak ini sangat nakal dan tak bisa diatur. Oleh karena itu mulai besok kami meminta agar anak ini tidak usah masuk sekolah lagi.”

Tak kuasa anak itu menahan air mata mengenang sang ibu yang dulu menangis saat membaca surat itu, tapi dengan penuh kebijaksanaan menyikapinya di depan anak yang disayanginya.

Ada kisah lain yang menunjukkan sikap bijaksana. Pada suatu hari seorang ibu mengajak anaknya menjumpai Mahatma Gandhi dan mengeluh, “Anak saya tidak mau berhenti makan permen. Saya takut kebiasaan ini akan merusak giginya“.

Gandhi hanya mesem dan menjawab, “Kembalilah seminggu lagi bersama anakmu bu“.

Seminggu kemudian ibu itu kembali menemui Gandhi. Gandhi pun tersenyum dan bertutur sambil memegang kepala si anak dan berkata, “Nak, mulai sekarang berhentilah makan permen lagi yah, karena bisa merusak gigimu.”

Di hadapan Gandhi, si anak pun mengangguk dan berjanji tidak akan makan permen lagi. Ibu dan anak itu segera berpamitan pulang. Namun sebelum beranjak si ibu penasaran dan bertanya, “Jika hanya mengatakan hal itu, seharusnya Anda bisa mengatakannya seminggu lalu. Mengapa harus menunggu hari ini?”.

Gandhi pun tertawa kecil kemudian berkata, “Maafkan saya telah membuat Anda repot. Sejujurnya Minggu lalu saya tidak bisa menyuruh anak ibu berhenti makan permen”.

Ghandi menghela napas sebentar. Ibu itu semakin penasaran dan menanyakan alasannya. Lalu Gandhi menjawab, “Karena Minggu lalu saya sendiri masih makan permen.

Begitulah laku kebijaksanaan. Sebuah laku yang lahir dari pikiran jernih, pemahaman, pengetahuan tentang kebenaran ditambah keberanian dan ketepatan ruang dan waktu untuk melakukannya.

Kisah itu memberi pelajaran bahwa kebijaksanaan mengharuskan kita tidak hanya mengetahui benar-salah dan baik-buruk, melainkan juga harus mengetahui ketepatan sebuah laku itu kapan, dimana, pada siapa dan bagaimana dilakukan.

Sebagaimana dari hasil survei kecil-kecilan yang saya lakukan, sepertinya memang tiada orang yang bebas dari berbohong meskipun sekedar kebohongan kecil. Dalam kisah bijak di atas pun adakalanya kebohongan itu berdampak baik. Tetapi,  hal itu tidak bisa dijadikan pembenaran bahwa berbohong itu baik. Jangan pula dipahami bahwa bijaksana sama dengan kemampuan memaklumi segala yang berlainan dan tidak cocok dengan diri. Bijaksana bisa berbentuk sebuah sikap lembut, ramah, tapi juga bisa berbentuk sikap tegas dan bahkan keras.

Dalam konteks era kini yang repot dan ribet, patut kiranya merenungkan dan mengamalkan pesan Nabi saw, “Katakanlah yang benar walaupun pahit rasanya.”  Kalau tidak sanggup jujur dan berkata yang benar maka Nabi saw berpesan, “Lebih baik diam.” Jangan berbohong dan menyebarkan kebohongan baik di dunia nyata maupun di jagad maya.

Author: Roesdy Sh

ABOUT THE AUTHOR

Roesdy Sh


COMMENTS