Hell is other people, demikian dawuh sang filosof eksistensialis, Sartre. Ia begitu parno dengan kehadiran orang lain yang menurutnya hanya membatasi kebebasannya untuk melakukan apapun yang diinginkan. Kita ingin melamar lowongan Pegawai Negeri Sipil (PNS), kok ya buanyak orang lain melakukan hal yang sama, akhirnya kans kita menipis. Kalau siang hawa sedemikian panas, inginnya kita leyeh-leyeh di depan rumah sambil sarungan saja, tapi kok ya para tetangga wira-wiri membuat risih. Kita ingin mendekati cowok atau cewek idaman, kok ya orang lain yang lebih keren melakukan hal yang sama. Kalau malam Minggu inginnya kita bisa apel sampai tengah malam, kok ya Pat RT membuat aturan sampai jam 20.00 WIB saja.

Kalimat Sartre di atas dapat ditakwil sebagai satu sindiran atas kerepotan hidup kita sehubungan dengan kehadiran orang lain, apapun bentuknya. Pertemuan kita dengan orang lain adalah pertarungan saling meng-obyekkan. Kita yang menang dan menjadikan mereka sebagai obyek, atau kita kalah dan mereka menjadikan kita sebagai obyek. Kita tidak terima orang Barat seenaknya saja dengan orientalisme-nya mengkaji kita di Timur, maka kita tandingi dengan membuat kajian baru bertitel oksidentalisme untuk mengkaji Barat, sehingga kita tidak sekedar obyek yang dikaji oleh mereka, tetapi juga  subyek yang mengkaji mereka. Kita maunya hidup ini tenang-tenang saja, kok ya ada teman yang menyebar dusta dan fitnah, lalu kita pontang-panting harus membantahnya. Akhirnya kita balas dia dengan dusta dan fitnah juga, biar skor-nya sama. Mereka adalah neraka bagi kita dan kita ternyata juga neraka bagi mereka.

Menarik untuk melihat relevansi gagasan Sartre ini sehubungan dengan situasi hari ini. Era yang begitu repot dan ribet dengan kehadiran dunia baru yang dikenal sebagai dunia maya atau dunia virtual dengan medsos (media sosial)-nya. Neraka-neraka yang semula kita hadapi di alam nyata, kini juga harus kita hadapi di dunia maya. Manfaat dunia maya dan medsos pasti ada, namun kerepotan yang ditimbulkannya juga luar biasa.

Kalau di dunia nyata, neraka other people itu terlihat nyata, di dunia maya mereka tidak terlihat. Di dunia maya, orang memiliki kawan gaib folowwers, yang kadang menjelma menjadi musuh gaib haters. Di sana berhamburan basa-basi, caci-maki, fitnah, ghibah, jilatan, rayuan gombal, laporan investigasi picisan, dan segala macam bunga komunikasi tanpa terkendali. Neraka dunia maya agaknya lebih panas dibanding neraka dunia nyata. Para pemalu dan pendiam di dunia nyata, bisa berubah cerewet, buas dan mengerikan di dunia maya. Pertarungan dunia maya agaknya lebih dahsyat dibanding dunia nyata. Tidak hanya hubungan keluarga bisa retak, negara pun bisa jatuh. Maka pernyataan Sartre hell is other people dapat dilengkapi menjadi hell is other people and other account.

Namun bukankah dunia maya dan media sosial juga membawa manfaat? Ya, dan banyak. Namun gangguan dan kerepotan yang lahir dari sana juga tidak main-main kuantitas dan kualitasnya. Mungkin engkau berkilah bahwa akun media sosialmu hanya dipakai untuk yang baik-baik saja, untuk menasihati dan menceramahi teman-temanmu dengan gaya share dan aminkan? Namun, sejauh mana engkau tahu bahwa nasihat dan pituturmu itu mereka butuhkan dan bukannya malah mengganggu mereka? Atau sejauh mana engkau bisa mengukur bahwa yang kamu lakukan memang benar berbagi, bukan pamer kepintaran atau kelebihanmu sendiri?

Kerepotan akan kehadiran orang lain itu dirasakan pula oleh Mullah Nasruddin. Suatu ketika beliau dan anaknya jalan-jalan keluar rumah mengendarai keledai favoritnya. Karena sayang kepada anaknya, Nasruddin memilih berjalan kaki, dan anaknya yang mengendarai keledai. Di jalan orang berkomentar: “Dasar anak durhaka, masak orang tuanya disuruh berjalan kaki.”

Akhirnya Nasruddin dan anaknya berganti posisi. Anaknya yang berjalan, Nasrudin yang mengendarai Keledai. Di jalan kembali orang berkomentar: “Dasar orang tua tidak sayang anak.”

Selanjutnya Nasrudin dan anaknya bersepakat sama-sama menaiki keledai, orang pun berkomentar: “Dasar manusia tega, tidak kasihan sama binatang.”

Akhirnya Nasruddin dan anaknya memutuskan untuk sama-sama berjalan sambil menuntun keledai, dan orang berkomentar: “Dasar manusia goblok, membawa keledai kok dituntun saja, tidak dinaiki.”

Dalam puncak kejengkelannya Nasruddin mewanti-wanti kepada anaknya: “Nak, nanti setelah kamu memiliki keledai, jangan pernah mencukur bulu ekornya di depan orang lain! Beberapa akan berkata kamu memotong terlalu banyak, sementara yang lain berkata kamu memotong terlalu sedikit. Jika kamu ingin menyenangkan semua orang, pada akhirnya keledaimu tidak akan memiliki ekor sama sekali.

Lantas akankah kita aminkan saja fatwa Sartre tersebut? Ataukah kita tolak saja, wong Sartre itu ateis? Atau mungkinkah kita ambil unsur positif dari gagasan Sang Ateis tersebut?

Sebagaimana semua ide dan gagasan yang lain, karena setiap gagasan punya ruang, waktu dan situasinya sendiri, pandangan Sartre tersebut ada benarnya juga ada kelemahannya, ada pasnya ada pula tidak pasnya. Tinggal setiap orang silahkan meraba kehidupannya sendiri-sendiri, bagaimana makna kehadiran orang lain dalam kehidupannya dan kehadirannya dalam kehidupan orang lain.

Pernyataan Sartre di atas, kiranya akan membuahkan manfaat kalau kita memposisikannya sebagai pagar hubungan kita dengan sesama. Berbasis kepada kalimat Sartre tersebut, setiap kali kita beraktivitas yang ‘bersinggungan’ dengan orang lain, ada baiknya kita ukur kehadiran kita, kata dan tindakan kita, apakah bernilai manfaat, kegembiraan, hiburan atau sebaliknya: bahaya, gangguan dan kesusahan, lahiriah maupun batiniah, bagi orang lain. Sekali-kali tidak ada salahnya kita mengukur, apakah bagi mereka, para tetangga, teman, kolega sekeliling kita, di dunia nyata maupun di dunia maya, kehadiran kita adalah sesuatu yang dinanti atau disesali, atau biasa saja, ada atau tiadanya kita tidak diperhitungkan, atau kehadiran kita ‘dimakruhkan’ atau jangan-jangan ‘diharamkan’?

Meskipun Sartre sudah menyatakan ke-neraka-an orang lain, namun fitrah manusia sebagai makhluk sosial tidak mungkin disisihkan. Keinginan dan kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesama tidak mungkin dipungkiri. Secara positif, asumsi kenerakaan orang lain versi Sartre tersebut dapat dimaknai: 1) Kehati-hatian kita dalam berinteraksi dengan sesama, sehingga kehadiran kita tidak bernilai sebagai ‘pengganggu’ atau ‘penyusah’ yang memagari kebebasan dan keleluasaan hidup orang lain. 2) Perlunya interaksi dan komunikasi yang benar, baik, harmonis dan produktif, sehingga kebersamaan kita dengan orang lain tidak berkarakter saling me-neraka-kan, namun justru saling menyempurnakan kekurangan dan kelemahan kita sebagai individu.

Lantas, Ideal-ideal interaksi dan hubungan dengan sesama tersebut, yang tidak saling me-neraka-kan, yang justru menumbuhkan kesempurnaan karakter kemanusiaan kita, bagaimana implementasi praktisnya? Al-Quran secara lugas menuntun kita: Jangan saling caci (mengolok-olok), jangan saling cela, jangan memanggil dengan gelar yang buruk, jangan berprasangka buruk, jangan mencari-cari kesalahan, jangan mempergunjingkan orang lain (QS Al-Hujurat [49]: 11-12). Namun wa tawashaw bil haqq wa tawashaw bi al-shabr (QS Al-‘Ashr [103]: 3) dan wa ta’awanualal birri wat taqwa, wa la ta’awaunu alal itsmi wal ‘udwan (QS Al-Ma’idah [5]: 2), dengan jalan hikmah, mauidhah hasanah atau jadilhum billati hiya ahsan (QS An-Nahl [16]: 125).

Rasulullah juga telah secara tegas manyatakan bahwa ciri seorang muslim sejati adalah saat orang lain di sekelilingnya merasa “selamat” dari lidah dan tangannya. Ini berarti setiap kata, setiap tindakan dan setiap postingan muslim yang baik adalah kata, tindakan dan postingan yang membuat orang nyaman, aman dan menggembirakan. Kalau masih ada teman yang menjauh dari kita karena malas berurusan dengan kita yang dianggapnya usil, atau enggan mendekat ke kita karena takut tersinggung oleh kata-kata kita, meng-unfriend kita karena kuatir postingan kita menyakitinya, berarti saatnya instropeksi, jangan-jangan kita masih belum menjadi muslim yang baik, jangan-jangan kita adalah neraka baginya.

Ada sebuah kutipan yang entah ada di buku atau novel mana yang masih saya ingat, kira-kira begini bunyinya: “You want to come into my life, the door is open. You want to get out of my life, the door is open. Just one request: don’t stand at the door, you are blocking the traffic.” (Engkau ingin masuk dalam kehidupanku, pintu terbuka. Engkau ingin pergi dari hidupku, pintu juga telah terbuka. Hanya satu pintaku: Jangan berdiri di pintu, engkau menghalangi jalan!)

Monggo ditafsirkan sendiri kutipan tersebut sesuai hidup panjenengan semua.

Author: Fahruddin Faiz

ABOUT THE AUTHOR

Fahruddin Faiz

Pengampu Ngaji Filsafat Masjid Jendral Sudirman


COMMENTS

  • Mwh

    Moga berkah..amin