Suatu malam di akhir Juni 2018, saya dan sebuah tim liputan tiba di Bangkok, Thailand. Kedatangan kami sempat tertunda sehari, disebabkan kerusakan pesawat (maskapai swasta terbesar) ketika baru saja tinggal landas. Setelah mengudara 30 menit, burung besi yang membawa kami harus mendarat kembali di bandara Soekarno-Hatta demi alasan keselamatan. Kami ditakdirkan tertahan lama di bandara dan beberapa agenda terlewatkan. Akhirnya, kami tiba di Bangkok pada malam itu, dan langsung menuju sebuah hotel bernuansa klasik di distrik Sukhumvit.

Raja Rama I dari Dinasti Chakri merupakan tokoh penting yang mengubah citra Bangkok pada 1782, kota perdagangan kecil di tepi sungai Chao Phraya kala itu. Saat ini, kota yang terbagi menjadi beberapa distrik besar ini telah menjelma sebagai kota metropolitan dengan beragam destinasi wisata. Ada banyak candi klasik, kuil dan istana megah, kanal dan pasar tradisional, serta ragam pusat kuliner. Satu lagi, citra yang sering diingat dari Bangkok adalah tentang kehidupan malamnya (night life).

Sepanjang perjalanan kami dari bandara ke penginapan, semarak kota begitu memikat. Jelang tengah malam, kami tiba di hotel. Dan harusnya segera istirahat demi menyongsong agenda esok hari di Halal Science Center Chulalongkorn University yang didirikan oleh Prof Winai Dahlan, cucu K.H Ahmad Dahlan. Namun, kecuali satu orang, semua anggota rombongan sepakat tidak menghabiskan waktu untuk leyeh-leyeh.

Setelah sejenak melepas penat dan sempat berkenalan dengan seorang turis Korea Selatan yang bersebelahan kamar, kami pun keluar jalan kaki, ada yang menaiki tuk-tuk (kenderaan tradisional sejenis becak mesin). Dari perkenalan singkat, lelaki Korea ini mengaku kedatangannya ke Bangkok karena tugas dari perusahaan untuk mengikuti kursus tentang Asia Tenggara dan khususnya Indonesia. Begitu tahu kami dari Indonesia, dia antusias dan minta diri ikut bergabung. Dia mengaku ateis, tidak bertuhan, tidak memeluk agama apapun.

Kehidupan malam terhampar di sepanjang jalan yang kami jejaki. Silih berganti, kerlap-kerlip dan dentum musik dari bar, karaoke, pijat plus-plus (SPA dan reflexology massage). Di trotoar pinggiran jalan, di depan pintu penyedia jasa thai massage, para wanita dan beberapa waria dengan pakaian minim, dandanan dan lipstik merona, membagikan brosur harga massage dan jenis massage yang ditawarkan, disertai sapaan, “Sawatdee ka…” (Halo, monggo…). Sempat digoda, kami berbalas jawab, “No. Thanks” atau kadang harus berujar, “No. I am Muslim” sembari terus menyusur langkah.

Di depan sebuah tempat pijat, beberapa wanita dan waria, dengan setengah memaksa berusaha keras merayu lelaki Korea yang bersama kami itu. Wajar saja, si lelaki berusia 20-an tahun ini dianugerahi wajah tampan, mirip gambaran di drama Korea. Jawaban penolakan biasa ternyata tidak menyurutkan usaha mereka itu. Bisa jadi, mereka malah tidak paham selain bahasa Thailand atau kemungkinan terbesar adalah karena mereka terpikat dengan ketampanan. Risih dan bingung, spontan lelaki ateis dari Korea yang bersama kami ini mengeluarkan jurus pemungkas yang terinspirasi dari jawaban kami: “No. No. I am Muslim.” Dan terbukti ampuh, para wanita itu mundur teratur.

Tentu, perkataan I am Muslim itu bukan pernyataan dia masuk Islam. Bukan pula ucapan sakral, dua kalimat syahadat: Asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah. Bukan dari hati terdalam. Pernyataan ini hanya sekadar kebutuhan pragmatis untuk ‘menyelamatkan’ diri. Sekelumit kisah itu benar-benar membekas. Tentang sebaris kalimat ‘magis’ yang menyelamatkan seorang ateis yang tanpa paksaan justru merasa bangga dengan identitas Muslim.

Di saat yang sama, saya juga tersindir, sudahkah Islam yang saya anut, mampu memberi keselamatan terhadap diri sendiri dan sekitar saya? Benarkah saya tidak menjadi benalu pengusik bagi sesama? Jangan-jangan saya hanya Muslim, tapi tidak berperilaku islami. Perasaan semisal itu telah diwakili oleh Muhammad Abduh pada 1884 yang menyatakan, “Di Barat, saya melihat Islam tetapi tidak menemukan Muslim. Di Arab, saya melihat Muslim, tetapi tidak ada Islam.”

Tiba-tiba saya terbawa jauh pada sosok pembawa risalah, Nabi Muhammad saw. Di hadapan beliau, banyak orang mengucapkan syahadat. Memeluk Islam tanpa paksaan. Menyatakan penyerahan diri secara total dan siap untuk mengikuti agama Islam. Penyebabnya adalah karena faktor sosok penyeru yang tidak biasa. Lelaki yang diutus ini memiliki kepribadian yang mengagumkan semua pandangan. Al-Qur’an menyifatinya, Wa innaka la’ala khuluqin ‘adzim (Sungguh engkau Muhammad memiliki akhlak yang agung).

Dengan rendah hati, sosok terpuji ini menyatakan bahwa perumpamaan dirinya dengan nabi-nabi sebelumnya laksana batu bata terakhir dalam sebuah bangunan. Alangkah indah jika batu bata terakhir itu dipasang, dan sebaliknya, bangunan yang sudah ada akan tidak sempurna tanpa batu bata terakhir itu.

“Saya diutus untuk memperbaiki akhlak manusia,” sabdanya di lain waktu. Bahwa agama adalah akhlak. Islam merupakan agama yang esensinya adalah pengadian total kepada Tuhan, dengan menjalankan amanah untuk menjadi wakil-Nya di muka bumi. Ketika Islam dihayati, maka yang terpancar dari seorang Muslim adalah sikapnya yang memberi keselamatan dan kedamaian. Membuat orang lain selamat dari bahaya lisannya, tulisannya, perilakunya, dan segenap aktivitas kemanusiaannya.

Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi memiliki peran untuk mengelola kehidupan sesuai dengan koridor yang digariskan-Nya, menuju kemaslahatan dan kebaikan hidup semesta. Menjaga kelestarian alam, menjaga relasi sesama makhluk, dan mengupayakan kedamaian di muka bumi. Keberadaan alam semesta, menurut Tafsir At-Tanwir (2016), merupakan wujud dari kasih sayang Allah. Bahwa zat yang Maha Rahman dan Rahim itu meluapkan kasih sayang-Nya dengan mencipta, sepenuh cinta. Sebab dilandasi cinta, maka ciptaan-Nya dijadikan sempurna, dipelihara, dan diperjalankan dalam sistem yang sempurna.

Pernyataan (aforisme) yang sering digaungkan, Islam itu Rahmatan lil ‘alamin. Rahmat adalah kasih sayang yang mendorong seseorang berbuat baik kepada yang dikasihinya. Allah turunkan agama sebagai pemandu manusia untuk senantiasa dalam limpahan rahmat dan mengupayakan rahmat bagi sesama. Sebuah tuturan Nabi Saw menyatakan bahwa dirinya diutus untuk menjadi rahmat, bukan menjadi pelaknat. Sebagai penebar rahmat, seorang Muslim harus punya sesuatu yang layak dibagi pada sesama. Tanpa memiliki apa-apa, tidak mungkin bisa memberi dan menebar apa-apa.

Muslim juga berarti penyerahan diri yang dilandasi cinta kepada Allah. Sikap patuh pada ketentuan-Nya, yang mengantarkan manusia meraih predikat takwa. Sebuah tingkatan kesadaran ketika manusia terjaga dari perbuatan yang bukan dalam kerangka pengabdian kepada Allah. Senantiasa dalam kebaikan dan terhindar dari perbuatan tercela dan sikap tidak selamat. Pengabdian ini dilandasi oleh hati nurani yang menyadari keagungan yang diabdi.

Muslim bertakwa melibatkan Allah dalam segenap gerak langkahnya. Jiwa muraqabah. Menghadirkan (pengawasan) Allah atau maiyyah. Sehingga manusia senantiasa dituntun untuk melakukan kebaikan, jujur, adil, bertanggung jawab. Hatta, ketika tidak ada yang melihat dan digelar kesempatan di hadapan, seorang Muslim (yang bertakwa) akan bisa menahan diri untuk menyadari hakikat dirinya sebagai makhluk yang dicipta untuk pengabdian. Tidak membawa dirinya dan orang lain menuju kecelakaan, dia akan memperlakukan sesama dengan baik serta penuh ketulusan.

Salah satu ajaran Islam adalah menebarkan salam. Berupa salam dalam artian teguran Assalamu’alaikum dan salam dalam makna menebar keselamatan. Anjuran salam menyiratkan bahwa Islam adalah agama perdamaian, keamanan, ketentraman, yang muaranya adalah keselamatan dan kebahagiaan (di dunia dan akhirat).

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-38 Jumat, 03 Agustus 2018/21 Dzulqo’dah 1439 H

Author: Muhammad Ridha Basri

ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Ridha Basri

Sehari-hari ngadem di Grha Suara Muhammadiyah


COMMENTS