Senja hari selepas selesai salat Asar pada Senin (15/5/2018) silam, sekelompok mahasiswa, muda-mudi peramai dan pemakmur masjid plus beberapa warga yang terdiri dari kaum ibu tampak khidmat berziarah di peristirahatan terakhir almarhum Haji Halim Tuasikal, salah satu tokoh pendiri masjid yang terletak di belakang kantor kelurahan Caturtunggal. Selepas menghaturkan doa, rombongan ibu-ibu memutuskan pulang terlebih dulu ke rumah. Sedangkan sisanya melanjutkan nyekar. Sasaran berikutnya adalah sepasang pusara kuno yang dekat saja letaknya dari kubur pertama. Doa serta salawat puji-pujian dipanjatkan. Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini setangkai dupa harum disulut, tak lupa taburan kembang melati disebarkan.

Seusai ziarah, para muda-mudi peramai masjid berbincang santai dengan juru kunci untuk mengulik informasi, siapa sebenarnya sosok yang jasadnya disemayamkan di dua pusara kuno itu. Mengenakan topi hitam berbalut kaos lengan panjang, bapak juru kunci menjelaskan bahwa sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui identitas ahli kubur di makam kuno itu. Hingga suatu ketika, ada seorang yang datang bercerita mengaku mendapatkan ‘pesan’. Kata seseorang itu, dalam mimpinya, ia didatangi sosok kakek nenek yang mengatakan bahwa sepasang pusara kuno itu adalah pembaringan Mbah dan Nyai Slamet, sesepuh kampung. Terdengar mistis memang. Tapi demikianlah kearifan lokal Nusantara bekerja hingga hari ini.

Selain metode ilmiah seperti penyelidikan dengan ilmu purbakala, orang Jawa memiliki cara lain untuk mendapatkan pengetahuan, yakni melalui roso atau batin. Persis seperti pengalaman seseorang tersebut yang mendapatkan ‘pesan’, wangsit atau pulung yang hanya dirasakannya sendiri. Soal kebenaran informasi itu sendiri memang masih bisa saja dipertanyakan. Namun setidaknya, apa yang diceritakan oleh seseorang itu sudah cukup memuaskan rasa penasaran warga masyarakat tentang pusara kuno tersebut.

Menjelang azan Magrib, kegiatan anjangsana ke makam leluhur beralih ke komplek pekuburan lain yang berjarak sekitar 10 menit dari area pekuburan pertama. Kali ini untaian doa dipanjatkan di hadapan makam Kyai dan Nyai Budho, serta seorang pembesar agama era Mataram Islam. Sebelum kembali ke masjid, Mas Yaser selaku Ketua Golongan Nyekar yang menginisiasi kegiatan nyadran sore itu berkenan sedikit berkisah tentang siapakah ketiga sosok tersebut. Tak lupa, beliau berbagi khazanah pengetahuan seputar ciri-ciri makam kuno dari masa kerajaan Islam.

Bagi saya pribadi, meskipun terkesan sederhana, aktivitas nyadran menjelang Ramadhan merupakan hal baru yang sarat akan nilai hikmah. Saya dibuat tersadar, bahwa selama ini ada keterikatan istimewa antara masjid sebagai inti kehidupan, masyarakat sebagai tempat manusia melaksanakan amaliah habluminannas, serta makam sebagai kediaman abadi bagi tiap-tiap insan kelak. Mengenai detil bentuk ikatan ketiganya seperti apa, akan saya coba ulas dalam dua poin besar berikut ini.

Pertama. Melalui agenda ziarah berjamaah, pada hakikatnya masjid tidak hanya memuliakan para ahli kubur, namun juga ikut memberdayakan umat yang masih dikaruniai umur panjang. Lho, sebentar, bagaimana bisa? Contoh sederhananya adalah ketika rombongan izin hendak pamit ke komplek makam berikutnya, sejumlah uang untuk sekedar makan nasi terlihat berpindah tangan ke genggaman bapak juru kunci, “Set!”, diiringi dengan senyum simpul serta ucapan terima kasih.

Dari ilustrasi kecil seperti ini, bisa diartikan kalau masjid sudah ikut serta menghargai kalangan umat yang bekerja keras merawat makam, menyiangi rerumputan liar di atas tanah liang lahat. Satu rombongan yang melakukan nyekar mungkin terasa remeh dan kelihatannya tidak memberikan dampak besar. Namun bayangkanlah bila masjid-masjid lainnya turut menggalang acara serupa menjelang Ramadhan. Nominal boleh saja tidak seberapa, tetapi rasa diperhatikan tentu bernilai penting bagi kaum kecil seperti bapak-bapak penjaga makam.

Masjid bukan hanya tempat yang diam di mana manusia dituntut bergerak ke sana setiap masuk waktu salat. Lebih dari itu, masjid melalui para peramai dan pemakmur beserta jamaahnya tidak segan mendatangi umat yang papa. Belum lagi dengan masyarakat di bidang pekerjaan lain. Simbok-simbok penjual bunga tujuh rupa misalkan, tentulah merasa terbantu juga karena dagangannya sudah dilariskan oleh hajat nyadran.

Tetapi, apakah upaya kecil dalam memberdayakan harus mesti berwujud uang? Tidak selalu. Terbentuknya jalinan silaturahmi yang akrab antara warga dengan pengurus masjid, menurut hemat saya, juga termasuk salah satu bentuk pemberdayaan umat. Menyenangkan melihat bagaimana interaksi antara ibu-ibu jamaah dari warga sekitar dengan muda-mudi pemakmur masjid. Seperti saya amati, meskipun lebih senior, ibu-ibu tidak kemudian merasa ‘tinggi’ ketika yang berusia lebih muda memimpin jalannya prosesi nyadran. Meskipun agak terlambat dari jadwal semula, para ibu tetap tertib menunggu dengan bercengkrama santai di halaman parkir masjid sembari mempersiapkan segala sesuatunya. Pula sebaliknya, yang lebih muda terlihat menghormati jamaah. Indah, bukan?

Kedua. Selama ini, kebanyakan masjid yang saya jumpai masih mencukupkan diri mengamalkan fardhu kifayah dalam urusan mengurus mayit: berita kematian diinformasikan melalui speaker, modin datang membantu memandikan, mengkafani, mensalatkan, hingga mendoakan jenazah saat dibaringkan ke liang lahat. Selesai patok nisan ditegakkan, satu persatu peziarah pulang ke rumah masing-masing, sehingga tuntas sudah tugas masjid di bidang pemakaman. Menurut saya, tanggung jawab moral masjid dan masyarakat pada ahli kubur tidak terbatas saat prosesi pemakaman saja. Sebab, umat yang sudah dipanggil terlebih dahulu ke keharibaan Allah Swt. dan jasadnya dimakamkan di sekitar masjid, sejatinya masih berhak menerima pelayanan dari jemaah. Seminimal-minimalnya lewat doa ampunan untuk mukminin-mukminat yang dipanjatkan bersama-sama saban usai salat fardu.

Syukur bila dapat disempatkan berziarah kubur agar terasa lebih. Sebab, kita tidak pernah tahu, apakah para mayit di lingkungan masjid itu rajin disambangi keluarganya? Apakah para ahli warisnya, meski secara fisik tak hadir, mendoakan ahli kubur dari nun jauh di sana? Saya pribadi percaya akan adanya hubungan beri-menerima (take and give), yaitu waktu kita mendoakan kebaikan bagi siapapun, termasuk mereka yang telah wafat sekalipun kita tidak mengenalnya, kelak amal itu akan berbalas. Bisa jadi, saat anak cucu malah khilaf terlupa mengirimkan doa, lampu penerang kubur kita nanti datangnya justru dari ucapan “Amin” seorang jemaah masjid yang kebetulan turut mengaminkan doa ampunan.

Terakhir, dengan pikiran yang terbuka, selain sebagai sarana mengingat kematian: ziarah, nyadran bisa menjadi cara meneladani budi baik tokoh-tokoh yang telah berjasa bagi penyebaran Islam di masa lampau. Bersama masyarakat, masjid kiranya perlu ambil peranan untuk merawat dan mendokumentasikan makam leluhur sebagai usaha menjaga sejarah bagi generasi mendatang.

*Buletin Masjid Jendral Sudirman, Edisi-37 Jumat, 27 Juli 2018/14 Dzulqo’dah 1439 H

Author: Fikri Disyacitta

ABOUT THE AUTHOR

Fikri Disyacitta


COMMENTS