Redaksi MJS

Sejak mendengar lagu NENEK MOYANGKU SEORANG PELAUT kala sekolah dasar, saya selalu bertanya, benarkah? Kalau nenek moyang saya pelaut kenapa kami jarang makan ikan laut? Kenapa kami tidak bisa berenang? Kenapa laut terasa begitu “jauh”? Padahal Pantai Utara hanya berjarak 37 km dari kota saya; Laut Selatan berjarak 120 km saja. Kami mendatangi laut hanya untuk piknik 1-2 kali saja dalam seumur hidup. Hingga usia saya seperempat abad, saya tidak percaya bahwa nenek moyang saya seorang pelaut, sebab mereka tidak mewariskan apa pun terkait laut: artefak, dongeng, mitos, kapal.

Mempertanyakan diri sendiri sangat penting dalam membangun identitas. Bagaimana anak bangsa ini bisa turut menyukseskan pembangunan maritim jika sebagian besar rakyatnya “jauh” dari laut?

Nenek moyang orang Sunda adalah peladang yang hidup di bukit, lereng gunung, hutan, dan pinggir-pinggir sungai. Rekaman tentang kehidupan leluhur kami masih bisa dijumpai di kehidupan modern kini, antara lain Baduy dan Kampung Naga. Suku dan atau kampung lain yang bukan pelaut di Nusantara ini banyak, seperti Nias, Talang Mamak, Suku Anak Dalam, Batak, Minang, Kalang, Oesing, Bali Aga, Bena, Dayak, Toraja, dan banyak lagi. Bisa puluhan hingga ratusan. Bahkan suku-suku yang hidup di pesisir, mereka ada yang bukan pelaut. Mereka nelayan pesisir yang mengais nafkah di hutan dan di perairan dangkal, bukan melaut lepas, seperti Suku Kamoro dan Asmat di Papua.

Nenek moyang saya bukan pelaut, tapi karena saya menjadi bagian dari bangsa yang memiliki laut yang luas, maka saya belajar tentang kehidupan masyarakat pesisir, belajar berenang, belajar menyelam, belajar berlayar, dan yang tak pernah putus membaca berbagai hal tentang laut—tentu saja dari perspektif sosial-budaya (ditambah sedikit ekonomi) sesuai latar belakang keilmuan saya.

Barangkali seperti banyak pembaca lainya, saya sempat berdecak kagum membaca buku karya Robert Dick-Read tentang jejak para penjelajah Nusantara di Afrika. Robert Dick-Read mencium jejak penjelajah Nusantara di Afrika pertama kali pada tahun 1957 ketika mendengar bagaimana orang Madagaskar fasih berbicara bahasa Austronesia. Sejak itu, ia mulai mencari bukti-bukti untuk memperkuat asumsi dan hipotesanya tentang pengaruh Nusantara di Afrika, antara lain melalui teknologi pembuatan kapal, alat musik, bahan makanan, budaya, dan bahasa Bangsa Zanj yang diduga sebagai ras Afro-Indonesia.

Salah satu hipotesa yang dibangun oleh Dick-Read adalah mengenai kehebatan pelaut Nusantara, bahwa antara abad ke-5 dan ke-7 Masehi, kapal-kapal Nusantara banyak mendominasi pelayaran dagang di Asia. Pada waktu itu perdagangan bangsa Tiongkok banyak bergantung pada jasa para pelaut Nusantara. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa perkapalan Tiongkok ternyata banyak mengadopsi teknologi dari Nusantara. Bahkan kapal Jung yang banyak dipakai orang Cina ternyata dipelajari dari pelaut Nusantara (Dick-Read, 2008).

Berbicara tentang sejarah, seperti yang dikatakan Denys Lombard, tidak bisa mengabaikan faktor geografis (Lombard, 2005). Nusantara (Indonesia) terdiri dari sedikitnya 17.500 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km dan luas laut sekitar 3,1 juta km², berada di antara 2 benua yaitu Asia dan Australia, terletak di antara Samudera Hindia dan Pasifik, serta berlimpah sumberdaya alamnya.

Bukti-bukti arkeologis, berupa alat-alat neolitik, wadah tanah liat, dan perhiasan yang tersebar di Asia Tenggara Daratan dan Nusantara menunjukkan bahwa Nusantara adalah ruang terbuka yang sudah didatangi, disinggahi, ditinggali sejak setidaknya 3.500 tahun lalu oleh orang-orang penutur rumpun bahasa Austronesia. Untuk mendukung pergerakan mereka di laut, baik jarak dekat maupun jauh, tentu saja dibutuhkan sarana angkutan laut yang memadai. Terlebih ketika jalur-jalur perdagangan antar benua, antar bangsa, dan antar pulau telah terbuka dan berkembang, maka keberadaan alat transportasi laut ini menjadi mutlak.

Seiring dengan terbukanya jalur-jalur perdagangan antara Nusantara dan pusat-pusat peradaban di Asia Timur, Asia Tengah, Asia Selatan, dan Afrika, kerajaan-kerajaan maritim di Nusantara pun bertumbuhan. Kerajaan-kerajaan maritim itu antara lain:

(1) Pali atau Poli di Sumatra Utara yang berpusat di daerah sekitar Sungai Pasi (Peusangan) dan Sungai Aceh; (2) Minangkabau di Sumatra Barat sampai daerah Riau di kawasan Sungai Rokan, Siak, Kampar, dan Batang Kuantan; (3) Melayu Jambi di Batang Hari dan Batang Tembesi; (4) Melayu Palembang di Sungai Musi; (5) Srivijaya yang meliputi daerah pantai Sumatra Timur dan Sumatra Utara, Semenanjung Malaya, Kepulauan Nukobar, dan Kepulauan Andaman; (6) Taruma dan Sunda di Jawa bagian barat; (7) Banjar Mahasin (Banjarmasin) di Kalimantan bagian selatan; (8) Kutai di Kalimantan Timur; (9) Sambas di Kalimantan bagian barat di sekitar lembah Sungai Sambas sampai Sungai Kapuas; (10) Serawak dan Borneo di Kalimantan bagian utara; (11) Makassar dan Bugis di Sulawesi bagian selatan; serta (12) kerajaan-kerajaan di Kepulauan Maluku dan Kepulauan Timor yang dikenal sebagai penghasil rempah-rampah terbesar di seluruh dunia.

Tak hanya sampai di sana, beberapa abad kemudian kerajaan-kerajaan kecil banyak yang tumbuh menelusup hingga ke arah muara sungai-sungai besar di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Selain kerajaan-kerajaan martim Nusantara yang tercatat dalam sejarah dan tutur, kita juga memiliki komunitas-komunitas yang merdeka yang bebas berpindah ke mana pun angin membawa, seperti Suku Bajo. Mereka hidup dari laut dan rumah mereka berada di kapal yang mengapung di lautan. Laut adalah halaman mereka. Saya menemukan persebaran suku ini hingga ke Davao, Philippine. Tak ada yang meragukan kehandalan Suku Bajo dalam teknik pelayaran. Tak ada yang bisa menyamai mereka dalam berlayar, bermanuver, serta kemampuan dalam air. Bagi mereka, berada di lautan mencerminkan kebebasan dirinya untuk hidup. Laut baginya adalah rumah serta tempat hidup yang seharusnya. Begitulah napas yang bisa saya rasakan ketika bergaul dengan mereka di pesisir dan laut.

Apa yang ditulis Denis Lombard dan Robert Dick-Read menggambarkan nenek moyang kita yang pelaut. Namun, fakta bahwa leluhur kita yang lain juga (secara statistik mayoritas) peladang/petani, mestinya diakui secara jujur. Selain lagu NENEK MOYANGKU SEORANG PELAUT, sejatinya kita juga mencipta lagu NENEK MOYANGKU SEORANG PELADANG.

Menciptakan lagu ini tidak untuk bersaing, tetapi untuk sama-sama memprioritaskan. Soeharto pernah terlalu perhatian pada petani dengan Program Nasional Swasembada Pangan, ternyata gagal: lingkungan rusak, sementara pesisir menjadi kantong-kantong kemiskinan karena kurang diperhatikan. Sekarang Jokowi memprioritaskan maritim dengan Program Nasional Nawacita dan Poros Maritim, semoga tidak gagal.

Leluhur saya yang ber-ras Mongolid penutur Austronesia adalah suku peladang. Mereka bisa datang menyeberangi lautan menempati pulau-pulau Nusantara bukan berarti mereka pelaut. Mereka datang karena bantuan suku-suku laut. Jika mereka pelaut, mengapa tidak tinggal di pesisir? Mereka justru memilih hidup dan berkembang di pedalaman. Dahulu, suku-suku laut dan suku-suku peladang di Nusantara saling bekerjasama.

Di beberapa tempat, berladang dan melaut bahkan menjadi pekerjaan yang saling melengkapi menyesuaikan musim, seperti di Sumbawa, Simeulue, dan beberapa tempat lain yang pernah saya teliti. Ini kiranya yang perlu diperhatikan pemerintah era sekarang, bahwa program kemaritiman jangan sampai menganaktirikan mayoritas peladang/petani. Pembangunan mesti seimbang. Interrelasi petani dan pelaut (nelayan) mestinya menjadi fokus pembangunan. Namun sebelum semua itu dilakukan, menyadari bahwa leluhur kita adalah pelaut dan peladang adalah penting, karena identitas adalah dasar menentukan jalan menggapai mimpi.

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-35, Jumat 13 Juli 2018/29 Syawal 1439 H

Author: Redaksi MJS

ABOUT THE AUTHOR

Redaksi MJS

Menuju Masjid Membudayakan Sujud


COMMENTS