Begitu cepatnya waktu berlalu, tamu agung sudah memasuki malam-malam terakhir Ramadhan. Sekian hari Ramadhan telah datang menghampiri, mengetuk pintu kehidupan kita. Mengajak siapapun untuk bertambah mulia dan bertambah takwa. Ada yang abai, ada pula yang menyiapkan persuaan dengan baik bahkan telah jauh-jauh hari.

Bertemu dengan bulan Ramadhan adalah sebuah kerinduan. Kesempatan bertemu dengan bulan Ramadhan adalah harapan, karena tidak semua orang akan menjumpai Ramadhan tahun ini. Selain itu bulan Ramadhan menjadi sebuah momen yang bukan hanya agung dalam perspektif agama, melainkan juga luhur dalam konteks sejarah berbangsa. Sebagaimana tercatat sejarah, 73 tahun lalu bangsa ini membebaskan diri dari belenggu penjajahan kolonial, tepat ketika melaksanakan puasa Ramadhan.

Laparnya kita saat berpuasa adalah sebuah keniscayaan. “Kelaparan adalah burung gagak yang licik dan hitam”, tulis WS. Rendra dalam puisi Doa Orang Lapar (1995). Lapar di situ bukan hanya diartikan secara biologis, namun juga psikologis. Tentu lapar secara biologis dapat diatasi dengan makan, namun ketika lapar psikologis yang berkaitan dengan keinginan/hasrat seseorang, guna menuntasannya dengan jalan kehambaan, bahwa Allah Swt telah menghadiahi kita puasa. Sebab Allah Swt sendiri yang akan menilainya. (Acep Iwan Saidi, 2014).

Mari kita tengok sikap kita pada bulan Ramadhan. Sikap kita terhadap bulan Ramadhan terkadang bercabang dua yang saling bertentangan. Ramadhan diagungkan dan dimuliakan, di sisi lain digiring jadi bulan “aji mumpung”. Ramadhan seolah jadi satu-satunya ruang dan waktu untuk menguras seluruh kemampuan dan kesediaan beribadah. Kita bertadarus, beramai-ramai memenuhi masjid melaksanakan salat terawih, bersedekah, dan seterusnya. Dengan kata lain, Ramadhan dijadikan kesempatan mengejar pahala sebanyak-banyaknya, semacam ”aji mumpung” dalam beribadah. “Mumpung Ramadhan sekarang kita masih hidup, siapa tahu tahun depan tak bisa bertemu lagi dengan Ramadhan.” Ungkapan tersebut terkadang bolak-balik kita dengar dari para penjeramah.

Sepintas tak ada masalah dengan hal demikian itu. Masalahnya kemudian, tak banyak mungkin yang melakukan refleksi dan kontemplasi bahwa hal itu ternyata membentuk pribadi dalam beribadah menjadi pamrih: karena pahala, karena surga. Kita memahami firman Tuhan melalui sabda Rasulullah Saw bahwa, “Puasa adalah satu-satunya ibadah untuk Allah Swt” (HR. Bukhari-Muslim). Sabda ini jelas mengirim pesan bahwa puasa adalah ibadah yang meminta totalitas keikhlasan. Namun, faktanya pemahaman tersebut belum sepenuhnya diamalkan. Ibadah puasa dilaksanakan untuk diri sendiri. Kita beribadah semata-mata mengejar pahala tinggi yang dijanjikan Allah Swt. Setelah Ramadhan usai, kita pun kembali pada jalan peribadahan sediakala, masjid kembali sunyi, sepi.

Bila demikian itu keadaannya, Ramadhan menjadi semacam “panggung pertunjukkan ibadah”. Sedang Lebaran adalah layar yang menutupnya, tanda bagi selesainya pementasan. Kita tak pernah lagi berpikir bahwa puasa yang terberat sesungguhnya dimulai setelah Lebaran. Bukankah di bulan lain Allah Swt tidak menjanjikan pahala ibadah setinggi pahala di bulan Ramadhan? Namun kita memang sukar untuk sampai beribadah dengan ikhlas. Akibatnya, ibadah puasa yang ”aji mumpung” itu hanya mampu menahan lapar biologis, belum sampai pada usaha mengendalikan hasrat, nafsu, sehingga dapat menjadi manusia dengan mentalitas lapar yang spikologis plus spiritual.

Iman dan akal sehat

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah [2]: 183). Ayat tersebut begitu familiar, sering lalu-lalang di atas mimbar-mimbar masjid. Namun sepanjang pengamatan penulis masih jarang pembahasan yang menyentuh inti pokok. Dengan kata lain, hikmah dari ayat tersebut belum tergali secara mendalam. Lantas apa sesungguhnya esensi dari puasa?

Pertama, “Hai orang-orang yang beriman”, secara khusus Allah memanggil. Artinya jika tak beriman tak usah berpuasa. Sebab jika beriman, maka puasa tak sekadar hanya penggugur kewajiban, yang pastinya tak beresensi. Kedua, “… agar kamu bertakwa”. Tentu saja ketika berbicara tentang takwa hanya akan sia-sia jika tak ada iman dalam kalbu. Iman berdampak pada ketakwaan yang terkait erat dengan pengetahuan. Suatu pemahaman atas suatu masalah menyebabkan kita menjadi yakin. Itulah iman.

Seseorang tak akan yakin jika tidak memiliki pengetahuan atas suatu hal dan tetap tidak akan memiliki pengetahuan tentang hal itu bila tidak mempelajarinya. Di sinilah fungsi akal. Orang berakal mesti menggunakan kecerdasannya untuk belajar, yang kemudian membuat kita paham dan yakin, lantas dari sana memunculkan komitmen untuk bersungguh-sungguh berpuasa dengan mengetahui segala seluk-beluknya, maka menimbulkan yakin bahwa puasa itu bermanfaat. Meminjam kata Agus Mustofa, penulis buku-buku Serial Diskusi Tasawuf Modern, bahwa proses keimanan itu bukan sekadar ikut-ikutan.

Tentu saja tak ada kata terlambat untuk memperbaiki kualitas puasa kita. Tinggal mantapkan niat. Rasulullah Saw sendiri mengajarkan kepada kita bahwa kualitas setiap amalan yang dilakukan bergantung pada kualitas niat: Innamal a’malu binniyat. Niatnya bagus, kualitas amalnya bagus. Niatnya buruk, kualitas amalnya ikut buruk. Kita juga perlu meniatkan secara sungguh-sungguh puasa kita untuk tujuan ketakwaan, yakni kemampuan “mengontrol diri”. Niat yang kuat untuk menata perilaku lewat puasa akan menghasilkan pengaruh yang signifikan bagi akhlak kita, dibandingkan dengan yang berpuasa hanya karena terbawa arus suasana Ramadhan yang terjadi disekitarnya.

Sebagai tambahan, mengapa puasa dianggap istimewa? Puasa dan ibadah lain seumpama Masjidil Haram yang secara langsung diberi gelar “Rumah—milik—Allah” (Baitullah), padahal semua permukaan bumi ini sebenarnya milik-Nya pula. Ada dua variabel maknawi yang hanya dimiliki ibadah puasa. Pertama, di dalam puasa ada rahasia (sirr) yang tak terdapat di ibadah lainnya yang bisa terlihat. Seluruh amal ketaatan bisa tersaksikan oleh makhluk hidup ciptaan-Nya dan terlihat, namun tidak dengan puasa. Hanya Allah semata yang bisa melihatnya. Kedua, puasa itu pengekang setan yang menggoda manusia melalui syahwat. Pada pertarungan antara syahwat dan kesungguhan untuk berpuasa karena Allah yang menjadikan puasa menjadi bernilai. (Ngaji Filsafat edisi ke-156 tentang Puasa-Ghazali [24/5]).

Sebagai akhir, maka sebenarnya untuk siapakah puasa kita? Untuk Allah Swt-kah? Atau untuk diri kita sendiri? Kalau untuk Allah Swt, apakah Allah Swt memang membutuhkan ibadah kita? Jika ibadah kita untuk diri sendiri, lantas dimana posisi Allah Swt dalam hakikat peribadahan kita? Jangan-jangan ibadah yang kita lakukan demikian itu, berubah menjadi praktek menyembah dan mempertuhankan diri kita sendiri? Semoga tidak.

Author: M Taufiq Al Hidayah

ABOUT THE AUTHOR

M Taufiq Al Hidayah


COMMENTS