Tiba-tiba ada yang menggoyang-goyangkan tubuhku dan berkata, “Eehh… bangun… bangun… sahur… sahur… bentar lagi imsak!” Ternyata ibuku yang membangunkanku. Aku tengok jam masih menunjukkan pukul 03.30 pagi hari, berarti masih ada waktu makan sahur sebelum menginjak waktu imsak. Begitu setiap hari berulang selama bulan Ramadhan. Iya, kadang malas sekali rasanya mau bangun sendiri, jadi menunggu-manja dibangunkan dan disiapkan makan sekaligus. Ibuku juga membagunkan ketiga adikku yang berada di kamar sebelah.

Orang tuaku sebenarnya memiliki lima orang anak, namun anak pertama telah berkeluarga, dan setiap tahun kakakku selalu pulang ke Jawa karena istri dan anaknya berada di sana. Setelah Lebaran usai kakakku akan kembali lagi ke Berau untuk bekerja dan tinggal bersama orang tua dan adik-adiknya yang menetap di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Begitu setiap tahunnya yang terjadi setelah kakakku menikah, berlebaran dengan keluarganya di Jawa dan kembali lagi nanti setelah Lebaran untuk bekerja lagi ke Kalimantan Timur.

Ramadhan menjadi bulan yang sangat ku tunggu-tunggu, khususnya yang artinya mudik tidak lama lagi. Maklum anak perantauan. Meski suasana dan bulan Ramadhan selalu berulang selama matahari masih beredar, namun ada cerita berkesan yang berbeda pada setiap tahunnya. Misalnya saja, tahun 2013 lalu aku berpuasa dan bahkan berhari raya di Banjarmasin. Tahun 2014 di Berau dan tahun ini 2015 dan 2016 aku diberi kesempatan merasakan bagaimana bulan Ramadhan di kota Gudeg, Yogyakarta. Tahun setelahnya berlebaran di tanah kelahirkan kembali, seru bukan?

Tiap kali datang Ramadhan, yang banyak aku ingat tentu waktu kecil dulu saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku dan teman-teman sebaya tampak semangat pergi ke masjid untuk salat tarawih. Waktu kecil dulu, buka bersama di masjid di dekat kampungku, belum seramai seperti sekarang ini. Anak-anak masih buka puasa di rumah masing-masing. Sembari menunggu waktu berbuka, biasanya aku duduk dekat jendela yang terdapat di ruang makan bagian belakang rumahku sambil menatap keluar. Terbayang terus sampai sekarang bahkan.

Dari jendela itu aku bisa menatap langsung sebuah masjid. Setelah suara azan Magrib berkumandang, aku menutup jendela dan bergegas berbuka. Masjid Jabbal Nur namanya. Sebenarnya bukan di atas gunung tetapi karena letaknya di atas permukaan tanah yang lebih tinggi diantara bangunan-bangunan lain disekitarnya, jadi kami menyebut itu gunung, sebab di Kalimantan tak ada gunung seperti banyak di pulau Jawa ini. Jika ingin naik ke masjid, kita harus melewati beberapa anak tangga terlebih dahulu yang terletak di sisi depan dan samping masjid dan kemudian melewati halaman masjid yang tidak begitu luas. Mungkin karena alasan itu para pengurus masjid itu memberi nama Masjid Jabbal Nur (Cahaya Gunung), karena letaknya yang di atas gunung tadi.

Masjid Jabbal Nur jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, hanya berselang lima rumah saja. Masjid cukup jelas terlihat dari atas jendela rumahku, karena memang letak masjid itu lebih tinggi. Di kompleks masjid itu juga berdiri Pondok Pesantren Hidayatullah Al-Ihsan, tempatku bersekolah. Selain bangunan masjid dan pondok, berdiri pula bangunan sekolah dari tingkat TK-MI-SMP dan SMA, TPQ, kantor Yayasan, Guest House, dapur umum dan asrama para santri. Penduduk sekitar tempat tinggalku mayoritas bersuku Jawa beragama Islam dan hanya beberapa orang saja yang beragama Nasrani.

Aku dan teman-teman sebayaku rajin pergi ke masjid untuk salat tarawih, meski ada niatan lain: bermain dan mengisi buku tugas Ramadhan.

Salat subuh berjamaah selalu kami usahakan, meskipun dalam keadaan terkantuk-kantuk. Setiap Ramadhan, aku selalu bergembira menyambutnya, tak ingin mensia-siakannya meski hanya satu malam. Takut kalau-kalau Ramadhan tahun ini adalah yang terakhir. Setelah salat Subuh di masjid biasanya aku dan teman-teman pergi jalan-jalan menyusuri perkampungan dengan sepeda atau berjalan kaki untuk menikmati suasana pagi. Karena dulu zamanku sekolah dasar ketika Ramadhan datang, sekolah libur, full selama satu bulan hingga lebaran usai.

Setiap pulang tarawih aku masih ingat berdiri di anak tangga tertinggi pada masjid itu sambil menatap bulan dan dalam hatiku berharap, “Ya Allah, pertemukanlah aku dengan Ramadhan tahun berikutnya”, begitu seringnya pada tiap malam dan pada tahun-tahun berikutnya hingga masuk sekolah Aliyah. Barangkali kenangan itu yang membuat Ramadhan yang selalu kurindukan.

Ketika aku telah di kuliah IAIN Antasari Banjarmasin, menjelang Ramadhan biasanya teman-teman yang ada di rumah menanyakan begini, “Kapan Mbak Husnul pulang, ayo kita pergi terawih?” Kalau ingat itu sekarang di sini, kadang jadi baper (kebawa perasaan). Mungkin itu juga yang jadi salah satu hal lain yang membuatku rindu ingin pulang dan Ramadhan berada di rumah, selain merasakan masakan ibu tentunya.

Meskipun kuliah di Banjarmasin, setiap tahun aku selalu mengusahakan untuk pulang ke Berau ketika bulan Ramadhan hingga hari raya. Namun, berbeda ketika telah memasuki liburan semester enam, tepatnya bulan Ramadhan tahun 2013. Aku meniatkan diri tidak pulang untuk berramadhan dan berlebaran di rumah tahun itu. Aku ingin fokus mengerjakan proposal skripsiku dan aku pikir jika aku pulang waktuku hanya sebentar berada di rumah karena semester tujuh nanti seminggu setelah Lebaran aku akan berangkat untuk KKN selama dua bulan dan itu membutuhkan persiapan. Selain itu, kadang berat diongkos sih.

Bayangkan saja, kalau lewat jalur udara, harga tiket pesawat ketika libur tujuan Banjarmasin-Berau bisa mencapai satu juta rupiah lebih. Kalau mau lewat jalur darat, memakan waktu dua hari tiga malam baru sampai rumah, itu sangat melelahkan. Biaya perjalanan darat, tiket bis ketika itu tujuan Banjarmasin-Samarinda Rp. 150.000. Kemudian naik travel dari Samarinda-Berau Rp. 350.000.

Memang lebih hemat lewat jalur darat, namun bagi yang tidak tahan di dalam mobil selama tiga hari dua malam perjalanan, jangan coba-coba! Tapi boleh juga. Di tambah lagi kondisi jalan yang sangat jelek berbatu, jurang dan melewati hutan-hutan yang lebat bahkan tidak ada rumah penduduk. Saat musim hujan tiba jalanan menjadi becek dan rawan longsor. Kalau sudah begitu mobil bisa terjebak berhari-hari di hutan. Belum lagi ancaman perampok dan cerita-cerita seram yang dialami para supir travel tujuan Samarinda-Berau. Butuh semacam perjuangan dan pengorbanan, bukan hanya biaya, tetapi juga tenaga dan waktu ketika akan pulang. Namun, pada akhirnya aku tetap nekat pulang juga, terutama melihat ibuku sendirian mengerjakan segala macam di rumah tidak ada yang membantu, lebih-lebih persiapan menjelang Lebaran.

Puasa di Banjarmasin sudah biasa bagiku. Salat tarawihnya pun tidak berbeda dengan di Berau. Ketika berada di Berau dan Banjarmasin salat tarawih sering berpindah dari satu masjid ke masjid lainnya. Ketika di Yogyakarta pun, sama begitu. Namun suasananya saja yang berbeda. Tapi itulah, jauh dari rumah saat Ramadhan sering membawa-bayangan waktu kecil dan ketika berada di rumah. Namun lebih dari itu, syukur alhamdulillah masih diberikan umur untuk bertemu dengan Ramadhan tahun sekarang. Semoga tahun ini diberikan kesempatan lagi untuk merasakan manisnya bulan Ramadhan kembali.

Author: Khusnul El-Syarif

ABOUT THE AUTHOR

Khusnul El-Syarif


COMMENTS