Urip mung mampir ngombe. Hidup itu cuma mampir sebentar, sekedar untuk minum seteguk air. Begitu kira-kira terjemah bebasnya.

Menurut KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), falsafah itu dibuat oleh para leluhur kita berdasarkan pengalaman hidup keseharian masa lalu. Dulu, para leluhur selalu membuat sumur di depan rumah. Keduanya, rumah dan sumur, hanya dijaraki oleh dua hingga tiga meter ruang terbuka yang sepi dari segala bangunan dan difungsikan sebagai lapangan mini.

Biasanya ada gentong yang diletakkan tepat di atas atau di samping mulut sumur itu. Supaya air sumur mudah diraih, dipakai, dan bahkan langsung diminum tak hanya oleh si empunya rumah, tapi juga oleh siapa saja yang lewat di depan rumah tersebut. Dengan kata lain, siapa saja diperbolehkan untuk meneguk air dari gentong. Sebagaimana ia boleh langsung menimba air dari sumur itu.

Peristiwa itulah yang kemudian menjadi model atau ibarat bagi kehidupan manusia: urip mung mampir ngombe. Kata “mampir” berarti bahwa hidup memang sekedar mampir atau singgah. Mampir berarti bahwa tempat yang dihampiri bukanlah milik pemampir. Karena itu, mampir tak bisa dilakukan sebebas-bebasnya. Si empunya rumah yang menyuguhi air untuk diteguk dan yang menyilakan untuk sebentar duduk, harus dihormati. Setelah itu, si pemampir harus cepat pulang. Tak baik mampir lama-lama. Namanya juga mampir.

Selagi mampir itupun, tentu si pemampir hanya punya hak untuk minum air barang seteguk. Tak lebih. Pemampir harus malu untuk minum segentong. Karena memang itu bukan air miliknya, sekalipun si empunya rumah membolehkannya berlaku demikian. Bila saja saat sepemampiran itu ia disuguhi aneka makanan, ia harus tahu diri bahwa haknya hanya ngombe. Ngombe itu pasti ngombe (minum). Bukan mangan (makan). Ya, sekali lagi, namanya juga mampir.

Kini falsafah itu masih sering terdengar. Biasanya ia dijadikan grafiti atau coretan dinding di jalanan. Tak jarang pula ia menjadi bahan guyonan masyarakat. Anak-anak muda sering memelesetkannya menjadi semacam pembenaran atas tindakan bermabuk-mabukan.

Pernah saya dengar beberapa kawan menambahi, bahwa hidup itu tak hanya mampir ngombe, tapi juga mampir nangkring. Bolehlah. Saya tahu ia hanya bercanda. Asal jangan menghina. Di zaman ini, zaman modern, banyak orang yang tanpa sadar menghina ajaran luhur tradisi. Padahal, tanpa mereka tahu, ajaran luhur itulah yang menjaga keutuhan bangsa sepanjang masa.

Memang, falsafah urip mung mampir ngombe itu berlakunya di zaman dulu. Tapi, seperti disebut di atas, di masa kini ia juga masih berlaku. Hanya saja ia harus mengalami sedikit adaptasi. Soalnya kehidupan ini saat ini telah merongsok serongsok-rongsoknya. Zamannya sudah rusak. Zaman edan, kata Radeng Ngabehi Ronggowarsito. Sehingga hidup tak bisa lagi hanya sekedar mampir untuk ngombe, tapi untuk pasa (puasa). Urip mung mampir pasa. Hidup itu cuma mampir berpuasa. Mengapa?

Polusi kehidupan

Pada masa lalu, di masa saat leluhur kita masih sugeng, dunia tak terlalu terlihat kerusakannya. Sistem kehidupan masih berjalan di atas rel harmoni. Manusianya belum tamak, belum materialis, dan belum rusak akhlaknya kayak sekarang. Manusia, alam semesta, dan segala tata-tertib semesta masih saling bersinggungan dalam keselarasan nada dan keseimbangan. Dalam bahasa ilmiah, dunia atau kehidupan saat itu belum mengalami anomali, yaitu semacam kerusakan beberapa elemen sistem yang menyebabkan sistem tersebut tak berjalan semestinya.

Berbeda dengan zaman sekarang, semuanya serba sudah rusak. Sudah mengalami anomali. Polusi udara kini telah melingkungi alam raya. Banyaknya pengendara sepeda motor, pengontel, dan para pejalan kaki di kota besar seperti Jakarta yang memakai masker untuk menjaga keamanan napasnya, menjadi bukti bahwa kehidupan kita ini sudah terlalu akrab dengan polusi.

Udara yang kita hirup telah tak segar lagi. Paru-paru kita bisa rusak bila menghidupnya setiap hari. Berhektar-hektar tanah-sawah anak bangsa “hilang” berganti dengan sentra hiburan dan gedung perbelanjaan maharaksasa yang ternyata cukup berperan dalam menjadikan kota sebagai pusat kemacetan. Dalam kemacetan itu, jangan ditanya berapa kubik polusi udara yang masuk ke paru-paru kita tanpa terasa.

Kata kunci untuk mengakui kerusakan kehidupan itu adalah polusi. “Polusi” di sini, selain memang menunjuk pada pengertian wujudnya sebagai polusi, juga merangkap pengertian simbolik, yaitu “polusi” sebagai kata yang menggambarkan kehidupan yang kian hari kian remuk. “Polusi” bisa berarti perilaku dan tindak-tanduk korup, budaya menyantap rezeki haram atau syubhat (meragukan), dan tradisi saling sikat-sikut dengan penghalalan segala cara. “Polusi” kehidupan telah menyerbu semua lini kehidupan manusia. Pejabat dan rakyat sama-sama kena polusi.

Puasa merupakan teguran dari Allah Swt bahwa hidup itu sejatinya tak lagi untuk mampir ngombe atau minum seteguk air. Melalui puasa, Gusti Allah mengajarkan bahwa hidup itu untuk mampir berpuasa.

Puasa adalah cara terbaik untuk melawan “polusi” atau kerusakan peradaban ini. Urip mung mampir ngombe sudah tidak mungkin lagi dipakai sebagai sikap untuk menghadapi remuknya kehidupan manusia. Ngombe di abad penuh kecurangan dan era sarat korupsi ini merupakan tindakan ikut diri ke dalam kecurangan dan korupsi tanpa disadari. Ngombe di zaman sampah ini, walau seteguk, akan merusak kemurnian darah keturunan si pengombe. Sekalipun ia rutin berdoa untuk selalu diberikan keturunan yang soleh, baik, dan berbakti. Ngombe di abad kalabendhu ini, walau secimit, akan menyebabkan manusia terperosok ke dalam jurang penuh mayat yang sudah berbau busuk.

Jadi, urip mung mampir pasa. Hidup itu hanya mampir sebentar sambil berpuasa. Puasa artinya menahan, mencegah, dan menghalau diri untuk tak ikut-ikutan rusak, untuk tak tergolong ke dalam kelompok pecandu kecurangan, dan untuk tak terdata di dalam daftar orang-orang yang dimurkai Tuhan.

Pasa atau puasa artinya sumpah untuk tak akan makan atau menyantap kue kehidupan yang sudah rusak. Saat ada orang rusak yang sudah punya “rumah mapan” di dunia ini mengajak mampir untuk sekedar ngombe-ngombe di rumahnya, ahli puasa harus berani bilang: “Saya sedang ‘berpuasa’ atau sedang menahan diri untuk tidak ngombe di dunia yang sudah rusak ini.”

Urip mung mampir pasa, dudu mung mampir ngombe. Hidup itu ya cuma mampir untuk berpuasa, bukan untuk minum-minum.

Wallahu a’lam bil-urip mung mampir pasa.

 

Author: Muhammad Yaser Arafat

ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Yaser Arafat

Peneliti kebudayaan, aktif di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta.


COMMENTS