Salah satu cara orang tua untuk mendidik anak berpuasa adalah dengan menjanjikan sesuatu yang berbau materi. Misalnya dengan memberikan iming-iming berupa hadiah kesukaan atau uang agar anak mau berpuasa sehari penuh. Cara seperti itu lazim terjadi, tapi tentunya bukan maksud untuk “menyogok” si anak agar supaya menjalankan puasa dengan dasar janji yang kadung kita ucapkan. Lalu, apakah dengan cara “menyogok” anak untuk berpuasa, sekalipun itu hanya dalih untuk mengajarkannya berpuasa, dapat diboleh-benarkan?

Sebetulnya saya menulis artikel ini dan pokok yang dibicarakan, terinspirasi dari video yang diunggah oleh Mbak Najeela Shihab di akun Facebooknya pada tanggal 29 Mei 2017 lalu. Mbak Najeela berdiskusi dengan ayahnya, Pak Quraish Shibab, perihal boleh atau tidaknya “menyogok” anak untuk mengajarkannya berpuasa.

Menyogok, menyuap, atau dalam bahasa kerennya gratifikasi adalah persoalan yang pelik. Hasan Al-Bashri, ulama dan cendekiawan muslim yang hidup pada masa kekhalifahan Umayyah pernah berkata, “Apabila sogok-menyogok telah masuk dari suatu pintu, maka amanah akan keluar lewat jendela.

Adapun menyogok dalam konteks tulisan ini adalah memberikan sesuatu dalam bentuk materi sehingga anak terdorong berpuasa hanya untuk mendapatkan materi yang dijanjikan oleh orang tua. Bukan karena dorongan bahwa puasa itu adalah perintah Allah. Kata Pak Quraish, hal itulah yang harus dihindari karena perbuatan tersebut merupakan sesuatu yang tidak wajar. Ibadah puasa adalah bukti keikhlasan kepada Tuhan, tujuannya bukan menuntut materi. Kemudian, beliau mengatakan bahwa membiasakan anak untuk berpuasa karena Allah itu baik. Kalau perlu, dilatih berpuasa setengah hari dulu, selama itu dilakukan dengan ikhlas. Yang terpenting coba ajarkan, bukan dijanjikan sesuatu dan belajar ikhlas.

Lain dengan anak yang telah akil baliq. Tentunya orang yang berpuasa dengan ikhlas akan menemukan kenikmatan tersendiri. Dalam agama, ada dua kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang berpuasa. Pertama, kenikmatan ketika berbuka. Kedua, kenikmatan saat bertemu dengan Tuhan. Mengapa kenikmatan-kenikmatan tersebut bisa dirasakan orang yang berpuasa? Karena orang yang berpuasa telah berhasil mengendalikan diri dan hawa nafsunya sendiri.

Pada kesempatan Ngaji Filsafat sesi ke-156 yang membahas Puasa dari Al-Ghazali, Pak Faiz menyampaikan bahwa, “Posisi ibadah puasa adalah seperempat bagian dari iman. Hal ini merupakan kesimpulan dari dua sabda Rasulullah saw. yang pertama berbunyi الصوم نصف الصبر puasa merupakan setengah dari kesabaran. Dan hadis kedua berbunyai الصبر نصف الإيمان sabar adalah setengah dari iman.”

Dua hadis tersebut, lanjut Pak Faiz, sebenarnya tidaklah hanya menunjukkan bagian puasa dalam iman, tetapi juga menghubungkan puasa, kesabaran dan iman. Sabar adalah inti dari puasa. Kesabaran dalam menahan segala larangan dhahiriah yang dapat membatalkan puasa, dan larangan batiniyah yang mengurangi makna puasa. Keduanya merupakan ujian yang berat. Sekaligus juga merupakan barometer kualitas keimanan seseorang.

Kembali pada puasa anak. Apabila kita melihat dari dua macam kenikmatan tersebut, kita akan memahami bahwa anak yang berpuasa karena sogokan, jauh dari bagaimana merasakan kenikmatan berbuka. Meskipun anak mendapatkan kenikmatan, tetapi hanya sebatas kenikmatan materi semata sesuai dengan hadiah atau sogokan yang telah dijanjikan orang tuanya.

Menyogok tentunya bukan contoh yang baik, boleh atau benar. Praktik menyogok, selain merupakan suatu perbuatan yang buruk (dosa), juga bertentangan dengan hakikat dan tujuan puasa itu sendiri. Hakikat dan tujuan berpuasa tidak lain adalah mendidik dan mengendalikan diri sendiri, di mana puncaknya adalah ikhlas hanya karena Allah.

Pada sisi paling utama dari puasa adalah satu-satunya ibadah untuk-Ku, Allah Swt. Diterima atau tidaknya puasa seseorang ditentukan oleh Allah Swt semata. Dialah yang menjadi juri tunggal. Kita tidak boleh mengklaim bahwa puasa kita sudah diterima oleh Allah Swt. Bisa jadi kita berpuasa hanya mendapatkan menahan rasa haus dan lapar saja. Pada dimensi yang lain, seperti tidak bisa menahan amarah, tidak menjaga mata, lidah, telinga, hidung, tangan, kaki, serta anggota tubuh lainnya sering kita abaikan. Akibatnya puasa yang kita lakukan menjadi hampa nilai, hanya dapet capeknya saja. Betapa ruginya orang yang berpuasa hanya sekadar menahan haus dan lapar saja.

Dalam sebuah keluarga ada relasi kuasa yang dipegang oleh orang tua. Bapak adalah nahkoda sehingga ia berperan penting mengarahkan kemana tujuan kapal itu akan dibawa. Ibu adalah awak kapal yang membantu ayah. Sementara itu, penumpangnya tidak lain adalah sang anak. Kalau nahkodanya saja keliru mengarahkan kapal dan salah tujuan, awak penumpang menerima akibatnya. Maka tanggungjawab pada bapak-ibulah untuk mendidik anak-anaknya dengan cara yang benar, termasuk mengajarkan cara yang baik dalam berpuasa.

Mengajarkan anak berpuasa dengan iming-iming, janji hadiah atau uang menurut saya itu kegagalan orang tua dalam membekali laku kejujuran. Terhadap anak sendiri saja kita tidak bisa jujur, bagaimana kita akan bisa jujur terhadap orang lain dan lingkungan sekitar? Kata Piere Bourdieu bahwa hal apapun jika disiram terus-menerus, dilakukan berulang-ulang akan menjadi suatu habitus atau kebiasaan.

Maka dari itu, hal yang tidak selaras dengan tujuan keikhlasan kepada Tuhan itulah yang harus diubah. Perbuatan menyogok anak untuk berpuasa tidak boleh menjadi kelaziman. Bukan saja berdampak menjadi kebiasaan, namun juga berjangka panjang karena sudah menjadi habitus.

Menjadi sesuatu yang tak mengherankan bila kemudian kita mendapati banyak orang melakukan korupsi karena ternyata bibit korupsi itu sudah ditanam sejak dalam lingkungan keluarga, dalam praktik mendidikan anak berpuasa. Sesuatu yang kita anggap lazim, kecil dan remeh-temeh, bisa saja membesar dan pada akhirnya menjadi bom waktu yang dapat meledek menjadi koruptif. Jadi, kebiasaan menyogok harus diubah sejak dalam lingkungan keluarga. Bila praktik demikian itu masih saja menjadi andalan untuk mengajarkan anak berpuasa, kata Rhoma Irama, “Terlalu!”.

Sekarang muncul pertanyaan begini, Pernahkah Anda menyogok diri Anda sendiri dalam berpuasa? Pertanyaan semacam apa itu? Untuk menjawab pertanyaan itu, tentu kita harus merenung sejenak. Apakah benar bahwa kita pernah, sering, bahkan tanpa sadar menyogok diri kita sendiri dalam berpuasa? Kalau benar, untuk apa?

Mencari jawab atas pertanyaan itu saya berangkat dari ungkapan, “Berbukalah dengan yang manis-manis”. Tepat pada ungkapan tersebut terkandung godaan berat yang menyogok diri menjadi bermewah-mewah saat berbuka puasa, dari menyediakan makanan utama, makanan penunjang-serat, takjil, dan sebagainya macam balas dendam karena seharian berpuasa. Semuanya itu kita siapkan hanya untuk memenuhi kepuasan selera, kebutuhan badani sehabis sehari puasa. Akibat yang ditimbulkan yaitu pengeluaran saat bulan puasa menjadi lebih besar daripada hari biasanya di luar bulan Ramadhan. Itu artinya kita menjadi lalai terhadap kebutuhan rohani yang semestinya pada bulan Ramadhan ini dapat kita maksimalkan pemenuhannya.

Akhirulkalam, pada hakikatnya puasa adalah kenikmatan. Kenikmatan untuk menaklukan hawa nafsu sendiri.

Author: Silmi Novita Nurman

ABOUT THE AUTHOR

Silmi Novita Nurman

@moratorium_senja


COMMENTS