Tulisan ini sekadar catatan ringan hasil pengajian bersama gurunda Fahruddin Faiz di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, Februari 2017.

Motif untuk mempublikasikan tulisan ini muncul setelah beberapa kali, saya dicurhati tentang hubungan cinta yang ruwet dan njlimet. Seringnya, saya–mungkin juga Anda–hanya mendengarkan dan lebih sering tidak memberi solusi apa-apa, tetapi justru ada yang lega.

Mungkin benar kata Seno Gumira Ajidharma, “Dunia sudah terlalu penuh dengan kata-kata dan kekurangan telinga”. Dalam kondisi ini, mendengarkan adalah juga mencintai. Mendengar dan mencintai sama-sama didasari ketulusan menyediakan ruang kenyamanan dan pada akhirnya orang percaya dan bersedia berbagi episode hidupnya.

Cinta, kata Socrates, bermula dari keinginan untuk mencari kebaikan.

Pada dasarnya, manusia dan semesta bergerak untuk menggapai apa yang menurutnya baik. Manusia punya sifat serakah dengan berjuta keinginan yang tak pernah ada akhirnya. Salah satu keinginan terbesarnya adalah untuk menggapai kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kebaikan. Dan jatuh cinta pada seseorang didasari oleh anggapan adanya kebaikan pada sosok tersebut, yang kebaikan itu diharapkan bisa melimpah atau bermuara kepada dirinya.

Jatuh cinta adalah awal dari kesadaran untuk mencari kebaikan.

Hakikat mencari kebaikan adalah karena adanya kesadaran diri kita berada dalam kekurangan dan membutuhkan penyempurnaan yang mungkin didapat pada diri yang dicinta. Atas dasar ini, hubungan percintaan (seharusnya) selalu membahagiakan dan senantiasa dalam proses saling meningkatkan kualitas hidup menjadi lebih baik. Tidak egois. Saling memberdayakan. Dan pada akhirnya bersama-sama dengan yang dicintai menuju pada yang Maha Cinta.

Dalam perjalanan cinta itu, yang perlu disadari adalah bahwa cinta yang abadi berlandaskan pada keindahan yang melampaui fisik, setelah pada mulanya mungkin berorientasi fisik. Semisal cinta pada keindahan akhlak, keindahan pemikiran, keindahan tingkah laku. Cinta inilah yang tidak akan lekang. Cinta yang tanpa tuntutan-tuntutan berlebihan, tanpa jejal harapan, tanpa kekangan. Cinta ini membebaskan dan lepas dari keterikatan yang membelenggu dirinya dan diri yang dicinta.

Sebuah cinta yang berkelas harus melalui serangkaian proses pem(belajar)an. Energi cinta bisa dioptimalkan dan ekspresi cinta bisa diupayakan. Memang, cinta tidak bisa diukur. Erick Fromm menggambarkan bahwa cinta itu layaknya seni. Seni itu bukan hanya karena anugerah atau bawaan. Ia produk dari latihan keras, dipelajari dan diasah sedemikian rupa. Skill seseorang dalam bidang kesenian apapun merupakan buah dari usaha.

Cinta itu layaknya seorang pelukis. Bagi pelukis, yang harus menjadi perhatiannya bukan pada bagus atau tidaknya suatu objek yang akan dilukis. Namun yang lebih penting adalah seberapa keras usahanya berlatih menjadi seorang pelukis yang hebat. Lalu dengan kepiawannya, ia bisa melukis objek apapun menjadi suatu lukisan yang indah. Tidak peduli objek yang dia lukis bagus atau tidak, lukisan yang dia hasilkan semuanya akan bernilai indah dan menawan.

Maka seharusnya, seorang pecinta sejati itu senantiasa memperbaharui tentang bagaimana cara dia mencintai, bukan mempersoalkan objek apa dan siapa yang dia cintai. Itulah cinta. Ia tidak berawal dari keegoisan yang hanya mementingkan siapa dan apa yang dicintai. Cinta memang harus dipelajari. Belajar mencintai mengharuskan sikap disiplin, konsentrasi, sabar, dan tentunya menjadi prioritas.

Menurut Erick Fromm, cinta yang sejati itu berlandaskan pada orientasi yang tepat, tidak berangkat dari empat hal berikut.

Pertama, orientasi bertipe reseptif, yaitu cinta yang berfokus pada objek. Senantiasa mempertanyakan apa yang layak dia cintai. Sehingga terkadang ia lupa memantaskan diri dan belajar mencintai.

Kedua, orientasi bertipe eksploitatif, yaitu jenis cinta yang hanya memanfaatkan yang dia cintai untuk dirinya.

Ketiga, orientasi cinta penimbun, yaitu yang mempertahankan status quo. Takut kehilangan dan ingin memiliki sepenuhnya.

Keempat, orientasi cinta pasar. Prinsipnya adalah meraup untung dengan segala macam cara. Termasuk dengan mengorbankan identitas diri, menghamba pada trend mode, demi mengikuti pasar dan mendapatkan cinta.

Pada dasarnya, urusan cinta adalah terkait dengan persoalan eksistensial manusia. “Love is the only satisfactory answer to the problem of human existence” tutur Fromm.

Meskipun hidup berkecukupan, manusia tetap membutuhkan teman. Itu pulalah yang menjadi alasan Adam menginginkan Hawa, meskipun hidup dalam suasana sangat nyaman di surga. Manusia takut sendiri, takut berpisah. Dalam kondisi ini, ada manusia yang memilih untuk mengorbankan dan menjatuhkan diri, menghamba, menjatuhkan level atau harga dirinya. Namun ada juga manusia yang memilih untuk mencintai. Pilihan inilah yang paling tepat, karena semua manusia sebenarnya membutuhkan yang lain.

Sikap cinta yang saling membutuhkan merupakan wujud dari cinta yang matang. Antara yang mencintai dan yang dicintai memiliki rasa saling membutuhkan, saling menguatkan, dan saling menguntungkan. Mencintai berarti meniadakan segala bentuk subordinat dan segala bentuk hegemoni sepihak. Meniadakan cinta yang simbiotik, yang hanya menguntungkan salah satunya atau simbiotik yang mematikan salah satunya atau bahkan lebih parah lagi mematikan keduanya.

Cinta yang seharusnya adalah memberi dengan sepenuh kesadaran, bukan berkorban sebagaimana hubungan yang simbiotik. Hakikat dari memberi adalah sebagai pembuktian jika yang memberi itu adalah orang yang memiliki sesuatu, mampu, kuat, penting, dan cinta. Ketika memberi, maka keberadaan si pemberi diafirmasi. Tidak penting pemberian itu dibalas atau tidak. Cinta itu memberikan apa saja, memberi kebahagiaan, memberi waktu, memberi benda dan lainnya.

Untuk bisa mencintai dengan baik, maka terlebih dahulu harus dipenuhi unsur dasar cinta. Unsur pertama, care. Peduli dan merasa ikut prihatin terhadap apa yang dirasakan oleh yang dicintainya.

Kedua, responsibility. Setelah prihatin, ia ikut terlibat demi kebaikan yang dicintainya, demi kemajuan bersama. Terlibat untuk ikut bertanggung jawab bukan dalam artian mendominasi apalagi menghegemoni yang dicintai.

Ketiga, respect. Saling menghargai, menghormati hal-hal prinsip yang dimiliki masing-masing yang terkadang bertolak belakang. Perbedaan yang disertai dengan sikap respect ini justru akan saling menguatkan.

Keempat, knowledge. Yaitu sikap mutual undersanding. Memiliki informasi dan kemudian memahami yang dicintai. Dengan informasi dan pemahamannya terhadap yang dicintai, si pecinta bisa memberikan sikap care, responsibility, dan respect secara tepat dan proporsional, sesuai dengan kebutuhan yang dicintai.

Keterpenuhan semua unsur cinta itu pada akhirnya akan mengantarkan pada cinta yang produktif. Menjelma cinta yang tidak hanya bermodus untuk ‘memiliki’, namun mempunyai modus ‘menjadi’. Modus memiliki, sama dengan orientasi cinta penimbun yang mempertahankan status quo. Sementara modus menjadi, berarti dalam hubungan cinta itu lebih mementingkan proses bersama, menaikkan level, kualitas dan kapasitas keduanya menjadi lebih baik.

Level yang lebih baik itu bisa diukur dari mencintai yang bertumpu pada sikap mandiri, bebas, dan kritis. Mandiri, berarti menghargai privasi individualitas masing-masing, tanpa ada yang harus melakukan subordinasi salah satunya. Bebas, mengharuskan untuk berkembang bersama dan tidak statis atau jalan di tempat. Mandiri dan bebas harus dibarengi dengan sikap kritis, untuk menjaga nalar rasional. Cinta sering membutakan dan mengaburkan logika. Sehingga dibutuhkan nalar kritis untuk memandu dan meluruskan.

Cinta yang produktif itu adalah cinta yang aktif. Kata Fromm, “Love is an activity, not a passive affect. It is a ‘standing in’ not a ‘falling for’.” Dengan membentuk diri sebagai pecinta yang merdeka, bebas dan kritis, maka akan berujung pada cinta yang sejati dan produktif. “Sehingga cinta menjadi sesuatu yang memberdayakan, bukan sesuatu yang memperdayakan,” ujar Fahrudin Faiz. Energi dari cinta sungguh sangat luar biasa. Oleh karena itu, sangat penting untuk bisa memaksimalkan potensi ini.

Cinta itu harusnya adalah sikap aktif untuk mengeluarkan semua potensi dan energi yang dimiliki.

Cinta, tidak sesederhana memenuhi dahaga sepihak. “Mencintai,” kata almarhumah Ria Fitriani–apoteker yang bergiat di MJS Project–, “Sering menjebak orang yang sedang dilanda krisis eksistensi.”

Pada dasarnya, dia butuh diakui, perhatian, pemujaan, dielukan, gemerlap panggung, dan kebanggaan berlebihan. Untuk tujuan itu, dia melakukan segenap pengorbanan sebagai investasi untuk ‘dicintai’, dan dengan itu dia merasa ada. Pada dasarnya, dia hanya mencintai ke-aku-an dirinya sendiri dan berharap cinta dan pengakuan yang lebih. Pasangannya dimanfaatkan untuk meneguhkan eksistensinya yang haus cinta dan kebutuhan itu tidak pernah ada akhirnya.

Jangan-jangan, kita mencintai Tuhan pun sering terjebak dalam pola ini. Ria Fitriani pernah berbagi begini:

“Boleh jadi ketika kita sedang dalam kesusahan dan membutuhkan tempat bergantung, kita meneriakkan lantang atau berbisik di hati, God, I do it because I Love You. Namun ucapan itu tak lebih dari sekadar untuk meneguhkan diri kita yang egois. Dialah Tuhan yang meskipun kita sering berpura-pura, Tuhan tidak pernah berujar marah, You don’t need Me. You want Me to love you. Go away and never come back. Sama sekali Tuhan tidak tega pada hamba yang dicintai-Nya. Saking agungnya cinta-Nya, bahkan di kala manusia terus-menerus berbohong, Tuhan memberi pembelajaran pada manusia yang kadung sangat munafik. Namun ‘hukuman’ pembelajaran itu diberikan atas dasar cinta-Nya, dengan segenap Rahman dan Rahim, jauh melebihi cinta orang tua yang menghukum anak yang dilahirkannya dengan penuh kasih.”[]

Author: Muhammad Ridha Basri

ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Ridha Basri

Sehari-hari ngadem di Grha Suara Muhammadiyah


COMMENTS