Shidqi Niam

Bulan suci Ramadhan memberikan kesempatan bagi kita untuk menenduhkan hati, menundukkan nafsu, membuka pikiran dan juga hati yang selama ini tertutup hal-hal fana dunia dan semata-mata hanya fokus mencari, terus mencari, cinta Ilahi. Sehingga apa saja yang disampaikan, didengarkan dan dibacakan dalam berbagai kesempatan, baik melalui ngaji-ngaji pribadi, mendengarkan kultum di sela salat Isya-Tarawih dan selepas Subuh atau mengikuti para kekasih Allah mendaras kitab melalui pengajian-pengajian yang diadakan atau menyimak ngaji dari media sosial.

Dari sekian banyak kesempatan tersebut, penulis dengan sengaja membuat catatan-catatan kecil, yang dimaksudkan dengan dua tujuan, pertama, tentu saja menambah keilmuan dan yang kedua, jika sudah mengetahui ilmu tersebut, setidaknya mampu meningkatkan kesadaran diri agar mampu lebih mengamalkan atas dasar kecintaan diri pada Allah.

Izinkan penulis memulai catatan-catatan sepekan pertama Ramadhan ini dengan sebuah pertanyaan yang ditujukan, khususnya ke diri penulis, dan juga ke pembaca yang budiman: “Apa yang tersisa dari Ramadhan tahun kemarin?” Silakan tanyakan pada diri masing-masing, dan benar-benar cari tahu apakah diri ini menemukan jawabannya. Karena, jika kesusahan mencari dampak dari Ramadhan tahun kemarin, lalu apa yang tersisa dalam dalam diri? atau berarti ada yang kurang tepat dalam menjalaninya di tahun kemarin. Kewajiban kita adalah jangan sampai terulang di kesempatan kali ini.

Jangan sampai terbuai kembali dan hanya menjadi rutinitas tahunan saja. Karena jika diri ini menganggap bahwa Ramadhan adalah ritual spesial yang akan datang saban tahun sekali, sekalipun spesial, namun jika menjadi sebuah rutinitas, terkadang secara otomatis diri ini akan mengabaikan sebuah kualitas ketika hal tersebut dilakukan saban hari. Belum lagi karena ini wajib, sehingga ada unsur ‘paksaan’. Tantangan yang sama kita hadapi dalam melakukan salat saban hari. Apakah kita bisa benar-benar mengupayakan keintiman terhubung dengan Allah ketika salat? Atau, ya karena ini wajib mau tidak mau tidak boleh ditinggalkan. Tentu esensinya sudah berbeda.

Sebenarnya tujuan dari puasa ini adalah sebagaimana tertera dalam Al Baqarah [2]: 183, agar kamu bertakwa. Nah, untuk mencapai tujuan itu, perlu kiranya melakukan hal-hal kecil, rutin dan penuh kekhusyukan meningkatkan diri untuk semakin dekat dengan Allah. Jama’ah Magrib, Isya dan Subuh di masjid yang sudah dibangun ketika Ramadhan, hendaknya dipertahankan sampai Ramadhan tahun depan jika masih diberi kesempatan bertemu kembali. Termasuk membaca Al-Qur’an, salat tepat waktu, mengekang hawa nafsu dan kegiatan-kegiatan yang penuh kebaikan selama Ramadhan dijaga terus di luar bulan suci ini.

*

Berikutnya, kisah ini penulis dengarkan dari salah satu kekasih dan ulama besar bangsa ini: Prof Quraish Shihab. Beliau menceritakan tentang salah seorang kekasih Allah, yaitu Lukman Hakim Allah Yarham.

“Suatu ketika Lukman Hakim diminta untuk membawakan anggota tubuh seekor kambing yang paling baik. Maka, dibawanya hati dan lidahnya. Di kesempatan yang lain diminta untuk membawakan yang paling buruk. Dibawanya juga hati dan lidahnya. Mengapa demikian? Yang menjadi pusat kebaikan seseorang yang dapat mendorongnya untuk melakukan kegiatan positif atau negatif adalah hati dan lidahnya. Lidah yang memuji, yang berbicara baik untuk mendorong orang melakukan kebaikan. Sedangkan, hati yang bersih mendorong untuk menjalin persahabatan dan kegiatan positif. Demikian juga sebaliknya. Karena itu mari kita menjaga hati dan menjaga lidah.”

Tentunya, tidak ada satu pun manusia yang mengerti kedalaman hati seseorang melainkan diri orang itu sendiri. Sekalipun kita tidak mengerti atau terbuai dengan niat hati kita sendiri, mulai dari niat yang kurang tepat, semisal bersedekah karena Allah, namun sebenarnya hanya ingin dilihat manusia lain mampu. Penyakit hati memang sangat sulit disembuhkan. Ia berdesir perlahan menggerogoti hati. Kemudian lidah, salah satunya adalah perkara membicarakan orang lain, tetangga misalnya. Jika itu salah, ia akan menjadi fitnah. Dan jika itu benar, akan termasuk dalam urusan ghibah. Tentu saja, Ramadhan memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki keduanya.

Di era serba digital sekarang ini, perpanjangan lidah dan hati yang sakit ada di jempol kita. Sekarang siapa saja begitu mudah berkomentar, namun jauh dari membaca dan mencari kebenaran. Sungguh mengkhawatirkan.

*

Kala itu penulis sedang mengikuti jama’ah Subuh di satu sudut masjid di Yogyakarta. Sebagaimana kebiasaan setiap bulan Ramadhan, setelah salat Subuh disampaikanlah pesan-pesan penuh hikmah. Saat itu rasa kantuk sungguh sangat hebat, sulit sekali untuk ditahan. Dan sang ustaz menangkap situasi tersebut, melihat beberapa jama’ah dengan susah payah menjaga kesadarannya demi mendengarkan kuliah tujuh menit itu.

Tiba-tiba di tengah beliau menyampaikan kultum, semua jama’ah diminta untuk mengubah arah duduk ke kanan. Ya, semua ke kanan. Para jama’ah yang masih duduk rapi di barisan shaf salat menghadap ke kanan dan saling memunggungi. Sang ustad memerintahkan kedua tangan kami untuk ditaruh di atas pundak jama’ah yang ada di depan masing-masing. Kami diminta untuk saling pijit satu sama lain dengan instruksi sang ustad dan secara bergantian mengubah arah duduk dengan sebaliknya. Tentu saja suasana selepas Subuh itu jadi gayeng, menjadi riuh penuh senyum dan tidak ada satupun yang mengantuk.

Setelah saling pijat, sang ustaz melanjutkan kuliahnya. “Coba tengok ke kanan! Coba tengok ke kiri! Apakah para jama’ah sekalian mengenal orang yang sedari tadi duduk di samping Anda semua? Jika belum, silakan kenalan dulu, toh tadi sudah saling pijit juga.” Suasana masjid kembali riuh menyenangkan, para jama’ah kembali tersenyum sumringah dan saling berjabat tangan dan masing-masing saling berkenalan.

Kemudian sang ustaz menjelaskan maksud kenapa diminta melakukan itu. Zaman sekarang, masjid kehilangan fungsi sosialnya, salah satunya yaitu mempererat persaudaraan sesama muslim. Mungkin dalam sehari-hari kita sibuk masing-masing, jarang mengobrol dengan tetangga, jarang berbagi dengan tetangga, kemudian ketika beribadah ke masjid untuk melaksanakan ibadah wajib, tiba jadi kesempatan untuk menyapa serta menjalin hubungan antar manusia.

Selain itu seringkali ketika dalam perjalanan, mampir di ke satu masjid, kita merasa asing. Masjid kini jamak ada aturan dilarang barang sejenak istirahat sebentar dan yang paling parah ketika selesai salat fardu, masjid tak lama kemudian langsung di kunci semua pintunya. Seolah-olah masjid hanya tempat untuk salat saja, tidak lebih. Pada situasi seperti inilah, masing-masing dari kita wajib untuk memakmurkan masjid. Agar hubungan kita, tidak hanya mesra dengan Allah, tapi juga dengan sesama akan terus terjaga.

Di penutup catatan ini, penulis ingin mengajak pembaca budiman sejenak mengambil waktu, untuk mendoakan agar seluruh bagian dari kehidupan ini baik-baik saja. Hubungan kita dengan Allah, alam semesta dan semua makhluk menjadi semakin baik-baik saja. Al-Fatihah.

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-33 Jumat, 25 Mei 2018/09 Ramadhann1439 H

Author: Shidqi Niam

ABOUT THE AUTHOR

Shidqi Niam

Santri lawas Ngaji Filsafat, sedang bercita-cita mensejahterakan petani di kampung halaman


COMMENTS