Puasa dan ibadah yang lain seumpama Masjidil Haram yang secara langsung diberi gelar “Rumah-milik-Allah” (Baitullah), padahal semua permukaan bumi ini sebenarnya milik-Nya pula.

Ada dua unsur maknawi yang hanya dimiliki ibadah puasa. Pertama, di dalam puasa ada rahasia (sirr) yang tak terdapat di ibadah lainnya yang bisa terlihat. Seluruh amal ketaatan (lainnya) bisa tersaksikan makhluk hidup ciptaan-Nya dan terlihat, tetapi tidak dengan puasa. Hanya Allah semata yang bisa melihatnya. Kedua, puasa itu pengekang setan yang menggoda manusia melalui syahwat. Selain itu, posisi ibadah puasa adalah seperempat bagian dari iman. Hal ini merupakan kesimpulan dari dua sabda Rasulullah Saw. yang pertama berbunyi الصوم نصف الصبر puasa merupakan setengah dari kesabaran. Dan hadits kedua berbunyai الصبر نصف الإيمان sabar adalah setengah dari iman.

Dua hadits tersebut sebenarnya tidaklah hanya menunjukkan bagian puasa dalam iman, tetapi juga menghubungkan puasa, kesabaran dan iman. Sabar adalah inti dari puasa. Kesabaran dalam menahan segala larangan dhahiriah yang dapat membatalkan puasa, dan larangan batiniyah yang mengurangi makna puasa. Keduanya merupakan ujian yang berat. Sekaligus juga merupakan barometer kualitas keimanan seseorang.

Puasa yang sudah berjalan sekian tahun dari umur kita, bahkan sebagaimana diwajibkan atas orang-orang jauh sebelum kita lahir membawa pengajaran tentang kepatuhan kita sebagai hamba kepada Allah. Menjalankan puasa juga berupakan bentuk pelatian atau riyadah. Konteks lain yang terkandung dari puasa adalah pengorbanan, penyucian, perjuangan atau jihad atau mujahadah, keikhlasan, hikmah dan i’tibar yang menggambarkan situasi diri yang lemah, terbatas dan merangsang kita untuk peka dan peduli dengan orang lain.

Al-Ghazali menerangkan puasa itu pada tiga level. Pertama, puasa awam atau pada umumnya orang berpuasa. Puasa awam/umum itu hanya sekedar mencegah perut dan kemaluan dari memenuhi keinginannya. Puasa umum ini titik beratkan hanya kepada menahan hal-hal yang membatalkan, dalam bentuk kebutuhan perut dan dibawah perut, tanpa memandang aspek-aspek menahan diri yang lain. Pada tingkat ini orang yang melakukan puasa tidak akan terbatasi dari kemaksiatan, karena orang pada tingkat ini di luar unsur jasmaniyah tidak dipandang tidak berhubungan dengan puasa, juga hatinya, untuk turut berpuasa.

Kedua, puasa khusus. Puasa khusus yaitu berusaha mencegah pandangan, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan anggota-anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa. Puasa khusus ini, disamping mencegah keinginan perut dari nafsu di bawah perut, juga menahan keinginan dari anggota-anggota badan seluruhnya untuk tidak melakukan dosa. Orang-orang yang berada pada tingkat puasa khusus, memiliki kesadaran untuk selalu menahan keinginan-keinginan lahiriah yang berupa anggota-anggota badan dengan kenikmatan yang diinginkan oleh anggota-anggota tersebut.

Tujuannya untuk menemukan kenikmatan yang sebenarnya, yakni ketenangan dan keterangan batin. Puasa menurut Imam al-Ghazali adalah pada hakekatnya sebagai media untuk bisa dekat dengan Allah Swt. dan hal tersebut benar-benar berfungsi apabila orang yang melaksanakan puasa dilandasi oleh kemauan yang kuat dan motivasi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah dengan cara mengalahkan keinginan-keinginan yang bersifat lahiriah.

Ketiga, puasa khusus al-khusus. Pada level ini orang yang berpuasa akan merasa berdosa apabila hari-harinya terisi dengan hal-hal yang dapat membatalkan puasanya. Mereka beranggapan bahwa hal tersebut bermula dari rasa kurang yakin dengan janji Allah Swt. untuk mencukupkan dengan rizkinya. “Barangsiapa tergerak pikirannya dengan memikirkan bahan berbuka puasanya pada siang hari niscaya dituliskan suatu kesalahan kepadanya. Karena yang demikian itu termasuk kurang kepercayaan dengan karunia Allah ‘Azza wa Jalla dan kurang yakin dengan rezeki yang dijanjikan.”

Untuk menuju puasa khusus al-khusus tersebut dengan menjaga mata dan mencegahnya dari menatap segala yang cela dan dimakruhkan kepada segala yang menuntun hati kepada mengingat Allah; menjaga lidah dari mengucap dan telinga dari mendengar segala yang makruh; mencegah anggota-anggota badan yang lain dari segala dosa; tidak membanyakkan makan belaka waktu berbuka; hatinya sesudah berbuka bergantung dan bergocang antara takut dan harap, karena ia tidak mengetahui apakah puasanya diterima atau ditolak.

Kemasukakalan dari puasa tersebut bahwa manusia derajatnya di atas hewan, karena memiliki akal dan di bawah malaikat,karena adanya hawa-nafsunya. Saat manusia terjerumus dalam hawa-nafsu maka ia turun ke tingkat hewan. Dan sewaktu ia mencegah diri dari hawa-nafsu, maka ia terangkat ketingkat malaikat.Malaikat itu dekat dengan Allah. Mereka yang perilakunya maka dekat dengan malaikat, berdekatanlah ia dengan Allah, sebagaimana dekatnya para malaikat itu. Inilah rahasia puasa. Bukan sekedar menunda makan atau mengumpulkan dua makan ketika malam lalu serta membenamkan diri didalam hawa-nafsu yang lain sepanjang hari? Nabi bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa, yang tidak mendapat apapun, selain daripada lapar dan haus?”.

Orang yang berbuka berpuasa, ialah orang yang menjaga segala anggota tubuhnya dari dosa. Ia makan dan minum. Dan orang yang berpuasa berbuka, ialah orang yang lapar dan haus dan namun tidak menjaga segala anggota tubuhnya. Perumpamaan orang yang mencegah dirinya dari makan dan minum namun bercampur dengan dosa, adalah seperti orang yang menyapu salah satu dari pada anggotanya pada wudu tiga kali. Meskipun sesungguhnya telah sesuai pada dhahir bilangannya, namun ia telah meninggalkan yang penting, yaitu membasuh. Maka salatnya tertolak lantaran kebodohannya.

Dalam puasa seturut dalam al-Quran adalah takwa. Takwa di sini, pertama, bermakna takut (haybah). Firman Allah: “Dan bertakwalah (takutilah) suatu hari yang kamu akan dikembalikan kepada Allah” (QS Al-Baqarah [2]: 281). Kedua, bermakna taat. Firman Allah: “Hai orang yang beriman, bertakwalah (taatlah) kepada Allah dengan sebanr-benar takwa (taat)” (QS Ali Imron [3]: 102). Ketiga, menyucikan hati dari dosa. Firman Allah: “Dan siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang beroleh kemenangan” (QS An-Nur [24]: 52).

Adapun hikmah dari puasa diantaranya yaitu menjadi manusia yang berakhlak mulia; menumbuhkan sifat pemurah dan penyayang; membentuk watak dan karakter manusia menjadi patuh dan disiplin terhadap suatu peraturan. Patuh terhadap hukum Allah semata yang dimotori jiwa takwa; melatih menahan syahwat serta mengembalikannya kepada batas; kesederhanaan; dan jalan menuju kesehatan jasmani dan peningkatan maqom ruhani.

“Jadi, telah teranglah, bahwa bagi tiap-tiap ibadah itu mempunyai dhahir dan batin, kulit dan isi. Dan kulitnya itu mempunyai beberapa derajat dan bagi tiap-tiap derajat mempunyai beberapa lapisan. Maka kepadamulah sekarang, untuk memilih, apakah engkau cukupkan dengan kulit saja, tanpa isi atau engkau menceburkan diri kepada lapisan isi.”

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi – 32 Jumat, 18 Mei 2018/02 Ramadhan 1439 H. Tulisan ini sekedar share slide Ngaji Filsafat pas edisi Puasa Al-Ghazali.

Author: Abu Nirsangkan

ABOUT THE AUTHOR

Abu Nirsangkan

cah angon


COMMENTS