Judul: Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau│Penulis: Haidar Bagir│Penerbit: Mizan, Bandung│Tahun terbit: Maret 2017│Tebal: xxxiii + 288 halaman│ISBN: 978-602-44-1016-2

Sebuah kesempatan yang luar biasa bagi saya bisa menghadiri bedah buku Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau karya Dr. Haidar Bagir (Pendiri Gerakan Islam Cinta) yang terselenggara atas kerja sama antara Penerbit Mizan dan LSQH UIN Sunan Kalijaga di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Meskipun sudah berlalu, namun apa yang menjadi pokok pembicaraan pada acara bedah buku, itu kiranya masih relevan untuk kita bincang-hadirkan dalam konteks kini.

Menurut Pak Haidar, ada dua alasan kenapa beliau menulis buku dengan judul Islam Tuhan Islam Manusia. Pertama, negara-negara yang mayoritas beragama Islam saat ini sedang kacau balau, seperti peperangan yang terjadi di Suriah, Aleppo, Iran, Libya dan negara-negara Islam lainnya. Kedua, negara Indonesia heboh dengan pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Padahal yang mengadakan Pilkada hanya orang Jakarta, tapi seluruh Indonesia bersuara perihal boleh memilih pemimpin non-muslim atau tidak. Kemudian saling kafir-mengkafirkan, hakim-menghakimi, sesat-menyesatkan. Siapa yang mendukung calon pemimpin non-muslim ada yang sampai ketika meninggal jenazahnya tidak boleh disalatkan dan lain sebagainya.

“Islam yang kita pahami bukan Islam Tuhan tapi Islam manusia kecuali Rasulullah Muahmmad SAW karena dia maksum” tutur Pak Haidar. Beliau sangat gemesh dengan keislaman seperti sekarang ini. Islam manusia dan Islam Tuhan itu tidak sama karena Islam manusia sudah tercampur dengan nafsu. Untuk memahami Islam Tuhan, harus dibersihkan hati sebersih-bersihnya, tapi tetap saja kita tidak akan mungkin benar-benar memahami Islam Tuhan sesuai dengan apa yang diinginkan Tuhan.

Ketika seseorang mengatakan inilah Islam, inilah yang dimau Tuhan berarti dia sudah berlagak jadi Tuhan karena yang tahu maunya Tuhan itu ya Tuhan sendiri. Jangan memonopoli kebenaran! Sebab ada kemungkinan kebenaran pada pandangan orang dan ada pula kemungkinan kebenaran pada diri sendiri. Seperti sebuah bentuk prisma atau segitiga dengan segala sisinya akan dipahami berbeda jika dilihat dari masing-masing sisi meskipun bendanya sama.

Islam diturunkan untuk manusia. Tuhan tidak butuh agama. Agama itu apa sih? Agama adalah aturan untuk membuat manusia menjadi baik menjadi manusia yang rahmatan lil’alamin. Allah menurunkan agama untuk manusia supaya bisa menjadi agen-agen bagi rahmat sekalian alam. Jadi, Tuhan tidak butuh agama. Orang muslim yang baik harus menghabiskan hidupnya untuk membahagiakan manusia, tetapi kita malah saling hujat, benci, musuhan. “Kalau ingin menyenangkan Tuhan jadilah rahmat bagi manusia” tandas Pak Haidar.

Ingatlah bahwa sepintar apapun manusia, sealim apapun manusia, tetap saja manusia bukan Tuhan! Jangan berpikir bahwa Tuhan akan rida jika membinasakan manusia. Tuhan akan rida jika manusia bisa menjadi rahmatan lil’alamin dan bisa membahagiakan sesamanya. Di dalam Al-Quran tidak ada satu perintah pun untuk membenci orang lain. Kita benci pada kejahatan, kekafiran tapi kita tidak boleh benci pada sesama manusia, karena semua makhluk Allah adalah keluarganya Allah. Jika manusia sudah saling membenci berarti juga membenci keluarganya Allah. Berbeda dalam pandangan keislaman boleh-boleh saja tapi jangan sampai berantem, itulah yang disebut dengan persatuan Islam.

Islam di Indonesia sekarang ini adalah Islam yang top, tetapi sekarang dalam ancaman. Orang mudah sekali sesat-menyesatkan. Berbeda aliran sedikit, langsung dikatakan bahwa itu adalah aliran sesat. Perlu dibedakan aliran sesat dan aliran sempalan. Ada aliran yang diikuti oleh orang-orang minoritas jangan buru-buru disebut sesat sebab itu adalah aliran sempalan.

Pada inti-pokoknya, buku tersebut hadir untuk mendamaikan itu semua. Buku Islam Tuhan Islam Manusia merupakan kumpulan dari beberapa artikel semenjak tahun 1985 hingga tahun 2017. Dari beberapa artikel itu dipilihlah 30 tulisan, disunting dan disisipi dengan tulisan-tulisan yang baru. Jadi lebih kurang 32 tahun dalam penggarapannya. Dalam bukunya tersebut, Pak Haidar membagi menjadi empat bagian: masalah, khazanah, pendekatan dan solusi. Solusi yang ditawarkan Pak Haidar adalah Islam sebagai agama yang baik dan manusia harus kembali pada spiritualitas, pada cinta.

Untuk mengurai segala kekacauan yang terjadi di dunia Islam, Pak Haidar menawarkan cinta. Ia mencontohkan, pada suatu ketika ada yang memintanya sebagai pembicara dengan tema pendidikan karakter, lalu Pak Haidar menjawab, “Tidak perlu pendidikan karakter atau yang lebih ekstrim tidak perlu pendidikan agama karena pendidikan agama sekarang hanya sebagai sumber radikalisme. Yang perlu diajarkan adalah the logic of arts, ajarailah orang-orang untuk berpikir logis. Belajarlah matematika supaya berpikir logis, belajar sains supaya berpikir secara akademik dan sistematis, belajar ilmu sosial, berolahraga dan mengapresiasi seni. Jika orang sudah berpikir logis dan mengapresiasi seni maka akan mudah membentuk pribadi yang akhlaknya baik.”

Seseorang bisa melihat keindahan jika di dalam dirinya ada keindahan. Seseorang bisa melakukan kebaikan jika di dalam dirinya sudah ditanamkan kebaikan. Jadi orang-orang diajari agama, pendikan karakter, diajari ini itu segala macam, tetapi ada satu hal yang tidak diajarkan yaitu cinta. Makanya jangan kaget kalau benci yang sering mengemuka dibandingkan cinta. Karena apa? Karena orang kini lebih melihat sisi perbedaannya sehingga melahirkan perselisihan paham.

Sebagai penutup, kiranya kutipan dari Syekh Al-Wani yang disampaikan pada kesempatan Ngaji Filsafat Masjid Jendral Sudirman (27/9) oleh Pak Fahruddin Faiz, relevan dengan kondisi kekinian, bahwa:

Bencana paling berbahaya yang saat ini menimpa umat Islam adalah bencana perbedaan pendapat dan perselisihan paham…

Perbedaan yang ditandai dengan kekerasan, kepentingan sendiri-sendiri, dan motivasi yang egoistik, berkembang dan tumbuh semakin besar dan semakin besar; merasuk jauh ke dalam dunia mental seseorang lalu merantai pikirannya, perilakunya dan perasaannya.

Lalu orang-orang ini kehilangan kejernihan pandangan terhadap segala sesuatu. Dalam perjalanannya mereka pun kehilangan tujuan dan misi Islam dan prinsip-prinsip dasarnya yang utama. Orang-orang ini kehilangan visi dan pengetahuan dan melupakan perilaku-perilaku Islami yang paling dasar.

Mereka begitu mudah berkata tanpa pengetahuan, memutuskan tanpa pemahaman dan menjalankan sesuatu tanpa dasar. Dari orang-orang ini, tuduhan demi tuduhan membanjir, sebagian masyarakat dicap sebagai sesat dan penuh dosa, sementara yang lain dinyatakan sebagai “kafir”.

Author: Silmi Novita Nurman

ABOUT THE AUTHOR

Silmi Novita Nurman

@moratorium_senja


COMMENTS