Dari pengalaman banyak orang sewaktu bepergiaan, salah satu tempat yang biasa menjadi lokasi singgah, selain di pom bensin, adalah masjid. Masjid jadi pilihan dibanding tempat ibadah lain. Lain itu, keberadaan masjid biasa menjadi patokan titik arah tuju saat orang mencari alamat. Dari masjid, mananya? Lurus, belok kiri! Misalnya. Masjid sebagai ancer-ancer baru tersaingi sejak menjamurnya toko padang nyimbrang yang indo, yang alfa, yang mart-mart itu.

Kalau mau disurvei, tempat ibadah mana yang paling banyak menjadi tempat penampungan hajat kecil-besar, ya, toilet masjid. Perhatikan juga, ketika orang–kelihatan bukan jamaah/warga sekitar–menuju masjid, pertanyaan yang kerap umum muncul dari orang itu tanya: “Toiletnya di mana ya?” Jarang orang tanya: “Habib anu pernah khutbah Jum’at di sini ngak ya?”. Begitulah.

Oke. Sekarang, saya mau cerita, masih tentang masjid juga sih, tapi lebih dalam menengok kegiatan, kajian, gelaran ngaji yang macam-macam. Boleh dibilang masjid satu ini ora oemoeme sebagai masjid.

Sebut saja masjid yang akan saya ceritakan Masjid Jendral Sudirman. Bukan nama masjid sebenarnya! Disingkat MJS. Lebih tepatnya pakai GPS saja, gitu aja kok repot. Mengapa MJS saya bilang ora oemome masjid? Mari kita tengok bersama.

Ada Ngaji Filsafat

Salah satu alasan kenapa banyak orang betah tinggal di Yogya boleh jadi karena Yogya menawarkan banyak pilihan. Pilihan soal apa saja, tanpa terkecuali dalam geliat intelektual. Kampus ada banyak, berikut pilihan menghadiri acara diskusi atau kajian macam-macam. Cuma untuk pilihan bergelut sama yang njelimet nan ruwet macam filsafat, dari bejibun kampus yang berdiri di Yogya tidak semua punya fakultas atau jurusan filsafat. Sekurangnya ada dua kampus negeri. Lainnya hitung sendiri ya…

Memang, salah satu jahatnya kota, masjid saja digembok. Aktivitas di dalam masjid murni sebagai tempat sujud. Mungkin dalam alam pemikiran para modin, apa bedanya bila masjid buka 24 jam, sama dong nanti dengan SPBU, sama dong dengan toko dua bersaudara mart itu.

Awalnya saya mau mumpang pipis ke toilet masjid. Sekira pukul 20.00-an WIB di dalam masjid masih ramai orang duduk mendengarkan. Pengajian? Tapi kok pengajian yang bahas Paradigma Ilmu. Pengajian macam apa itu?

Selesai dari toilet, saya tolah-toleh, longok-longok sebentar. Ndak enak kalau mau langsung pergi tanpa basa-basi, meski tak ada orang yang memperhatikan juga sih. Kemudian saya memberanikan diri bertanya kepada salah seorang hadirian yang duduk mengaji.

“Ngaji apa ini mas?”, tanya saya. “Ngaji Filsafat”, jawab orang yang saya tanyai.

“Oh, ada ya Ngaji Filsafat”, tanya saya lagi. “Iya, rutin tiap Rabu malam Kamis, habis Isya sampai jam sepuluhan”, jawab orang yang saya tanyai itu lagi.

Mendengar itu, saya mbatin: selo banget ini para takmir bikin Ngaji Filsafat di masjid.

Duduklah saya ikut, sampai kelar ngaji. Setelah selesai baru pulang. Niatnya sih cuma numpang pipis malah terpatri ikut ngaji.

Singkat hari, jadwal ngaji minggu berikutnya. Saya niatkan datang mencari tahu tentang gelaran Ngaji Filsafat lebih lanjut, dan dapatlah informasi dari sumber yang dapat dipercaya 99,9 % (ingat, kesempurnaan hanya milik Allah) alasan mengapa MJS membikin gelajar macam Ngaji Filsafat. Dari salah seorang takmir menjawab begini: “Ha… mbangngane nganggur, gawe filsafatan wae!” Kan, ngatheli to.

Tapi, iya, apapun alasannya boleh jadi memang begitu. Mas takmir sebenarnya mau bilang, bila tak semua hal perlu ada alasan khusus, kongkrit, spesifik, ndakik-ndakik. Alasan yang sebetulnya ingin menjadikannya ada, atau menguatkan yang ada itu. Saya pikir, dibalik ungkapan “mbanggane nganggur” itu, tersembunyi makna filosof bagi orang yang mau berpikir. Apa itu? Pikiren dewe.

“Kapan mulai Ngaji Filsafat?” saya teruskan bertanya. “Sejak tahun 2013, bulan April, MJS mulai gelar Ngaji Filsafat”, jawab mas takmir.

“Banyak peminatnya?” tanya saya lagi. Dijawab mas takmir lagi: “Prediksi kami pertama ngadakan (April 2013), waktu itu yang datang paling banter 10-an orang. Pas waktu acara, eh, ternyata lebih dari 30-an orang. Ternyata lumayan juga peminat filsafat. Dari situ kemudian kami bikin rutin tiap pekannya”.

Saya sendiri kemudian membuktikan dengan hadir ikut ngaji minggu berikutnya lagi. Bah, rame betul. Saya hitung lebih 120 orang yang hadir. Kebanyakan mahasiswa-mahasiswi selo yang mungkin daripada nganggur di kos, mending berangkat ikut ngaji, gratis teh atau kopi lagi. Lumayan.

Saya mengikuti ngaji tidak untuk membuktikan keangkeran filsafat, tapi lebih ingin menyaksikan bagaimana juru pengampu ngaji, Dr. Fahruddin Faiz, menyampaikan materi filsafat. Pas kebutulan saya ikut sedang disampaikan edisi Ilmu dan Pengetahuan. Tokoh yang dibahas di Rabu pertama Thomas Kuhn.

Sebelum masuk kebelantara pemikiran Kuhn, saya membaca buku Filosof Juga Manusia, terbitan MJS Press. Salah banyak dari isi buku itu membabarkan tugas seorang filosof, ada clarifying concepts (memperjelas konsep), constructing arguments (menyusun argumen-argumen) dan analyzing (menganalisis). Dari sini sudah sangat membantu saya yang awam soal filsafat, memasuki alam pikir filosifnya Kuhn tentang “pergeseran paradigma”. Kuhn membahas soal itu dalam buku The Structure of Scientific Revolutions (1962).

Dengan penyampaian yang sederhana, didaur bersama kejadiaan dan pengalaman yang dekat disekitaran kita, sajian filsafat terasa ringan untuk diikuti, renyah untuk dipahami. Filsafat hadir bukan dalam bentuk gagasan yang abstrak, mbulet, njelimet, yang jauh dari jangkauan daya tangkap kemampuan akal saya.

Pada pokoknya Ngaji Filsafat, ya, itu, untuk “memfilsafati kehidupan”, kata Kiai Faiz, sembari untuk mengenali diri. Gnoti’s afton (kenalilah dirimu) kalau mau memakai jargon Socrates. Lagian, “Kehidupan”, kata simbah uyut Socrates, “yang tidak diuji adalah kehidupan yang tidak berharga”.

Selain Ngaji ada Kaji

Bebetulnya masih ada banyak agenda kegiatan selain Ngaji Filsafat. Boleh dibilang, seperti terbaca di bagian akhir buku yang diterbitkan MJS Press, tulisnya, bahwa “MJS menaja serangkaian kegiatan dalam bingkai spiritual, menyasar pada yang intelektual sembari uri-uri kebudayaan. Ketiganya menjadi semacam core gerak memakmurkan masjid. Keberadaan sebuah masjid, tentunya tak sekedar sebagai tempat sujud, namun juga menjadi tempat ngaji dan kaji.”

Dikongkritkan dengan menyelenggarakan Ngaji Pascakolonial yang diampu Ustazah Dr. Katrin Bandel. Ngaji Studi Quran dengan pendekatan ilmu-ilmu sosial, dalam kerangka matelisme historis Karl Marx oleh Gus Muhammad Al-Fayyadl. Ada juga acara bedah buku. Taman Pendidikan Al-Quran (TPA Sudirman) juga rutin diselenggarakan setiap hari Senin, Rabu, Jumat sore.

Ada juga ngaji tasawuf. Ngaji Kitab Hikam-Ibn Atta’illah oleh KH. Imron Djamil dari Jombang. Ngaji kitab Tarjumanu al-Asywaq-Ibn Arabi dan Rubaiyyat-Maulana Rumi oleh Kiai Kuswaidi Syafi’ie. Menggelar kelas Mocopat-an, belajar kauwuh Serat Jawa, Joget Sholawat Mataraman, dll.

Begitulah. Apa boleh bikin, ketika masjid lain gemerlap menggelar pengajian mendatangkan ustaz/ustazah kondang televisi, mengadakan training salat khusuk, kajian pra-nikah, atau mengemas pengajian jebul dodolan, MJS jauh dari itu.

Punya Penerbitan

Satu langkah ke depan dari serangkaian gelaran kaji/ngaji, MJS menapaki dunia penerbitan. Kata mas takmir, “MJS Press lahir sebagai salah satu pemain baru di dunia literer. Ia lahir dari rahim Masjid Jendral Sudirman.”

Digawangi oleh para santri-santri ngaji yang tergabung dalam semacam komunitas berbasis masjid yang mereka menamai diri MJS Project. Bulan Mei tahun 2016 telah menerbitkan buku Filosof Juga Manusia. November 2016 menerbitkan buku Suluh Kebahagiaan. Ancang-ancang Maret 2018, katanya mau menerbitkan dua buka lagi, Sebelum Filsafat dan Manusia Langit. Begitu informasi yang saya peroleh-dengar-dapatkan.

Menghadirkan filsafat di dalam kegiatan masjid, buat saya, itu saja lebih dari cukup untuk mengatakan MJS sebagai masjid yang ora oemoeme masjid. Ini tambah punya penerbitan sendiri. Selo banget takmirnya. Ada ngaji, ada juga literasi.

Entah apa yang ada dalam pikiran penggerak literasi berbasis masjid itu menjejaki penerbitan sendiri. Apa mungkin itu langkah “mbangngane nganggur”? Atau jangan-jangan, kecurigaan saya, mereka ini hendak memasarkan urip filsafatan dari buku yang mereka terbitkan. Patut diwaspadai tentunya.

Masih bersangkutan dalam ranah literer, kelainan lain dari MJS saya temukan dari media siar buletin masjid: Buletin Jum’at Masjid Jendral Sudirman (Buljum MJS). Tulisan yang diturunkan jarang sekali menurunkan ayat. Buljum MJS lebih sering menurunkan esai; tulisan yang menceritakan kenyataan; tulisan yang banyak mengurai dari kisah keseharian; tidak kaku melulu berisi anjuran ini-itu serta minim kosakata bombastis. Sempat dibukukan dengan judul Apa Kabar Islam Kita? Esai-esai Kaweruh Jumatan Masjid Jendral Sudirman (2014). Di setiap buletin terbit, dikabarkan juga kajian rutin Jumat malam, dan Selasa malam bakda Magrib sampai dengan Isya setiap pekannya.

Akhirulkalam, begitulah lebih-kurangnya MJS yang saya cjap ora oemoeme sebagai masjid. Setuju atau tidak, monggo saja. Saya menulis ini dari sudut pandang suka-suka saya. Seperti pula barisan para santri ngaji yang mengimpunkan diri, katanya, di dalam majelis yang suka ngaji dan ziarah.

Author: Abu Nirsangkan

ABOUT THE AUTHOR

Abu Nirsangkan

cah angon


COMMENTS