Tatkala mendengar kata ‘melepaskan’ akan terbayang kerugian. Iya rugi, sebab untuk mempunyai atau menikmati sesuatu saya harus berjuang secara maksimal. Apa mungkin mau, setelah mendapatkan sesuatu kemudian melepaskannya begitu saja? Menurut saya perbuatan itu merupakan bentuk kerugian, terlebih merugikan diri sendiri. Seperti itu pemahaman awal saya tentang ‘melepaskan’.

Akan tetapi, pemahaman yang demikian tidak mengendap terus menerus dalam diri saya pribadi. Beberapa hari kemarin, saya mendapatkan pelajaran yang belum pernah saya dapat sebelumnya. Ternyata dibalik ‘melepaskan’, terdapat pelajaran besar yang bisa saya ambil. Sebelumnya, saya selalu terjebak pada kalkulasi-kalkulasi dalam bentuk untung dan rugi jika melepaskan. Misalnya saja, saya sudah mempunyai handphone dari jerih payah menabung selama berbulan-bulan. Setelah pemakaian empat bulan, handphone saya dicuri. Saya merasa dirugikan. Karena merasa dirugikan, seperti normalnya orang, saya akan panik dan berusaha keras mencarinya. Bahkan kalau perlu, meminta bantuan ‘orang pintar’. Jika pelakunya tertangkap, setidak-tidaknya bogem mentah harus mendarat dimukanya, supaya si pencuri jera tidak mencuri lagi.

Selain respon seperti itu, ternyata masih ada bentuk respon lainnya. Nah, respon yang lainnya ini hanya bisa dilakukan jika sudah sampai pada level memahami pelajaran besar dari yang namanya ‘melepaskan’. Inilah pelajaran yang belum pernah saya dapat itu.

Sebelum menguraikan pelajaran yang saya dapat mengenai hal tersebut lebih lanjut, saya hendak memberikan dasar tulisan ini terlebih dahulu. Pertama, tulisan ini terilhami ketika saya nimbrung mengikuti Ngaji Filsafat yang diampu oleh Dr. Fahrudin Faiz, M.Ag pada Rabu malam seminggu yang lewat (7/2). Ketika itu, tema yang dibahas adalah Cinta Eksistensialis miliknya Gabriel Marcel. Salah satu pembicaraan beliau yang menarik perhatian saya adalah tentang seni melepaskan. Kedua, tulisan ini semakin mantab setelah saya mendengarkan ngaji rutin Jumat malam Sabtu (9/2) yang disampaikan oleh Dr. H. Sofiyullah Mz, M.Ag. Beliau menjelaskan tentang posisi dan sikap yang harus diambil sebagai manusia. Dari dua pembicara tersebut, saya mendapatkan semacam pencerahan tentang melepaskan supaya bisa legowo.

Menjadi manusia

Satu-satunya makhluk Allah yang memperoleh keistimewaan khusus adalah manusia. Selain keistimewaan sebagai pemimpin di muka bumi ini, manusia juga dianugerahi keistimewaan berupa akal pikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya. Tapi keistimewaan-keistimewaan tersebut bukannya sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Sang Khaliq, malah justru terkadang untuk menjauhkan manusia dengan-Nya.

Misalnya saja mengenai kepemilikan. Kita sering terjebak pada kepemilikan-kepemilikan yang sebenarnya bukan milik kita. Kita selalu merasa punya hak untuk memiliki. Padahal sudah jelas sekali siapa yang Maha Penguasa dan Maha Pemilik segala sesuatu adalah diri-Nya. Kalimat demikian, bagi kalangan umat Islam sebenarnya sudah final dan pasti. Tapi praktinya tidak semua meng’iya’kannya. Terbukti dari sebagian Muslim ada yang hanya sebatas di lisan saja dan terjebak pada pengertian bahwa yang dihasilkan dari usahanya, merupakan hak-hak yang menjadi dimilikinya. Jika kemudian kepemilikan hasil dari usahanya itu tersebut hilang, maka perasaan marah, jengkel, dan kawan-kawannya memenuhi hati dan perasaannya.

Misalnya lagi, gaji yang didapatkan setelah bekerja. Gaji yang didapatkan tersebut bukan sebuah hak. Buktinya, uang gajian tidak bertahan lama, tetapi dikeluarkan kembali untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun keperluan lain entah untuk membeli bensin, nasi goreng, beli baju dan lain sebagainya. Artinya uang tersebut hanya mampir. Kita yang menerima uang gajian hanya menjadi perantara, bukan menjadi pemilik tetap. Konsekuensinya, bila uang gajian tersebut hilang seharusnya tidak memiliki dampak yang signifikan. Sebab uang yang kita dimiliki bukan hak kita. Uang tersebut sekedar mampir dan penerimanya hanya sebagai perantara uang.

Dari permisalan tersebut akan menempatkan kita sebagai manusia selayaknya. Dari situ juga mengajarkan kita untuk tidak mengingkari segala yang kita peroleh hanyalah titipan. Bahwa yang Maha Memiliki dan Maha Menguasai segala sesuatu hanyalah Allah semata. Kita sebagai manusia hanya sebagai perantara, bukan sebagai penguasa yang memiliki sesuatu. Oleh karena itu, ada ungkapan yang terkenal bahwa semua yang ada di muka bumi ini hanyalah titipan-Nya. Termasuk manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini, bukan manusia yang menjadi bos di muka bumi ini. Melainkan manusia perantara yang harus merawat keberlangsung hidup di muka bumi ini dengan anugerah akal yang telah diberikan-Nya. Dengan begitu, kita sebagai manusia bisa senantiasa legowo, menerima segala sesuatu yang telah menjadi kehendak-Nya.

Melepaskan

Setelah menyadari bahwa segala sesuatu hanya barang titipan-Nya, selanjutnya kita belajar pemahaman baru mengenai arti dari melepaskan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti dari melepaskan adalah menjadikan lepas (tidak terikat, keluar dari kurungan, dan sebagainya); mencurahkan (tentang cinta kasih, isi hati, rindu); membalas (tentang dendam, sakit hati); melancarkan (tentang kecaman, serangan, tuduhan); membuang, menghilangkan, atau meninggalkan (tentang suatu harapan, maksud, tuntutan); membiarkan lepas (tentang anak panah dari busur); menyelamatkan atau menghindarkan (dari bahaya); menjadikan puas (tentang rasa hati); memuaskan. Terlepas dari sedemikian banyaknya arti melepaskan itu, tidak menutup kemungkinan adanya pengertian baru dari kata ‘melepaskan’.

Menurut Gabriel Marcel, melepaskan merupakan tahapan untuk mencapai ke level lebih tinggi. Karena dalam rangka melepaskan, terdapat serangkaian pengorbanan-pengorbanan. Selain itu, melepaskan juga memiliki dampak perkembangan-perkembangan. Contohnya, jenjang pendidikan yang kita tempuh. Mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Meskipun masa-masa yang indah ada di sekolah dasar, misalnya, namun tidak mungkin kita tetap berada di sekolah dasar. Bila tetap di sekolah dasar, kita mungkin akan menjadi yang terpandai namun kepandaiannya tidak akan berkembang. Untuk bisa berkembang, haruslah melepaskan masa-masa indah yang ada di sekolah dasar untuk naik ke level lebih tinggi yakni sekolah menengah pertama dan seterusnya.

Sama seperti posisi kita yang terlalu mempertahankan zona nyaman. Melebih-lebihkan waktu tidur, waktu nge-game, maupun waktu-waktu bersantai lainnya. Memang zona nyaman memberikan berbagai macam kenyamanan dan kesenangan, namun kita tidak akan bisa naik ke level yang lebih tinggi lagi jika tetap berada di zona nyaman. Untuk naik level lebih tinggi kita harus berkorban melepaskan zona nyaman. Setelah itu dilakukan, kita baru bisa berkembang.

Belajar legowo

Dalam menjalani hidup harusnya juga demikian. Kita sebagai manusia harus senantiasa bisa melepaskan, karena memang kita tidak mempunyai apa-apa di dunia ini. Lahir tidak membawa apa-apa, mati pun juga tidak membawa apa-apa. Harta benda, jabatan, kedudukan, bahkan keluarga yang selama ini menjadi pendorong semangat juga bukan milik kita secara utuh dan penuh. Dengan seperti itu, hidup kita bisa menjadi lebih legowo dari kehendak yang diberikan oleh-Nya.

Di samping itu, ketika kita berhasil untuk melepaskan dengan legowo, level kita sebagai manusia akan lebih tinggi dari sebelumnya. Makanya legowo tidak bisa dimaknai sama dengan pasrah. “Allah sudah menakdirkan pada masing-masing dari kita ada yang sebagai petani yang tidak kaya-kaya, sebagai tukang parkir yang kerjanya di bawah terik matahari, sebagai direktur perusahaan, sebagai guru yang gajinya kecil dan lain sebagainya.” Kata-kata demikian itu tidak bisa dijadikan contoh dari legowo. Legowo hanya bisa dimaknai setelah kita berusaha dan beikhtiar terus-menerus tetapi hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Sebagai murid usaha kita belajar. Jika pun belajar terus menerus tidak pandai, itu haknya Allah sebagai Maha Segala Sesuatu, begitupun usaha-usaha dalam bentuk lainnya.

Author: Ahmad Sugeng Riady

ABOUT THE AUTHOR

Ahmad Sugeng Riady

Mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama, Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Marbot Masjid Jendral Sudirman


COMMENTS