Umi Khofsah

Judul: Lysis (Persahabatan)│Penulis: Platon│Penerjemah dan penafsir: A. Setyo Wibowo│Penerbit: Kanisius, Yogyakarta│Tahun terbit: 2015│Tebal: vi + 175 halaman│ISBN: 978-979-21-4299-0

Sekitar 2.600 tahun yang lalu, seorang lelaki dari zaman Yunani Antik bernama Socrates sedang berjalan-jalan mengelilingi Athena. Pada setiap orang yang ditemuinya, Socrates kerap bertanya yang macam-macam. Lalu, kepada mereka, Socrates mengucapkan kata-kata saktinya: kenalilah dirimu.

Mengenali diri sendiri ternyata merupakan hal yang paling tidak sederhana yang pernah ditemui manusia. Karena untuk mengenali diri secara memadai, berarti kita harus mengenal dunia dimana kita hidup. Mengenali diri sendiri juga berarti menelisik lebih dalam tentang bagaimana cara kita hidup, cara menjalaninya, bahkan dari mana kita memperoleh pengetahuan mengenai hal itu semua.

Maka tak heran, ketika pertama kali memperkenalkan buku ini kepada seorang teman, ia nyeletuk, “Sampai-sampai masalah persahabatan dibahas tersendiri ya?”. Tentu, karena persahabatan adalah salah satu hal yang dilakukan manusia untuk menjalani hidupnya.

Siapa yang menjadi sahabat siapa?

Buku ini tak ditulis oleh Socrates, melainkan muridnya, Platon. Semua karya Platon digubah dalam bentuk dialog. Menariknya, pada dialog-dialog yang ia buat, Socrates selalu menjadi tokoh utamanya. Platon sendiri tidak pernah muncul. Dan karena Socrates sendiri tidak meninggalkan karya satupun, maka sangat sulit untuk membedakan pemikiran keduanya.

Beberapa karya-karya Platon kerap diberi judul dari teman dialog Socrates. Buku ini salah satunya. Lysis merupakan seorang remaja tampan yang berasal dari keluarga terhormat. Ia mempunyai sahabat yang bernama Menexenos. Sebenarnya, diskusi mengenai persahabatan dilakukan dengan keduanya.

Penerjemah sekaligus penafsir buku Lysis A. Setyo Wibowo telah mengkotak-kotakkan alur diskusi dalam pengantarnya yang cukup panjang. Bahwa intro dari tema ini adalah mengenai kisah cinta yang tak terbalas, yaitu antara Hippothales dan Lysis. Ini kisah cinta sesama jenis? Iya. Tapi Setyo Wibowo juga sudah mewanti-wanti sebelumnya, bahwa kebanyakan Undang-Undang Polis (negara kota) di Yunani, memandang kisah cinta semacam ini sebagai hal yang tak wajar (hlm. 17). Pengenalan semacam ini sekaligus menjelaskan bahwa persahabatan merupakan sebuah relasi yang cakupannya luas. Bahkan ketika kita terikat pada benda mati, kita bisa disebut bersahabat dengannya (hlm. 57).

Percakapan mengenai persahaban benar-benar dimulai ketika Socrates iri kepada dua pemuda itu. “Ketika aku melihat kalian berdua, Lysis dan dirimu, aku tercengang dan ingin memberi selamat karena sejak sedemikian muda kalian telah berhasil memilikinya. Kau, Menexenos, dengan begitu cepat berhasil memiliki Lysis sebagai sahabat, dan demikian juga sebaliknya dengan Lysis terhadapmu. Sementara aku sendiri rasanya masih begitu jauh untuk bisa memiliki hal seperti itu… . Tolong katakan padaku, saat seseorang mencintai (philei) orang lain, diantara mereka, siapakah yang menjadi sahabat (philon) dari satunya? Apakah sang kekasih yang menjadi si sahabat si pengasih, ataukah si pengasih yang menjadi sahabat si pengasih? Ataukah tidak ada perbedaan?” .

Singkatnya, Socrates sebenarnya hendak menanyakan dalam relasi yang mengikat dua orang, siapakah yang menempati posisi sebagai sahabat? Apakah jika satu orang cukup salah satu yang ingin bersahabat dengan yang lain bisa membuat relasi persahabatan? Ataukah diantara keduanya harus saling melakukan hubungan kasih-persahabatan timbal balik?

Ini adalah dialog yang paling memusingkan sepanjang saya membaca buku ini. Socrates mengajukan sebuah pendapat kepada Menexones. Lawan bicaranya ini kemudian membenarkan. Dalam percakapan selanjutnya, pendapat ini disanggah oleh Socrates sendiri, dibenarkan lagi oleh Menexonones. Hal semacam ini terjadi bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Sungguh, sebuah diskusi yang mempunyai tikungan yang sangat tajam dengan alur logika yang berliku-liku.

Hingga pada akhirnya Socrates berkata, “Demi Zeus, aku sendiri tidak tahu, yang jelas aku pusing menghadapi jalan buntu (aporia) diskusi kita…” (hlm. 68).

Bahkan Socrates pun pernah bingung dengan argumentasi yang ia bangun. Sepertinya ini bisa menjadi semacam pembenaran jika kita sedang diskusi dan terlilit oleh argumentasi sendiri.

Kebaikan adalah objek persahabatan

Mengapa kita bisa bersahabat dengan orang lain? Merasa nyaman, cocok dan pas dengan orang tersebut?

Kita sering berpendapat bahwa kita bersahabat dengan seseorang karena mempunyai kesamaan. Lalu, apakah orang baik bisa bersahabat dengan orang baik? Dengan contoh-contoh yang begitu rasional, Socrates mengatakan tidak. Mengapa? Karena orang baik sejauh ia baik, telah bisa mencukupi dirinya sendiri. Orang yang mencukupi dirinya sendiri, tidak membutuhkan apapun, termasuk sahabat (hlm. 64-65).

Argumen serupa bisa kita lihat dari penolakan Socrates atas pertanyaan: Apakah yang jahat bisa bersahabat dengan yang jahat? Orang jahat berbuat tidak adil kepada siapapun, termasuk kepada sahabatnya. Maka, semakin lama hubungan mereka terjalin, mereka akan semakin merugikan satu sama lain. Apakah persahabatan bisa terjalin dalam keadaan yang demikian? Tentu tidak. Maka, bagi Socrates, yang sama tidak bisa bersahabat dengan yang sama.

Lalu, apakah persahabatan dapat ditemukan dalam hal yang berlawanan? Oke, mari kita lihat argumentasi Socrates. Seperti biasa, Socrates mengajukan sebuah argumen afirmasi: “Segala hal menginginkan bukan yang sama dengannya, tetapi apa yang berlawanan dengannya: kering menghasrati basah, dingin panas, pahit manis…” (hlm. 67).

Membaca tiga percakapan selanjutnya, Socrates kembali mengajukan argumen penolakan: “ Bukankah hal itu absurd, Menexenos?”. Apakah sesuatu yang membenci bersahabat dengan sesuatu yang penuh persahabatan atau sebaliknya? Apakah orang yang adil bersahabat dengan orang yang tidak adil? (hlm. 67-68). Tentu jawaban Menexones adalah tidak.

Sungguh, ketika saya ceritakan alur dialog Socrates-Menexenos dan Lysis ini kepada teman saya, dia berkomentar bahwa Socrates merupakan jenis lelaki yang Pemberi Harapan Palsu (PHP). Tapi Socrates terlihat PHP sejauh kita tidak mengikuti dialognya sampai akhir.

Seperti mendapat ilham, Socrates berujar, “… Menurutku, ada tiga jenis hal yang saling terpisah [yaitu] kebaikan, kejahatan dan apa yang sekaligus tidak baik dan tidak jahat” (hlm. 69). Dan, Socrates dengan amat lihai menjelaskan hal ‘yang sekaligus tidak baik dan tidak jahat’ itu (hlm. 70-71).

Apa kesimpulan dari dialog yang memusingkan dan nyaris tidak menemui jalan keluar itu?

“… Maka, yang tersisa adalah mereka yang menderita kejahatan, misalnya sifat tidak tahu (agnonian), tetapi belum menjadi bodoh (amathes) atau abai, dan menyadari bahwa mereka tidak mengetahui apa yang mereka tidak ketahui. Itu sebabnya, yang mencintai kebijaksaan adalah mereka yang belum baik dan belum jahat… ”.

Sahabat dan persahabatan (philia) hanya bisa muncul bila ada pengetahuan. Pengetahuan bersumber bagi apa pun yang berguna dan baik. Jika seseorang berhikmat dan bijak, artinya ia berpengetahuan, dengan sendirinya ia menjadi berguna dan baik. Orang lain akan ingin bersahabat dengannya, dan dengan demikian menjadi seketurunan (eikoioi) dengannya. Singkatnya, orang bijak menjadi objek cinta bagi yang lain. Di sisi lain, orang bijak juga menghendaki persahabatan sejauh masing-masing dari mereka memiliki bagian “seketurunan” dengan kebaikan. Artinya, saat orang ingin bersahabat dengan orang bijak, maka sebenarnya mereka mengikuti dorongan pada kebaikan yang sama.

Setyo Wibowo menjelaskan bahwa untuk memahami Lysis kita bisa menjadikan oikeion sebagai objek persahabatan. Dalam Lysis, yang tidak baik sekaligus tidak jahat menjadi sahabat kebaikan karena adanya hasrat/keinginan/rasa kekurangan. Objek keinginan tersebut adalah apa yang seketurunan (oikeion). Mengingat oikeion itu bertingkat-tingkat, maka Socrates menjelaskan bahwa oikeion tertinggi adalah relasi seketurunan antara jiwa dan aspirasi terhadap kebaikan. Mencintai jiwa seseorang, bagi Socrates, artinya mencintai aspirasi jiwa tersebut kepada kebaikan.

Filsafat dan pengenalan diri

Dalam Lysis ini, Socrates memberi penjelasan bahwa seorang filsuf mencari kebijaksaan karena merasa “kekurangan pengetahuan”. Filsuf bukanlah dewa yang tidak membutuhkan apapun karena sudah bijak. Filsuf juga bukan binatang yang tidak pernah merasa peduli sehingga tidak pernah pula merasa “kekurangan pengetahuan”.

Filsuf adalah orang yang tahu bahwa ia belum tahu dan berhasrat akan pengetahuan itu. Dalam karyanya Xarmides, lewat karya Platon, Socrates menyebut mengenali diri dengan “tahu bahwa dirinya tidak tahu.”

Jadi, jangan kecewa, jika di akhir dialog ini, Socrates yang sudah membangun-meruntuhkan-membangun kembali argumen kemudian mengibaskan jubahnya dan dengan bijaksana berkata, “Ternyata kita tidak berhasil mengetahui apa itu sahabat.”

Author: Umi Khofsah

ABOUT THE AUTHOR

Umi Khofsah


COMMENTS