Shidqi Niam

Judul: Orang Asing (Judul asli: L’Etranger)│Penulis: Albert Camus│Penerjemah: Apsanti Djokosujatno │Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta│Tahun terbit: November, 2013│Tebal: x + 124  halaman│ISBN: 978-979-461-862-2

Orang Asing karya Albert Camus ini untuk ukuran novel tidak panjang, lumayan pendek malah. Bisa diselesaikan dua-tiga kali duduk, namun juga bisa sekali duduk selesai. Ada dua cara untuk membaca atau menikmati karya ini.

Pertama, membaca dengan biasa-biasa saja. Kedua, menikmati setiap pergulatan dan pandangan tokoh tentang apa itu eksistensialitas, irrasionalitas dan absurditas. Kedua pilihan tersebut sama-sama menarik. Kami tidak bermaksud untuk mengarahkan pembaca dalam membaca novel itu dengan yang pertama ataupun yang kedua. Bukankah membaca adalah terkait selera dan pribadi masing-masing? Sama dengan cara membuat dan menikmati secangkir kopi. Kopi yang nikmat dan buku, lengkap sudah hidup.

Pertama, membaca Orang Asing dengan biasa-biasa saja, bukan berarti biasa-biasa saja dan tidak menarik. Justru ini bermakna sebaliknya. Camus dengan lihainya memaparkan sebuah cerita yang lengkap dan pas dengan penokohan yang kuat. Alur ceritanya pun benar-benar mengalir, intrik-intrik yang terjadi pun rasa-rasanya pas dan tidak ruwet. Sebagai sebuah cerita, ini adalah cerita lengkap. Penokohan tokoh utama pun ditata rapi hingga melewati klimaks dan menuju anti klimaks dengan tidak membingungkan. Memang di awal, novel ini akan tampak seperti novel-novel khas terdahulu, yaitu serba linear baik dari segi alur, penokohan. Dari sudut pemaparan cerita ini benar-benar terlihat konvensional.

Novel ini terdiri dari dua bagian, setiap bagian terdiri beberapa sub. Dan kesemua bagian itu tidak bisa dilewati: membacanya dimungkinkan untuk berurut. Apabila meloncat langsung ke bagian kedua, atau bagian kedua dulu kemudian menuju bagian pertama, cara begini akan ada yang hilang nantinya dari novel Camus ini. Memang, terkadang di antara pembaca yang budiman memiliki gaya membaca seperti tadi, meloncat-loncat. Namun untuk karya ini, setidaknya saya tidak begitu menyarankan akan penggunaan gaya tersebut. Karena Camus dengan rapi, ciamik dengan kalimat-kalimat pendek dan lugas membangun sebuah cerita, ide dan gagasan dari halaman pertama hingga terakhir. Ini merupakan satu-kesatuan sebab akibat.

Pada bagian pertama, Orang Asing memaparkan kehidupan sang tokoh, Meursault, yang begitu-begitu saja. Di mulai dari sikap Meursault ketika ibunya meninggal, dengan kekasihnya, dengan orang-orang sekitarnya hingga pada bagian pertama diakhiri dengan Meursault membunuh orang Arab. Pada bagian pertama saja pergulatan sang tokoh sudah begitu, absurd dan terkadang tidak wajar. Namun ketidakwajaran itu dijelaskan dengan sangat baik oleh Camus. Buktinya? Silahkan baca bukunya dan nikmati pengalaman membaca karya Albert Camus yang satu ini. Karena pengalaman masing-masing lebih asyik.

Pada bagian kedua, menceritakan tentang apa yang sudah diamati, dipikirkan dan disimpulkan oleh sang tokoh ketika setelah melakukan pembunuhan, berada dalam penjara, nasib percintaannya, keanehan nasib yang didapati, ketika dalam proses persidangan dan pada akhirnya sebuah keputusan akan dirinya serta keanehan-keanehan kehidupan bermasyarakat kita. Di bagian kedua ini rasionalitas kita dibolak-balik akan pemikiran sang tokoh. Dan yang sedikit mengganggu adalah sebuah resolusi yang tidak jelas, maaf, bukan tidak jelas tapi sedikit menggantung dan memaksa kita mengambil kesimpulan sendiri, pemahaman sendiri dan akhirnya kita sebagai pembaca hanya akan menyeringai sembari garuk-garuk kepala. Sangat disayangkan apabila tidak membaca buku ini.

Jujur saja, akan lebih nyaman kalau kita bertemu langsung, ditemani secangkir kopi dan kemudian mengobrolkan panjang lebar tentang karya Albert Camus ini. Karena khawatir dengan kualitas tulisan yang buruk justru mereduksi kualitas novel ini.

Kedua, cara ini sedikit lebih banyak menguras tenaga. Karena kita siap-siap untuk membaca hal-hal absurd, irrasional dan terkadang kita dipaksa untuk melawan aturan-aturan umum di masyarkat yang tak jarang hal itu sedikit menjijikkan.

Nanti pembaca sekalian akan menemukan hal-hal demikian di berbagai sudut cerita ini, misalnya ketika proses di pengadilan. Misalnya keabsurdan sang jaksa penuntut, sifat kebalikan dari itu yang diperankan oleh sang pembela, dan bisa dikatakan sikap biasa-biasa saja sang tokoh. Ini sungguh tidak wajar dan absurd.

Sang tokoh seperti memiliki pemikiran sendiri yang berbeda dengan kebanyakan manusia, yang menjadikan ia aneh dan dijatuhi hukum mati. Di sisi itu, sikap-sikap hidup sang tokoh justru yang menjadikan eksistensi tokoh ini ada dan nyata. Ini sangat dimaklumi ketika mengetahui bahwa Albert Camus adalah punggawa besar aliran absurdisme, sebuah gagasan yang lahir berawal dari eksistensialisme-nya Sartre.

Camus andal dalam memberikan intrik-intrik pemikiran melalui tokoh-tokohnya. Pengalaman hidup masing-masing tokoh yang lengkap tersirat dalam setiap interaksi dengan sang tokoh utama, Meursault, dalam sebuah cerita yang benar-benar sederhana dan tentu saja pelik. Dan yang menarik adalah Camus tidak pernah benar-benar ingin memberikan sebuah gagasan lengkap beserta dengan kesimpulannya. Di sinilah titik wujud dari aliran absurdisme yang dipahami oleh Camus itu sendiri, ambigu terkadang, namun masuk di akal. Tidak pernah Camus memberikan jawaban atas sikap-sikap dan pemikiran-pemikiran sang tokoh utama.

Berikut bagian-bagian yang menunjukkan absurdnya Camus yang pelik dan kita dipaksa berpikir lebih dari sekali untuk mengambil ekstensi akan hal itu. Jika pembaca berharap akan menemukan kata-kata romantis, kalimat yang mendayu-dayu dan berkelit, buru-buru saja harapan tersebut dihapuskan. Kata-kata yang digunakan Camus lugas, pendek, terpotong-potong dan ada ruang kosong yang tercipta.

Hari ini ibu meninggal. Atau mungkin kemarin, aku tidak tahu. Aku menerima telegram dari panti wreda, ‘Ibu meninggal kemarin. Dimakamkan besok. Ikut berdukacita.’ Kata-kata itu tidak jelas. Mungkin ibu meninggal kemarin.” (hlm. 3).

Betapa keacuhan dan ketidaktahuan sang tokoh tampak pada teks tersebut. Ini sungguh aneh apabila dalam pemahaman masyarakat secara umum, mana mungkin ada seseorang tidak bersedih dan tidak mengetahui secara pasti kapan ibunya meninggal. Dan sikap-sikap seperti inilah yang menjadi sumbu cerita ini.

Tidak hanya itu, misalnya hal-hal yang sakral dalam kehidupan ini dianggap oleh sang tokoh sebagai hal biasa saja, dan sangat tidak wajar dengan pemahaman umum. Misalnya pernikahan. Kekasih sang tokoh mengajak untuk melangsungkan pernikahan. Sang tokoh tampak terkesan tidak berpikir panjang bahwa pernikahan tidak hanya melulu soal hubungan badan yang legal, tapi lebih dari itu. Tepat pada titik itulah, bagi sang tokoh, pernikahan bukanlah hal yang penting. Hal tersebut terlihat benar dalam kutipan ini:

Pada sore hari, Marie datang mencariku dan bertanya apakah aku mau kawin dengan dia. Aku berkata bahwa bagiku hal itu sama saja dan bahwa kami bisa melakukannya jika ia menghendakinya. Lalu ia ingin tahu apakah aku mencintainya. Aku menjawab seperti yang pernah kulakukan sekali dulu, bahwa hal itu tidak berarti apa-apa tetapi bahwa mungkin aku tidak mencintainya. ‘Lalu buat apa kawin denganku?’ katanya. Kuterangkan padanya bahwa hal itu tidak penting dan bahwa jika ia menginginkan, kami bisa menikah…”. (hlm. 36-37). 

Tampak sekali sang tokoh tidak berpedoman khusus pada norma-norma yang ada, ia sangat bertentangan dengan lingkungan sosial yang terkadang dipahami dengan alasan yang tidak rasional. Ia tidak percaya akan adanya konsep keterikatan emosional dan komitmen dalam pernikahan. Dan perlu diamati, yang mengajak menikah bukan sang tokoh, tetapi kekasihnya.

Secara keseluruhan Camus berhasil memaparkan pertentangan di luar kebiasaan manusia: melawan konvensi umum dalam setiap kehidupan manusia. Sikap-sikap yang diambil sang tokoh cenderung tidak masuk akal dan sulit diterima oleh pemahaman masyarakat umum. Ketegangan-ketegangan yang terjadi di setiap bagan cerita memaksa pembaca sekalian dengan seksama untuk mengamati hal-hal yang ditunjukkan oleh ungkapan (ekstensi) yang ada dalam dibalik Orang Asing, karena ada konfrontasi-konfrontasi menarik dan detail di setiap pemaparan suatu cerita dalam Orang Asing.

“La vie ne vaut pas la peine d’etre vecue”. Menunda membaca karya ini, sama halnya dengan menunda kehebatan kedirian kita.

Author: Shidqi Niam

ABOUT THE AUTHOR

Shidqi Niam

Santri lawas Ngaji Filsafat, sedang bercita-cita mensejahterakan petani di kampung halaman


COMMENTS