kredit ilustrasi @agungsw

Apa kau percaya pada “kebetulan”?

Ketika singularitas berkembang membentuk dimensi ruang-waktu, mungkin penyebabnya cuma “kebetulan”. Senyawa organik prekursor kehidupan pun mungkin terbentuk karena petir dan radiasi “kebetulan” menyambar sup primodial. Tapi, benarkah itu semua adalah sebuah “kebetulan”?

Thomas Alva Edison mengalami kegagalan sampai berkali-kali sebelum berhasil menciptakan lampu pijar. Sebuah kebetulan kah jika ia kemudian berhasil menciptakan lampu tersebut? Jika setelah gagal beberapa kali kemudian Edison memutuskan untuk menyerah, mungkin bukan Edison yang akan menjadi penemunya, tapi orang lain. Mungkin Nico, atau Jeremy atau entah siapa. Atau bahkan, jika saat itu Eddison menyerah, mungkin saat ini kita tidak akan menikmati lampu. Ini bukanlah suatu kebetulan.

Bukan sebuah kebetulan waktu itu mobil ESEMKA tercipta dan kemudian diliput media, menjadi terkenal, dan kemudian membawa Jokowi menjadi Presiden. Andai saat itu tidak ada kawan-kawan media yang meliput mobil ESEMKA, andai saat itu bukan Jokowi yang menjadi walikota Solo, masyarakat se-Indonesia tidak akan mengenal siapa itu Jokowi, dan mungkin beliau tidak akan menjadi presiden Indonesia seperti saat ini.

Saya pun menulis ini bukanlah sebagai sebuah kebetulan. Sebelum bisa menulis ini, saya harus merasakan senang, sedih, marah, kecewa, dendam, patah hati, dan masih banyak lagi perasaan yang muncul sebagai akibat dari banyak kejadian yang saya alami.

Andai saya tidak pernah berangkat ke Yogyakarta, andai saya tidak pernah bertemu teman-teman yang kemudian mengenalkan saya dengan Masjid Jendral Sudirman, andai saya tidak pernah menggerakkan jari-jari saya untuk menulis huruf demi huruf, menjadikannya kalimat-kalimat yang bisa dibaca dan syukur-syukur bisa dipahami maknanya dan kemudian mengirimkannya kepada redaksi, maka tulisan ini tidak akan pernah ada.

Gusti Allah menggerakkan setiap sub sistem, elemen, partikel, syaraf, dan jutaan bagian tubuh saya untuk menulis. Setiap bagian mengerjakan tugasnya masing-masing. Dan tak pernah keliru sedikitpun. Setiap hari, setiap jam, setiap menit dan setiap detiknya sudah direncanakan dengan begitu detail dan sempurna. Tak akan pernah melenceng.

Pasti ada lebih banyak lagi peristiwa-peristiwa disekitar kita yang sering sekali kita sebut sebagai sebuah “kebetulan”. Tapi pada akhirnya, semua peristiwa itu, sekecil dan setidak-mungkin apapun, semuanya telah ada dalam skenario Tuhan.

Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS Al-An’am [6]: 59)

Dalam ayat tersebut Allah telah menyatakan, bahwa tidak ada satu pun, bahkan jika itu hanya sehelai daun yang gugur, atau hanya sebutir kecil biji yang terselip di celah bumi, yang Dia tidak tahu.

Banyak dari kita yang mungkin tidak pernah berpikir, mengapa kita dilahirkan dengan satu hidung, bukan dengan dua hidung? Mengapa kita dilahirkan dengan dua mata dan dua telinga serta dua kaki dan tangan yang masing-masing memiliki lima jari?

Mengapa dulu Nabi Muhammad Saw. meminta keringanan untuk mendirikan salat sebanyak lima kali saja dan bukannya lima puluh kali seperti pada awal perintah Allah? Mengapa Tuhan menciptakan matahari, membuatnya bersinar, terbit dari timur untuk kemudian tenggelam di ufuk barat? Mengapa bumi diciptakan dalam bentuk bulat, bukan segitiga atau kotak? Dan jutaan pertanyaan yang mungkin tidak sempat kita pikirkan.

Tidak ada yang namanya kebetulan. Jika kita mau sedikit saja berpikir, ada hikmah yang bisa kita ambil dari setiap kejadian. Sekecil, seburuk dan setidak-penting apapun kejadian itu menurut kita. Mungkin kita tidak bisa menyadarinya secara langsung, tapi entah kapan, suatu saat, mungkin kita akan berkata: “Ah.. skenario Tuhan benar-benar sempurna…” sambil tersenyum dan bersyukur.

Menyalahkan takdir, mendewakan keberuntungan

Sebagian dari kita lebih suka menyatakan keberhasilan atau kegagalan atas sesuatu dengan ungkapan “keberuntungan”. Ketika sukses banyak dari kita yang akan mengatakan, “Saya lagi beruntung”. Dan ketika gagal kita akan berkata, “Ah… saya lagi nggak beruntung.”

Kehidupan di Bumi ini tidak hadir begitu saja. Jika kita ingat pelajaran dasar sains waktu kecil dulu, kita akan menemukan berbagai teori dasar penciptaan bumi dan dunia seisinya. Berbagai ilmuwan kemudian sedikit demi sedikit menguak proses terciptanya bumi hingga menjadi seperti saat ini. Perkembangan dari kekosongan hingga bumi bisa dihuni makhluk hidup melalui proses yang sangat panjang. Jika ada satu saja partikel atau zat, atau entah apapun itu yang meleset dari proses panjang ini, kita tidak akan pernah hadir.

Allah, dengan kebenaran absolut, seratus persen, pasti mengetahui segala perbuatan kita, baik yang telah kita lakukan, sedang kita lakukan, maupun apa yang akan kita lakukan. Dan semuanya telah ditulis dalam skenario-Nya.

Namun bukan berarti kita tidak bisa memilih apa yang akan kita lakukan. Diantara berbagai ketetapan-Nya, kita tetap diberi kesempatan melakukan segala sesuatu sesuai pilihan kita, tanpa melepaskan tanggungjawab dan konsekuensi yang mengikutinya, baik di dunia maupun di akhirat. Kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban, ditagih, dan dibalas sekecil apapun perbuatan kita.

Jangan sampai kita menyalahkan “takdir” untuk setiap kejadian yang menurut kacamata kita sebagai manusia sebagai kejadian yang tak menyenangkan. Jangan membenarkan perbuatan kita dengan mengkambing-hitamkan “takdir”, hingga kita tidak mau bertanggung jawab dengan segala sikap dan perbuatan kita karena menganggapnya sebagai “takdir”.

Mulailah berhenti berpikir bahwa kesenangan dan kebahagiaan itu adalah bagian dari “kebetulan”. Karena peristiwa sekecil apapun yang terjadi pada kita telah tertulis di skenario-Nya. Dan berhentilah menyalahkan takdir dan menghibur diri dengannya saat sedang kesusahan. Karena seburuk apapun itu, pasti sudah ada dalam rencana-Nya, dan pasti ada hikmah yang bisa kita ambil di dalamnya.

Sekali waktu mungkin kamu merasa begitu bodoh, putus asa, kosong, buntu, hampa, bahkan mengerikan. Duduk salah, tidur keliru, tiba-tiba ingin menangis, meski tidak tahu apa yang ingin ditangisi. Merasa sesak sampai tidak bisa bernapas meski tidak tahu apa yang membuatmu merasa tercekik. Merasa sunyi sampai terasa nyeri dan ngilu di ulu hati sampai rasanya nyaris seperti gila. Itu bukan “kebetulan”. “Kebetulan” hanyalah kata-kata kita, saking tidak sanggupnya menggambarkan pemahaman kita terhadap rencana-rencana-Nya.

Jadi, sungguh, tidak ada yang namanya kebetulan. Semuanya telah dirancang dengan begitu sempurna, rapi, detail, dan tanpa cacat secuil pun.

Maka cobalah berhenti sebentar saja dan pikirkan dengan sungguh-sungguh. Apakah sebuah “kebetulan” bisa menjelaskan mengapa ‘ini’ dan ‘itu’ terjadi? Kebetulan kah tulisan ini tentang “kebetulan”? Mungkin saja segala hal yang telah terjadi itu adalah Allah yang sedang mencoba ‘berbicara’ kepada kita. Mengapa kita tidak mencoba lebih dekat kepada-Nya?

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-15 Jumat, 05 Januari 2018/17 Rabiul Tsani 1439 H

Author: Devi Ernawati

ABOUT THE AUTHOR

Devi Ernawati


COMMENTS