Siang yang terik, saya bergegas ke sebuah masjid di pusat kota Yogyakarta. Setelah berwudu agak tergesa, saya langkahkah kaki dengan cepat menuju tempat sujud yang letaknya tidak jauh dari ruangan saya berkerja. Sesampai di masjid, khatib baru memulai khotbahnya. Mata saya menyusuri seluruh sudut, mencari sisa ruang yang bisa ditempati. Jamaah masjid di pusat kota selalu meluber setiap hari Jumat.

Tak berapa lama, saya menemukan ada senggang di shaf agak belakang. Saya masuk dan menyempatkan salat sunat. Setelah itu, menyimak dan mengikuti khotbah dengan seksama. Sampai di pertengahan, suara khatib yang memang lantang dengan jelas membicarakan sosok Abu Janda dan Felix Siauw. Memang beberapa hari lalu publik dunia maya diramaikan dengan dua sosok ini. Keduanya menjadi bahan pembicaraan setelah perdebatan di sebuah program acara stasiun TV yang berbuntut pada kirsuh saling olok tak berkesudahan. Maklum saja, keduanya memiliki banyak pengikut fanatik.

Awalnya saya menahan diri dan tetap mendengarkan khotbah yang panjang itu. Beberapa nama lainnya juga disebut khatib. Sontak, saya keluarkan smartphone. Di salah satu aplikasi chatting-an, tepatnya WhatsApp-story, saya mengetik dan mengunggah status seperti ini, “Mungkin saya salah, main HP lagi khotbah Jumat. Tapi khatib bicara Abu Janda dan Felix Siauw di atas mimbar apa guna? Tidur dulu ah. Ngoaaaaammm.

Hingga beberapa jam kemudian, saya mengecek jumlah orang yang melihat dan membaca status itu. Ternyata lebih 80 orang. Dari jumlah itu, ada 8 teman yang memberi komentar. Perempuan dan laki-laki. Yang perempuan tentu saja tidak pernah mengikuti khotbah Jumat, tetapi perempuan ini sering mendengar khotbah dari speaker masjid terdekat. Satu perempuan mengaku sudah tidak simpati dengan agama, oleh sebab beberapa penganutnya sering suka bertindak marah-marah. Dia lebih senang menghabiskan waktu untuk bermeditasi sebagai ganti ritual ibadah. Katanya, meditasi lebih bisa memberinya kedamaian dan kenyamanan hidup.

Sementara yang laki-laki, berkomentar bernada guyon, ada yang serius, dan ada juga yang penasaran. Kata mereka, “Pindah masjid aja. Aku pernah”//“Kalo aku mending pulang”//“Masjid mana bro”//“Mending ikut Jumatan sama Pak M**”//“Khotbah jaman now, anj**”//“Jangan suka berJanda.” Saya menyimpulkan bahwa saya bukan satu-satunya orang yang merasa tidak nyaman dengan isi khotbah seperti itu. Terburu-buru ke masjid untuk mendengarkan petuah sang khatib, namun yang dituai malah kecewa. Duh.

Beberapa waktu sebelumnya, saya juga mendapati seorang khatib yang dengan terang-terangan menyebut nama mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Padahal ini di Yogyakarta, bukan Jakarta! Bukan masalah setuju atau tidak, menyebut nama dengan sangat jelas seperti ini dalam sebuah khotbah Jumat sepertinya bukan pada tempatnya. Mimbar sepatutnya menjadi media menyuarakan pesan ayat-ayat suci dan wejangan nabi.

Al-Quran menyebut nama secara jelas hanya untuk orang-orang yang luar biasa ingkar dan ngeyelan. Misalkan nama yang disebut Al-Quran adalah Fir’aun dan Abu Lahab. Betapa sopannya Al-Quran ketika membicarakan sebuah kasus, tanpa harus menyebut nama. Terlebih jika tujuan penutur baik, dia cukup untuk menceritakan kasus demi mengambil pelajaran atau ibrah. Tentunya kasus yang relevan dan sesuai dengan konteks, tanpa perlu menunjukkan kebencian personalnya. Bias ini sangat tidak nyaman bagi jamaah yang beragam.

Terhadap sosok Fir’aun yang sangat sombong dan kufur sekalipun, Allah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk memperingatkannya dengan santun. Seperti ditunjukkan dalam QS Thaha [20]: 43-44, “Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.

Dalam konteks hari ini, sosok yang dibicarakan khatib berbeda dengan Fir’aun yang telah mengaku sebagai Tuhan dan memerintah dengan penuh kekejaman. Namun khatib menyebut dengan nada kebencian. Padahal, andaipun bermaksud untuk menasehatinya, harusnya dengan cara yang baik dan lebih bagus jika disampaikan langsung kepada yang bersangkutan, tidak di ruang publik (mimbar). Sementara dalam sebuah khotbah di suatu masjid, sosok yang dibicarakan belum tentu ada. Lalu, untuk apa membicarakannya? Apalagi disertai dengan memaki.

Khotbah merupakan bentuk ajakan untuk meningkatkan iman dan takwa. Khotbah merupakan seruan amar ma’ruf nahi munkar menuju kebaikan yang dipenuhi dengan cara-cara yang baik. Khotbah yang baik harusnya berisi pesan yang baik serta disampaikan dengan pilihan kata dan bahasa yang baik pula. Dari sisi efektivitas, khotbah yang baik adalah yang ringkas dan berisi pesan-pesan pokok dan disampaikan dengan santun. Khotbah seperti inilah yang diresapi oleh jamaah.

Namun ketika khotbah disampaikan dengan bahasa caci maki, maka tidak ada kebaikan yang tersisa darinya. Bukan tidak mungkin, tersebab caci maki kita, justru orang menjauh dari kebaikan. Tersebab khotbah yang penuh makian, orang menjadi malas mendengarkan khotbah Jumat. Dikarenakan bahasa khotbah yang bernada kebencian, justru jamaah tidak mendapat apa-apa. Efek dari khotbah yang semacam ini justru menjauhkan orang dari kebaikan, keimanan, dan ketakwaan.

Padahal Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi akhlak. Dalam keseharian, Allah dan Nabi Muhammad mengingatkan kita supaya tidak saling membicarakan keburukan orang, tidak menggosip (ghibah), tidak mengeluarkan kata-kata kotor, tidak memaki, tidak menggunjing, tidak memfitnah, tidak membicarakan aib orang lain. Apalagi dalam sebuah rangkaian ritual ibadah berupa khotbah.

Khotbah yang baik adalah yang memberi kabar gembira. Seorang khatib berperan menyampaikan pesan-pesan agama yang sejuk, memberi harapan, menyalakan semangat hidup, mengabarkan rahmat dan kasih sayang Allah. Khatib tidak bertugas sebagai polisi moral yang berhak menghakimi. “Jika mereka berpaling, maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).” (QS Asy-Syura [42]: 48).

Dalam QS Ar-Ra’d [13]: 40, kita juga diingatkan bahwa, “Sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.” Jika menghisab itu adalah tugas Allah, lalu mengapa manusia sesumbar mengambil alih dan lalu merendahkan sesama? Padahal di saat yang sama, dirinya belum tentu baik di mata Tuhan. Kita juga punya banyak cela.

Hari Jumat disebut sebagai sayyid al-ayyam, yang memiliki banyak keistimewaan. Bahkan dalam sebuah hadis disebut, dari satu Jumat ke Jumat selanjutnya, merupakan kafarat atau penebus bagi dosa-dosa manusia. Ketika Allah menjadikan Jumat sebagai penebus kekhilafan hamba-Nya, tentu sangat tidak elok bila para hamba justru menebar ketidakpatutan, menanam kedengkian, menyebabkan jamaah ngantuk dan lalu malas ke masjid.

Kata ‘Jumat’ sendiri memiliki makna berkumpul. Pada hari itu, umat Islam saling bertemu dalam sebuah jalinan ritual ibadah yang berdimensi sosial. Mereka saling bertatap muka dan berjabat tangan dengan para tetangga dan orang-orang baru. Khotbah Jumat harusnya menebar pesan Islam sebagai rahmatan lil alamin, pesan persatuan dan persaudaraan.

Mohammad Hatta pernah mengingatkan bahwa, “Apa yang dilakukan oleh orang setelah mendengar suatu khotbah jauh lebih penting dari apa yang dikatakannya tentang khotbah itu.”

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-14 Jumat, 29 Desember 2017/09 Rabiul Tsani 1438 H

Author: Muhammad Ridha Basri

ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Ridha Basri

Sehari-hari ngadem di Grha Suara Muhammadiyah


COMMENTS