kredit foto @langkahawal

Suatu hari, al-Qadhi ibn Quray’ah, seorang hakim agung di Baghdad, mengerjakan salat di rumah menteri sekaligus sastrawan bernama al-Muhallabi. Seperti merasa heran, Abu Ishaq al-Shabi’i yang juga sedang berada di sana, melirik al-Qadhi. Menyadari bahwa dirinya dilirik, al-Qadhi lalu berkata kepada Abu Ishaq setelah salam, “Kenapa engkau melirikku, wahai saudara penganut agama Shabi’ah*? Apakah engkau tertarik pada syariat shafiyah (yang murni)?!”

Abu Ishaq berkata, “Aku bahkan tidak mengerti apa yang engkau lakukan.”

Al-Qadhi bertanya, “Apa itu?

Abu Ishaq menjawab, “Engkau mengangkat kedua tanganmu ke arah langit dan merendahkan keningmu ke bumi (lantai). Di mana arah yang engkau inginkan?”

Al-Qadhi berkata, “Sesungguhnya kami mengangkat kedua tangan kami ke sumber rezeki kami dan merendahkan kening kami dari anggota tubuh kami lainnya. Untuk yang pertama, kami meminta agar rezeki-rezeki kami diturunkan; dan untuk yang kedua, kami mencoba menahan keburukan anggota-anggota tubuh kami. Apakah engkau belum mendengar firman Allah Swt, ‘Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu’ (Al-Dzariyat [51]: 22) dan firman-Nya, ‘Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain (Thaha [20]: 55)’.”

Al Muhallabi berkata, “Aku tidak mengira bahwa Allah Swt telah menciptakan orang sepertimu pada masamu!”

Terkait salah satu adab berdoa, Thawus ibn Kisan al-Khawlani al-Hamdani berkata,
“Nabi Saw pernah mendoakan sebuah kaum. Beliau mengangkat kedua tangannya lalu menengadahkan keduanya ke langit.”

Bagi orang awam, adab berdoa Nabi Saw itu barangkali akan direspons dengan pemikiran semacam, “Sesungguhnya Allah Swt itu suci dari segala arah, maka bukankah menengadahkan tangan ke arah langit berarti mengandaikan bahwa Allah Swt memiliki tempat?”

Al-Thurthusyi menanggapinya dengan mengatakan bahwa dalam beribadah kepada Tuhan, manusia mengangkat tangannya ke arah-Nya seolah-olah langit merupakan tempat dihaturkannya doa. Ini sebagaimana ketika mengerjakan ibadah salat, mereka menghadapkan wajah ke arah kiblat dan tanah, melekatkan dahi ke tanah (sujud) sambil menyucikan-Nya seraya berkonsentrasi pada Baitullah atau tempat sujud.

Langit adalah tempat asal diturunkannya rezeki dan wahyu, tempat rahmat dan berkah. Dari langit pula, hujan—sebagai rezeki—diturunkan ke bumi yang kemudian mengeluarkan keberkahannya dari bumi berupa tanaman dan tumbuh-tumbuhan.

Langit adalah tempat tinggal para malaikat, dan ketika Allah Swt telah memutuskan sebuah perkara baik atau buruk, maka Dia akan mewahyukan kepada malaikat dan malaikat akan turun ke bumi untuk mengabarkannya kepada para nabi maupun rasul sehingga penduduk bumi mengetahui perkara tersebut.

Begitupun ketika amalan-amalan manusia dihimpun atau dosa-dosanya diampuni, Allah Swt akan memberitahukan sekaligus meminta persaksian dari para malaikat. Di langit pula, Nabi Saw menjalani peristiwa mi’raj, di mana beliau dapat melihat orang-orang yang telah mati syahid serta para malaikat.

Jadi, ketika langit merupakan muara bagi perkara-perkara agung dan juga bagi qada-qadar, maka bisa dikatakan bahwa langit adalah arah utama bagi kepastian dan keteguhan penciptaan. Di langit pula, terdapat rumah lain yang menjadi dambaan (surga) dan doa-doa yang diarahkan kepadanya.

 

Sumber: Al-Ma’tsurat karya Abu Bakr al-Thurthuyusi al-Andalusi (450-520 H).

*Shabi’ah adalah agama yang dianut Abu Ishaq al-Shabi’i yang hampir sama dengan syariat Shafiyah (agama Islam). Dalam “Ta’rifat al-Manawi” disebutkan, penganut agama Shabi’ah meyakini bahwa mereka menganut agama Nabi Nuh as, dan kiblat mereka berada di sebelah utara saat tengah hari.

Author: Muhammad Yaser Arafat

ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Yaser Arafat

Peneliti kebudayaan, aktif di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta.


COMMENTS