Tokoh yang akan dibicarakan dalam tulisan ini bernama lengkap Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Abu Hamid Al-Ghazali Al-Mujtahid Al-Faqih Al-Ushuli Al-Mutakallim Ath-Thusi Asy-Syafi’i. Beliau lahir di Thus pada tahun 1058/450 H. Meninggal di tempat yang sama pada tahun 1111/505 H pada usia 52/53 tahun.

Abu Hamid Al-Al-Ghazali berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar ath-Thusi berkaitan dengan ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan, Persia (Iran). Sedangkan gelar asy-Syafi’i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi’i.

Ada banyak karya yang ditulis oleh Iman Al-Ghazali. Satu diantaranya adalah Mizanul Amal. Dalam karya tersebut, Al-Ghazali mengklasifikasikan nikmat menjadi lima macam. Pentingnya apa? Pentingnya untuk kita menyadari serta merasakannya andai kita mau menjadi bahagia. Adapun nikmat-nikmat tersebut adalah nikmat akhirat, nikmat jiwa, nikmat jasmani, nikmat eksternal, dan nikmat taufikiah.

Nikmat akhirat, menurut Al-Ghazali adalah nikmat yang tidak usah kita pikirkan, tetapi cukup diyakini. Sebab meyakini itu aja sudahlah menjadi kebahagiaan tersendiri—atau yang nantinya akan melahirkan kebahagiaan—selama itu dilakukan secara sadar. Adapun untuk menjadikan kita sadar yang benar-benar sadar atas adanya nikmat akhirat adalah melalui nikmat kedua, yakni nikmat jiwa.

Nikmat jiwa bisa mudah disadari dan dirasakan melalui beberapa cara, misalnya melalui pemenuhan gizi akal yang bisa dilakukan lewat belajar, diskusi, mengajar, menulis, dan sebagainya; melalui menjaga pribadi dengan selalu berhati-hati saat berinteraksi terhadap siapapun dan apapun; lewat membiasakan hidup secara seimbang, sesuai bidang, dan tidak keluar dari fitrah kita sebagai manusia. Pendek kata, cara atau langkah-langkah tersebut bertujuan sebagai jalan agar kita mudah untuk mendapatkan apa yang disebut “ketenangan jiwa”. Saat jiwa kita tenang, simpul Al-Ghazali, siapapun akan mudah menyadari nikmat pertama tadi dan kemudian berbahagia.

Namun, untuk mencapai ketenangan jiwa tentunya tidaklah semudah yang dibayangkan. Untuk itu, Al-Ghazali menawarkan agar kita untuk terlebih dahulu membereskan nikmat yang ketiga, yakni nikmat jasmani. Adapun yang dimaksud dengan nikmat jasmani tidak lain adalah membereskan dan menyadari dulu unsur-unsur jasmani kita. Ini bisa dilihat dari kesehatan fisik, kerapian, kebersihan, dan semacamnya. Selain berguna untuk memudahkan kita guna mencapai dan merasakan nikmat jiwa, pada dasarnya ini juga merupakan nikmat yang tidak bisa tidak—saat kita renungi—adalah alasan yang paling konkrit untuk kita menjadi bahagia.

Tak berhenti di situ, disebabkan memang manusia sulit untuk bersyukur dengan segala nikmat yang usai di depan matanya, Al-Ghazali masih tidak yakin manusia bisa dengan mudah menyadari dan menggapai nikmat ketiga tersebut. Oleh karena itu, Al-Ghazali mengenalkan nikmat eksternal untuk kita rampungkan terlebih dahulu sebelum melangkah ke nikmat jasmani. Identik dengan nikmat jasmani, nikmat ekternal ini berupa nikmat harta, kemuliaan, keluarga, dan lainnya. Saran Al-Ghazali, kita harus menyadari nikmat model ini terlebih dahulu, kita rampungkan dan baru melangkah ke nikmat jasmani, nikmat jiwa, dan akhirnya nikmat akhirat.

Terlepas dari jalinan nikmat itu semua, Al-Ghazali menyebut bahwa ilham, hidayah, dan semacamnya adalah termasuk bagian dari nikmat, tepatnya nikmat taufikiyah. Di sini pentingnya untuk kita menyadari dengan cermat apa saja ilham yang tengah kita dapat, sebab itu tidak lain adalah bagian dari bentuk nikmat yang amat berpotensi merekahkan bunga-bunga kebahagiaan.

Mengenal diri

Dalam buku Kimyatus Sa’adah, Al-Ghazali secara tegas menyebut bahwa salah satu kunci seseorang bisa mudah berbahagia adalah dengan memahami siapa dirinya. Dalam artian, mengetahui secara detail berapa porsi makannya, berapa jam normalnya dia tidur, bagaimana kondisi perasaannya saat dikecewekan, dan sebagainya. Sederhananya, mengenali kadar, bidang, kesukaan, dan porsi diri sendiri agar nantinya saat terlibat langsung dengan persoalan tertentu, kita bisa tegas mengambil posisi dan sikap. Sebab, andai persoalan tadi kita hadapi dengan tidak sesuai dengan ukuran kita, maka hanya akan mengakibatkan kesedihan.

Sekedar sebagai gambaran adalah porsi makan. Saat biasanya porsi makan kita cuma satu piring, maka meskipun suatu saat ada prasmanan, kita tidak perlu mengambil lebih dari satu piring. Kalaupun akhirnya mengambil dua piring, bisa dipastikan kita akan sakit perut atau bahkan bisa lebih dari itu.

Al-Ghazali mewanti-wanti supaya berhati-hati dengan hasrat atau keinginan. Adapun bentuk darinya bisa berupa keinginan untuk dianggap sebagai idola, keinginan untuk dihormati. Keadaan semacam itu harus diwaspadai, lantaran hal tersebut seringkali menutupi siapakah kita sebenarnya. Upaya untuk mengenali diri lebih mendalam bisa dilakukan dengan ber-muhasabah di setiap pagi-sore-malam dan melakukan kontemplasi di tempat sunyi dengan fokus pertanyaan: siapa aku, dari mana, mau ke mana, apa tujuanku hidup, mengapa di sini, dan berbagai pertanyaan se-pola lainnya.

Untuk membantu kita dalam berpikir terkait pertanyaan-pertanyaan tadi, Al-Ghazali memetakan tiga unsur dalam diri manusia, yakni unsur hewan, setan, dan malaikat. Hewan dalam wilayah ini bisa berupa ambisi, amarah, dan hasrat. Kemudian setan bisa berupa kecerdikan dan kreatifitas. Lantas malaikat adalah kecenderungan untuk selalu pasrah, taat, dan patuh. Ketiga unsur tersebut bukanlah untuk dibenamkan salah satunya atau dua darinya. Namun, itu semua untuk dipadukan hingga membentuk suatu keharmonisan yang berdampak pada lahirnya manusia harmoni atau—meminjam istilahnya Suryomentaram—menungso tanpo tenger.

Rupa-rupa kebahagiaan

Al-Ghazali membagi model kebahagiaan manusia menjadi lima, yakni model kebahagiaan hewan buas, kebahagiaan hewan ternak, kebahagiaan setan, kebahagiaan malaikat, dan kebahagiaan sejati. Model kebahagiaan hewan buas merupakan momen saat orientasi kebahagiaan kita adalah menang-kalah. “Kebahagiaan binatang buas itu dikala ia berhasil memukul dan membunuh”, kata Al-Ghazali.

Model kebahagiaan hewan ternak menggambarkan saat ketika orientasi kebahagiaan kita hanyalah urusan kenyang-lapar-kawin. Kata Al-Ghazali, “Sesungguhnya kebahagiaan binatang ternak itu di saat makan, minum, tidur dan melampiaskan hasrat hewaniahnya. Jika kita termasuk golongan mereka, maka bersungguh-sungguhlah dalam memenuhi kebutuhan perut dan kemaluan”.

Model kebahagiaan setan dijabarkan oleh Al-Ghazali dengan berhasil melakukan makar, berbuat kejahatan dan tipu muslihat. “Jika kita berasal dari golongan mereka, maka sibukkanlah diri kita dengan kesibukan setan”. Sedangkan kebahagiaan malaikat, “Tatkala ia menyaksikan indahnya kehadiran Tuhan. Maka jika kita termasuk golongan malaikat, bersungguh-sungguhlah dalam mengenali asal-usul kita, hingga mengetahui jalan menuju kepada-Nya dan terbebas dari belenggu syahwat dan amarah”.

Adapun model kebahagiaan sejati adalah perpaduan dari kesemuanya. Ini menjadi kebahagiaan yang sejati sebab pada prinsipnya fitrah manusia adalah semua unsur tadi. Saat manusia berhasil melakoni hidupnya sebagaimana fitrahnya, maka itulah manusia yang bahagia. Jalan untuk sampai pada model kebahagiaan sejati, meniscayakan adanya “ilmu”. Semakin banyak ilmu seseorang, semakin banyak pula kesempatannya untuk menjadi bahagia. Dan bagi Al-Ghazali, puncak dari ini semua adalah makrifatullah, suatu posisi yang tidak mungkin tercapai tanpa adanya ilmu.[]

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi-13, Jumat, 15 Desember 2017/26 Rabiul Awwal 1439 H

Author: Saifullah Muhammad

ABOUT THE AUTHOR

Saifullah Muhammad

Cah santri Ngaji Filsafat. Asal Kerek, Tuban. Tinggal di tepian Kali Gajah Wong Yogyakarta sejak 2013. Menyukai brokoli goreng. Sering rindu pada bau rumput yang baru dipotong.


COMMENTS