kredit gambar www.kalerkantho.com

Ini bulan dinamakan bulan Maulid. Orang Jawa membahasakannya sasi mulud. Baik maulid maupun mulud (maulud), keduanya bermakna sama, berbeda arti. Maulid artinya waktu atau tempat kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Sementara maulud artinya peristiwa dilahirkannya Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Dua-duanya menunjuk pengertian bahwa di bulan maulid atau maulud-lah Kanjeng Nabi Muhammad Saw dilahirkan ke dunia. Dua-duanya menegaskan bahwa bulan ini adalah bulan Muhammad.

Kawan saya, Fahmi Ali NH, memiliki catatan tentang tradisi perayaan maulid Nabi Muhammad Saw. Alkisah, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1137 M-1193 M) ketika hendak menyerang Jerussalem, perlu mengadakan suatu gerakan batin sebagai pengangkat moril dan semangat pasukan sebelum menuju medan laga. Maka ia mengadakan perayaan maulid nabi. Karena moril yang terangkat itulah, Jerussalem dapat ditaklukkan.

Nah, bagaimana di Nusantara? Tidak ada keterangan pasti kapan diadakan pertama kali, namun sejak zaman sebelum Kesultanan Demak ada dugaan acara maulid sudah sering diadakan untuk mengangkat moril pasukan mujahid sabilolah. Ada keterangan dari Kitab Al-Fatawi karya Ratu Bagus KH. Ahmad Syar’i Mertakusuma, Betawi, yang konon merupakan salah satu anggota Pitung.

Di dalam Kitab Al Fatawi tertulis: “Sebelum memasuki wilayah Sunda Kelapa untuk menahan kedatangan Pasukan Tempur Kerajaan Paringgi (Portugis), seluruh pasukan mujahidin yang berasal dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul di alun-alun Kesultanan Demak untuk mendengarkan Petuah Sultan Trenggana dan Fattahillah. Pada saat itu untuk mengangkat moral pasukan Jihad jilid 3 setelah jihad Malaka, maka Sultan Trenggana mengadakan Maulid Nabi secara besar-besaran, dan itu terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 933 Hijriah. Penyerangan itupun mampu membebaskan Sunda Kalapa dari Portugis dan diubah namanya menjadi Jayakarta, kota kemenangan.

***

Melalui kabar dari para sesepuh yang saya terima, bulan Maulid adalah poros segala lika-liku gerakan kehidupan umat muslim di nusantara. Orang-orang akan memulai perantauan ke berbagai negeri ketika bulan Maulid usai. Lalu mudik sebelum bulan Maulid datang. Mereka juga membeli dan memakai baju baru atau setidaknya baju lama yang bagus hanya di bulan Maulid. Bukan di bulan Syawal atau Idul Fitri seperti yang terjadi hari ini. Kata kawan saya di Surabaya: “Iyo, mbah, saya masih ingat dulu kalau bulan Maulud itu pasar tambah rame, banyak jualan topeng sama mainan khas maulud, pokoknya rame banget, pas menjelang maulud mesti ditumbasno mainan di pasar... Sekarang nggak gitu...”.

Kira-kira gambaran keadaan ketika bulan Maulid tiba itu dapat dibayangkan dari tradisi perayaan Sekaten di alun-alun utara Kraton Yogyakarta. Di luar bulan Maulid, tentu tidak ada perayaan, kemeriahan, kegembiraan, dan keramaian serupa. Meski beraura jual-beli, namun, Sekaten disemangati oleh prinsip pemuliaan kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Di bulan Maulid, semua orang yang merantau akan kembali merumah. Membawa cerita. Meskipun ada yang pontang-panting menyabung nasib di negeri orang, namun, karena sudah akan merayakan maulid di kala pulang, hati yang berserak dan nasib yang terpatah-patah itu akan terbasuh ketentraman. Keluarga perkeluarga akan berkumpul. Apalagi keluarga besar. Biasanya keberkumpulan itu diadakan pas di tanggal 12 Rabiul Awal. Banyak juga yang akan berkumpul di selain tanggal itu atas pertimbangan penantian anggota keluarga yang masih dalam perjalanan pulang. Sementara para perantau yang tidak bisa pulang, mereka pun akan bermaulid, bersalawat bersama dengan sesama perantau bernasib serupa. Kira-kira, peristiwa keberkumpulan di bulan Maulid dulu itu, persis kayak peristiwa keberkumpulan orang-orang sekarang di hari raya Idul Fitri. Bahkan mungkin lebih meriah lagi.

Di situ, di setiap perkumpulan keluarga biasanya akan dibacakan Kitab Maulid Barzanji atau Kitab Maulid Diba’i. Keduanya adalah kitab yang berisi cerita sejarah Nabi Muhammad saw. Mulai dari kejadian sebelum penciptaan, nasab, kelahiran, akhlak, sifat, gambaran wajah, serta puji-pujian terbaik yang dimadahkan. Semua tema itu ditulis dalam bait-bait prosa berkandung sastra tinggi dan berperut rasa ruhani. Sehingga pembacaannya selalu akan melayangkan para pembaca dan pendengarnya ke dalam kekhusyu’an.

Kitab Maulid Barzanji ditulis oleh Syeikh Ja’far al-Barzanji (1716 M-1764 M). Sedangkan kitab Maulid Diba’i ditulis oleh Syeikh Abdurrahman al-Diba’i (1461 M-1573 M). Keduanya sampai hari ini masih sering dibaca sebagian besar masyarakat muslim Indonesia. Orang Jawa biasanya mengatakan Barzanjen untuk menyebut tradisi maulidan dengan membaca kitab Maulid Barzanji. Sedangkan istilah Diba’an dipakai untuk melafalkan tradisi maulidan dengan membaca kitab Maulid Diba’i. Hari ini, ada kitab maulid terbaru yang sering dibaca oleh banyak orang, yaitu Simthud Durar, yang ditulis oleh Habib Ali al-Habsyi (1843 M-1915 M).

Di acara maulid itu, semua penghadir akan bersawalat. Memuji Kanjeng Nabi Muhammad Sang Lelananging Jagad. Makanan dibuat dan disuguhkan seenak-enaknya. Dimakan sekenyang-kenyangnya. Minuman diseduh dan dihidangkan selemak-lemaknya. Diminum sepuas-puasnya. Anak-anak, terutama yang masih bayi, digendong dan dikelilingkan pas mahallul qiyam atau fase berdiri setelah pembacaan riwayat berisi peristiwa kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Mahallul Qiyam di Maulid Barzanji biasanya akan disiapkan sejak di prosa “Walamma tamma min hamlihi …“. Hadirin akan mulai berdiri di kalimat “yatalala u sanaah…“. Sedangkan dalam Maulid Diba’i, mahallul qiyamnya disiap-siapkan mulai dari “Fahtazzal ‘arsyu tharaban was tibsyara …” dan dipuncaki oleh gerakan berdiri di kalimat “ka annahul badru fi tamaamih…“. Saat itulah, bayi-bayi itu lalu digendong-terima oleh ayah atau ibunya atau kakek-neneknya. Lalu dishalawati ubun-ubunnya oleh semua yang datang. Supaya hidupnya berkat. Keramat. Penyakit minggat. Bala-bencana kabur oleh kedatangan Nabi Muhammad Saw. pembawa syafaat.

***

Di Indonesia, perayaan maulid dengan membaca kitab-kitab maulid bahkan tidak hanya terjadi di bulan Maulid saja. Tapi juga di luar bulan Maulid. Di bulan Maulid sendiri, di beberapa kampung di daerah Jawa, setiap hari ada acara maulidan atau perayaan Maulid dengan membaca kitab maulid. Kaum ibu dan ayah akan berkumpul. Membaca shawalat, zikir, mengaji kitab. Di Jakarta, hampir setiap hari maulidan diadakan di gang-gang sempit, di antara himpitan gedung pencakar angkasa, di sela-sela hiruk-mabuk mesin-mesin industri kota.

Tradisi maulidan ini juga masih terus berjalan dan melumasi acara-acara besar masyarakat muslim di Indonesia. Di Sumatera Utara, kitab Maulid Barzanji akan dibacakan di setiap acara pernikahan, aqiqahan, khitanan. Di Jawa juga sama. Bahkan saya dapat cerita bahwa dulu di Jawa, sebelum sebuah keluarga membuat dan memasuki rumah baru, mereka terlebih dahulu akan membacakan kitab Maulid Barzanji. Lengkap dengan penghidangan makanan-minuman dalam niat sedekah.

Hari ini sudah jarang ditemukan tradisi luhur serupa. Bahkan, di kampung kami, saat ini para pembaca Maulid Barzanji hanyalah kaum ibu. Dulu, saat saya masih anak-anak, kaum ayah bahkan punya grup pembaca maulid. Saat ini nyaris punah. Sementara kaum muda sudah terlempar jauh dari kepandaian membaca maulid Barzanji. Apalagi, di setiap acara pernikahan, pembacaan maulid Barzanji dianggap acara sepele. Kalah oleh tradisi orkes. Saya berlindung pada Allah dari pikiran yang zalim. Wallahu a’lam.

Author: Muhammad Yaser Arafat

ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Yaser Arafat

Peneliti kebudayaan, aktif di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta.


COMMENTS