Joko Arizal

Barangkali kini kita tidak asing lagi dengan munculnya pengajian-pengajian di hotel mewah, pelaksanaan haji dan umrah melalui biro perjalanan yang dilengkapi fasilitas wah, zikir bersama yang berderai air mata yang disorot kamera, menyerbaknya penggunaan pakaian islami yang fashionable. Itu semuanya sebagai peristiwa, simbol, dan atribut identitas baru, tepatnya sebagai penanda kesalehan sosial dan prestise khususnya bagi muslim kelas menengah.

Sebetulnya fenomena sosial-keagamaan semacam itu bukanlah hal yang baru, melainkan sudah muncul pada masa Orde Baru. Hanya saja waktu itu belum begitu berkembang pesat dan ramai seperti saat ini. Sejak 1980-an, di Indonesia sudah muncul sebuah lapisan masyarakat baru yang disebut sebagai kelas menengah (middle class). Kemunculan kelas baru ini difasilitasi oleh suksesi pembangunan ekonomi dan transformasi pendidikan sebagai akibat dari program modernisasi yang dijalankan pemerintahan Orde Baru.

Dampak dari kemakmuran ekonomi dan transformasi pendidikan itulah yang kemudian menjadikan Indonesia memiliki sejumlah besar tenaga ahli, yang terdiri atas para pekerja profesional, teknokrat, kalangan terpelajar, akademisi, artis, dan sumber daya manusia lainnya yang cukup qualified. Dengan perkembangan kelas menengah yang kian pesat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Daya beli masyarakat terhadap produk dalam negeri maupun impor menjadi pemicu perputaran ekonomi yang kian pesat.

Memang, dari kelas menengah sendiri banyak diharapkan menjadi agen perubahan. Sebab, mereka memiliki kemampuan lebih besar secara ekonomi, lebih berpendidikan, dan posisi secara sosial tentu lebih baik. Namun sebagian besar kelas menengah Indonesia itu ternyata lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat material.

Perkembangan kelas menengah ini cukup mengkhawatirkan, karena pola konsumsi mereka semakin menggelora. Hal ini dapat menyebabkan kelas menengah terjerat pada konsumerisme. Filsuf Rene Descartes mengatakan, “Aku berpikir, maka aku ada” (cogito ergo sum), maka pada konteks ini, “Aku berbelanja, maka aku ada” (emo ergo sum) menjadi diktum (ucapan) kelas menengah muslim itu. Biar bagaimana pun, diktum itu tetap bisa fashionable dan dengan sendirinya prestise sekaligus saleh.

Budaya konsumerisme merupakan sebuah budaya konsumsi yang ditopang oleh proses penciptaan pembedaan secara terus-menerus melalui penggunaan objek-objek komoditas. Sebuah budaya belanja yang proses perubahan dan perkembangbiakannya didorong oleh jalan pikir hasrat dan keinginan, ketimbang pola pikir kebutuhan. Jadinya aktivitas konsumsi yang sebelumnya berkaitan dengan pemenuhan nilai fungsi, kini dimuati dengan nilai-nilai status, simbol, dan prestise. Budaya konsumerisme menciptakan rasa ketidakpuasan yang tak berkesudahan terhadap penampilan, fungsi, dan penampakan citra diri.

Hal itu dilakukan dengan menciptakan kebutuhan yang bukan esensial, melainkan artifisial alias buatan. Dari sana, budaya konsumerisme akhirnya membangun perasaan kurang atau perasaan tidak sempurna pada diri setiap orang dan mendorong mereka terus mengonsumsi. Dengan begini orang dikondisikan untuk menginginkan sesuatu yang tidak dibutuhkannya. Apalagi zamannya onlineshop sekarang ini, orang dibuat semakin manja berbelanja apa saja, tak peduli meski kantong cekak dan barang yang dibeli lantaran semata menuruti hasrat, keinginan untuk memuaskan diri.

Menariknya, di samping pola dan gaya hidup konsumtif itu, fenomena lain yang berkembang pada kelas menengah adalah semangat kembali pada kehidupan agama, khususnya kelas menengah yang beragama Islam. Kemakmuran ekonomi, status sosial, dan posisi strata mendorong kelas menengah pada intensitas keagamaan. Ditambah juga dengan perubahan sosial yang cepat yang mengakibatkan sekularisasi kebudayaan justru mendorong sikap kembali pada ketaatan agama.

Ketika masyarakat digempur oleh perubahan sosial yang cepat, maka kebutuhan terhadap hal-hal yang spiritual mengalami peningkatan. Dengan begitu hebatnya kegiatan tersebut, terjadi gejala dislokasi sosial yang luas dan menghinggapi masyarakat yang sedang berubah cepat. Banyak orang kemudian kembali pada agamanya untuk memperteguh diri sebagai reaksi atas berantakannya tatanan nilai-nilai moral, sosial, dan tradisional yang terjadi di sekitar mereka.

Melihat kondisi demikian itu, pola dan gaya hidup kelas menengah yang terbangun dari budaya konsumerisme, berpengaruh terhadap pola keberagamaan mereka. Konsumerisme bersama ideologi yang dibawanya telah mempengaruhi berbagai bentuk kehidupan, termasuk kehidupan keagamaan. Agama dan praktik keagamaan telah menjadi bagian dari skema budaya konsumerisme.

Konsumerisme merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ideologi ekonomi kapitalisme, dan di dalamnya kebudayaan diciptakan sebagai bagian dari logika pasar dan komoditas yang diperjualbelikan. Akhirnya agama, khususnya praktik ritual keagamaan, menjadi bagian dari komoditas. Ia dikembangkan dalam rangka mencari keuntungan. Bentuknya bisa jadi pengajian tetapi di baliknya ternyata jualan, dodolan. Dalam hal ini kelas menengah menjadi segmen pasar yang menjanjikan bagi para pemilik modal.

Untuk memenuhi hasrat kelas menengah itu, para pemilik modal mengonstruksi dan menciptakan simbol atau atribut yang mampu menampilkan citra yang bersifat religius, bermerek dan bergengsi, sehingga kesalehan sangat ditentukan oleh daya beli dan kemampuan material. Semakin kaya seseorang, maka orang tersebut akan semakin mampu menampilkan ketakwaannya yang lebih bergengsi di mata publik. Alhasil, kesadaran keislaman masyarakat, termasuk kelas menengah muslim, mengalami pergeseran dari substansial ke material; dari semula pergi ke tanah suci untuk murni ibadah, misalnya, menjadi pelesiran yang berbungkus ibadah.

Bagi kelas menengah, adalah sebuah kelumrahan untuk mencari dan mengkaji identitas keberagamaan mereka. Namun tragisnya, tradisi Islam yang dimaksud bukanlah pencarian identitas agama dan makna agama bagi pencarian hidup bersama yang lebih baik. Namun, menurut Moeslim Abdurrahman, pencarian keislaman kelas menengah sekarang lebih dibentuk oleh pembentukan kesalehan, kemodernan, dan gaya hidup. Maka jangan heran jika simbol dan ritual keagamaan memiliki fungsi baru yaitu sebagai penanda strata, status, dan prestise di kalangan kelas menengah yang modern untuk tetap menunjukkan jati diri sebagai orang saleh di tengah zaman yang terus berubah.

Author: Joko Arizal

ABOUT THE AUTHOR

Joko Arizal

Alumni Pascasarjana Sosiologi UGM. Kini dosen di Universitas Paramadina, Jakarta


COMMENTS