Salah satu nama yang sering disebut ketika berbicara tentang dunia sufi adalah sosok Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Ia merupakan tokoh sufi terkenal yang memiliki banyak pengikut, dan berpengaruh sangat besar di dunia Islam, termasuk di Indonesia.

Konsep spiritualitas al-Jailani yang menekankan keseimbangan tiga pilar Islam: iman (aqidah), Islam (syari’at), dan ihsan (akhlak-tasawuf) memiliki daya tarik tersendiri. Pandangannya bahwa untuk mencapai makrifat, jalan utama yang harus ditempuh adalah syariat yang telah ditetapkan Allah melalui Nabi Muhammad saw. merupakan gagasan yang menarik banyak minat pengikutnya.

Al-Jailani lahir di sebuah kota kecil bernama Niff, distrik Jailan, sebelah utara Persia dan selatan laut Kaspia pada 1 Ramadhan, tahun 470 H/1077–1078 M, dengan nama lengkap Abdul Qadir bin Abu Salih Abdullah ibn Janki Dusat al-Jailani. Ia merupakan anak bungsu dari seorang ibu bernama Fatimah binti Abdullah ash-Shama’i, yang saat itu berusia 60 tahun lebih (usia yang dianggap tidak produktif lagi bagi seorang perempuan).

Tak lama setelah kelahiranya, ayahnya wafat. Sejak kecil al-Jailani diasuh oleh kakek dari pihak ibunya, Abdullah al-Shuma’i, yang dikenal zuhud dan ahli ibadah. Di bawah asuhan ibu dan kakeknya, al-Jailani mendapat pelajaran tentang ushul dan furu’ syariat, ketakwaan, kesalahan, dan akhlak mulia.

Lahir dari keluarga miskin tidak membuat al-Jailani meratapi nasibnya. Sejak kecil, ia bekerja di pertanian. Ia juga menggembala hewan ternak kepunyaan penduduk setempat. Dan kekagumannya pada Bagdad sebagai pusat keilmuan dan budaya dunia membuatnya memiliki keinginan kuat untuk menimba ilmu ke sana. Memasuki usia 18 tahun, al-Jailani berangkat ke Baghdad untuk memperdalam pemahaman agamanya.

Di Baghdad, al-Jailani belajar selama 33 Tahun (488 H–521 H). Kehidupan al-Jailani selama masa belajarnya tidak banyak diketahui, kecuali dari potongan-potongan riwayat tentangnya. Ia banyak menghabiskan waktu mengasingkan diri di gurun atau di tepi sungai, berjalan tanpa alas kaki, tidur di gubuk yang hampir roboh.

Al-Jailani muda digelari al-Majnun (gila). Bahkan, karena krisis moralitas yang mendera Baghdad kala itu, membuat al-Jailani menyendiri di pinggiran Kota Baghdad, di sebuah menara yang dikenal dengan Burj al-Gharib (Menara Orang Asing), di daerah al-Mada’in, dan direruntuhan Istana Kisra selama beberapa tahun. Setelah pribadi dan jiwanya kuat, barulah ia kembali ke Baghdad untuk mendalami ilmu fikih, hadis, adab, ulumul Quran serta tasawuf.

Al-Jailani berlajar fikih dan ushul fikih kepada Abu Khaththab Mahfuhz ibn Ahmad al-Kaludzani al-Hanbali (432–510 H), Abu al-Wafa Ali ibn ‘Uqail (431–413 H), dan Al-Qadhi Abu Sa’d al-Mubarak ibn Ali al-Mukharrami (w. 528 H) dan Abu Hasan Muhammad ibn al-Qadhi Abu Ya’la al-Fira’ al-Hanbali. Ilmu hadis dipelajarinya dari Abu Ghalib Muhammad ibn al-Hasan al-Baqilani, Abu Bakar Ahmad ibn Muzhaffar, Abu al-Qasim Ali ibn Bayan ar-Razaz, Abu Muhammad Ja’far ibn Ahmad al-Siraj, Abu Sa’d Muhammad ibn al-Khusyaisy, dan Abu Thalib ibn Yusuf. Sedangkan ilmu bayyan dan balaghah dipelajarinya dari Abu Zakariya Yahya ath-Thabrizi (w. 502 H).

Di bidang tasawuf, ia banyak belajar kepada Abu Muhammad Ja’far ibn Ahmad as-Siraj (w. 509 H), Syaikh Hammad ibn Muslim Ad-Dibbas (w. 525 H), dan Al-Qadhi Abu Sa’d al-Mubarak ibn Ali al-Mukharrami. Ia juga belajar ilmu-ilmu al-Qur’an, qira’at al-Qur’an, dan Tafsir pada Abu Wafa ibn ‘Uqail al-Hanbali dan Abu Khaththab Mahfuhz ibn Ahmad al-Kaludzani al-Hanbali.

Fase kehidupan al-Jailani berubah ketika salah satu gurunya, al-Qadhi Abu Sa’d al-Mubarak ibn Ali al-Mukharrami yang membangun madrasah di Babul Azaj. Al-Jailani kemudian diserahi untuk mengurus madrasah itu. Di tempat itulah, al-Jailani mengajar, memberi fatwa, nasihat, dan bimbingan. Sebagai seorang guru, al-Jailani terbilang sukses. Ia mengajar banyak ulama atau orang awam. Selama 33 tahun menjadi pengajar, ia telah melahirkan ratusan ribu orang murid, yang salah satunya Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qadamah al-Muqaddasi (penulis al-Mughni).

Al-Jailani lebih dikenal sebagai tokoh sufi, meskipun sebenarnya ia juga menguasai berbagai bidang keilmuan. Selain itu, al-Jailani juga dikenal sebagai tokoh yang banyak menghasilkan karya. Muhammad Fadhil al-Jailani, (keturunan ke-25 al-Jailani), menyebutkan lebih dari 100 karya al-Jailani. Brockelman (peneliti asal Jerman) menyatakan terdapat 52 kitab yang dikarang oleh al-Jailani. Sementara dalam Ensklopedia Agama Islam Turki ditulis biografi al-Jilani dengan menyertakan sejumlah riwayat tentang jumlah kitabnya. Salah satu riwayat menyebutkan jumlah karangannya sebanyak 51 kitab, dan riwayat lain menyatakan 1.000 kitab, meskipun ini masih diperdebatkan. Karya-karya al-Jailani yang cukup terkenal, misalnya, Al-Ghunyah li-Thalib Thariq al-Haqq, Futuh al-Ghayb, Sirr Al-Asrar, dan Al-Fath al-Rabbani wa al-Faydh al-Rahmani.

Sepucuk surat dari Syekh Abdul al-Qadir yang terdapat dalam buku Sirr al-Asrar, yang diterjemahkan oleh Zainul Am (2008: 7–10) untuk mengakhiri tulisan ini:

Sahabatku,

Hatiku adalah cermin yang kotor. Bersihkanlah debu yang melekatinya, karena hati ditakdirkan untuk memantulkan cahaya hakikat Ilahi.

Jika cahaya dari Allah, yang merupakan cahaya langit dan bumi… menerangi hatimu, ia akan menyalakan lentera hatimu, yang berada di kaca yang bening, dan kaca bening itu bersinar terang bagaikan bintang… Dan, berkilaulah bintang Ilahi dalam hatimu. Kilauan ini memancar dari awan makna yang tak berasal dari Timur maupun Barat, menyala dari pohon zaitun… cahaya itu memantul dari pohon itu, sangat jernih dan terang seolah-olah memancarkan cahaya meski tak disentuh api (an-Nuur: 35). Ketika itulah, lentera hikmah menyala terang. Bagaimana mungkin ia padam jika cahaya Allah menerangi seluruh relungnya?

 Hanya jika cahaya hakikat Ilahi menyinarinya, barulah langit malam hakikat menjadi terang disinari ribuan bintang… dan dengan bintang-gemintang (kau akan) temukan jalan(mu)…(an-Nahl: 16).

Bukan bintang-bintang itu yang menunjukimu, melainkan cahaya Ilahi. Sebab, Allah telah… menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang (Yaasiin: 36). Hanya jika lentera hakikat Ilahi dinyalakan dalam sanubarimu, segalanya akan datang, serempak seketika atau sedikit demi sedikit. Sebagiannya telah kau ketahui, dan sebagian lainnya akan kami jelaskan di sini. Baca, dengar, dan pahamilah.

Kehadiran Ilahi akan menyirnakan sisi gelap kebodohan. Kedamaian dan keindahan purnama akan terbit dari ufuk cahaya di atas cahaya (an- Nuur: 35) yang senantiasa terbit di langit, melintasi garis edar yang telah ditakdirkan Allah (Yaasiin: 36) sehingga ia bersinar megah di pusat langit, memecah kegelapan lalai. (Aku bersumpah) demi malam apabila ia menggelap… (ad-Dhuha: 2) demi cahaya pagi yang benderang… (ad-Dhuha: 2) malam kebodohan akan menyaksikan cerahnya siang.

Kemudian, kau akan mencium harumnya zikir dan bertobat di saat fajar (Ali Imran: 17), menyesali umur yang kau habiskan dalam tidur.

Semua ini berawal sejak kau membersihkan cermin hati.[]

Author: Abu Nirsangkan

ABOUT THE AUTHOR

Abu Nirsangkan

cah angon


COMMENTS