kredit foto @langkahawal
Devi Ernawati

Menurutku, ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memperlihatkan cinta kita pada Tuhan. Para musisi dengan musik dan lagunya. Para perupa dengan lukisan dan pahatannya. Para penyair dengan puisi-puisinya. Atau, kita bisa mencintai-Nya dengan diam, jika kita takut keliru.

Salah satu yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan cinta kita kepada Tuhan adalah dengan melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya melakukannya untuk memenuhi kewajiban. Bukan hanya melakukannya karena diperintahkan atau dilarang. Bukan melakukannya karena takut dengan adanya balasan surga atau neraka. Tapi melakukan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya dengan sebenar-benarnya. Melakukannya dengan niat ‘ingsun’.

Mungkin tak terhitung sudah berapa kali kita melakukan perintah-Nya, mulai dari salat wajib, salat sunnah, puasa, zakat, dan berbagai perintah-Nya yang lain. Tak terkira beratnya kita berusaha menjauhi larangan-larangan-Nya. Tapi sudahkah kita melakukannya dengan sungguh-sungguh? Dengan niat yang betul-betul ikhlas lillahita’ala?

“… Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorangpun dengan Rabb- nya.” (QS Al-Kahfi [18]: 110).

Dalam salah satu ayat dalam Al-Qur’an ini, Allah dengan jelas memerintahkan kita untuk mengerjakan amal shalih dengan tidak menghendaki selain-Nya. Atau sederhananya, Allah memerintahkan kita untuk ikhlas.

Seperti yang kita semua tahu, setan telah berjanji akan selalu menggoda anak keturunan Adam agar rusak segala amal-amal kebaikan dan tak akan berhenti sampai hari kiamat tiba. Salah satunya adalah dengan cara berusaha membengkokkan niat kita.

Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (QS Al-Hijr [15]: 39-40).

Seperti yang dengan jelas dikatakan dalam ayat tersebut, setan, yang telah sejak zaman Nabi Adam berjanji untuk selalu menggoda manusia sampai hari kiamat tiba, itu bahkan enggan mengganggu orang-orang yang dari awal sudah niat ikhlas. Kalau kita logika, betapa dahsyatnya kekuatan ikhlas itu, sampai-sampai setan enggan mengusik orang-orang yang dipenuhi dengan keikhlasan.

Mari bersama-sama kita memikirkan kembali satu hal yang pernah kita lakukan. Seperti misalnya ketika kita sedang berbelanja di minimarket, katakanlah kita mendapat kembalian uang logam seribu rupiah. Nah, kebetulan di meja kasir pas di depan kita ada kotak infak. Masuklah uang logam bernilai seribu rupiah dalam kotak infak tadi. Sambil lalu kemudian berkata dalam hati, “Malu sama mbak kasir, seribu rupiah saja diambil..” atau “Semoga bisa enteng jodoh..” atau berbagai pengharapan lainnya yang tidak mungkin orang lain tahu karena dikatakan dalam hati. Nah, hati-hati. Kata-kata yang kelihatannya sepele tadi bisa merubah seribu rupiah menjadi sia-sia karena niat kita yang sudah bengkok. Tidak lagi menginfakkan seribu rupiah dengan niat ikhlas ingin membantu yang membutuhkan. Niatnya sudah bercabang.

Tahu syair lagu Ahmad Dhani dan alm. Chrisye? “… Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkan kau bersujud kepada-Nya…” Saya kemudian merasa tersentil setelah benar-benar memahami dan meresapi bagian lirik lagu ini. Benar apa yang dikatakan, jika surga dan neraka tidak pernah ada, apakah aku, kamu, kita masih akan tunduk kepada-Nya? Jika surga dan neraka tidak pernah ada, masihkah kita akan selalu menyebut-nyebut nama-Nya? Atau selama ini kita hanya menyembah-Nya karena takut dengan neraka? Kalau begitu, alangkah ruginya. Berarti kita selama ini bersujud tidak dengan sepenuh hati, melainkan karena reward surga dan neraka telah membengkokkan niat kita tanpa sadar.

Kisah Hajar dan Ibrahim

Ikhlas adalah sebuah wujud dari keyakinan yang sempurna, tanpa syarat, kepada Sang Maha Sempurna. Ikhlas adalah sanggup memberi tanpa mengharapkan imbalan apapun. Ikhlas adalah penyerahan diri seutuhnya kepada sang pemilik dengan sadar sepenuh hati, bukan karena perintah, bukan karena reward yang dijanjikan, bukan karena sudah terpojok tak punya jalan lain.

Masih ingat dengan kisah Hajar dan suaminya, Ibrahim? Saat itu Ibrahim meninggalkan isterinya Hajar dan puteranya, Ismail, yang masih kecil di padang pasir yang tandus dan kering. Ketika itu Hajar yang kebingungan dan ketakutan kemudian mengejar Ibrahim sambil menggendong Ismail dan bertanya, “Apakah yang dilakukannya adalah perintah Tuhan?”

Ibrahim menghentikan langkah mendengar pertanyaan Hajar kemudian menjawab dengan tegas, “Aku akan meninggalkan kamu beserta putra kita dalam pengawasan Allah. Aku berharap akan dapat kembali lagi ke sini secepatnya, Insya Allah!” Hanya dengan sepotong kalimat itu. Tanpa ada penjelasan lebih lanjut bla-bla-bla. Dan Hajar langsung terdiam, tidak menuntut jawaban lebih lanjut. Baginya, satu kalimat Ibrahim sudah merupakan jawaban yang sangat jelas. Hajar kemudian malah berkata, “Kalau ini perintah Tuhanmu, tinggalkanlah kami. Pergilah dan jangan khawatir. Tuhan yang akan menjaga kami.”

Ibrahim yang mendengar kata-kata istrinya langsung melangkah pergi dengan mantap. Dilema yang sempat menghampirinya, antara pergi mengabdi atas perintah Tuhannya dan “menelantaran” istri dan anaknya, musnah seketika.

Setelah Ibrahim pergi, Hajar tinggal berdua dengan putranya, Ismail, di padang tandus tersebut. Ismail yang masih kecil kemudian tampak haus dan lapar, tapi hanya bisa menangis keras. Sedangkan Hajar yang panik mendengar tangis putranya hanya bisa berlari-lari mencari kafilah yang mungkin lewat diantara bukit Shafa dan bukit Marwa. Saking lelahnya, bahkan Hajar sampai-sampai tertipu fatamorgana sehingga ia seolah-olah melihat air di kedua bukit itu.

Setelah lelah dan hampir putus asa karena tidak juga mendapatkan air, Hajar kemudian kembali ketempat Ismail. Namun anehnya tidak terdengar lagi tangis Ismail. Dan Hajar semakin kaget ketika ia melihat di bawah kaki Ismail mengalir air. Hajar pun kemudian mengambil air tersebut dan memberikannya kepada Ismail.

Itulah salah satu kisah romantisme keikhlasan yang mungkin tidak ada tandingannya di zaman ini. Hajar dengan ikhlas melepas kepergian suaminya, Ibrahim, untuk pergi karena perintah Allah. Hajar tidak mengeluh. Hajar tidak takut akan kelaparan dan kehausan ditinggal di tengah padang pasir tanpa bekal. Ia ikhlas. Dan karena keikhlasannya, Allah memberikan balasan berupa mata air yang muncul dari bekas telapak kaki Ismail, yang hingga kini tidak pernah kering meskipun diambil terus menerus, itulah air zam-zam.

Andai kisah Hajar dan Ibrahim tadi terjadi saat ini. Ada seorang perempuan dan anaknya yang masih balita ditinggal suaminya di tengah padang pasir yang kering kerontang tanpa bekal yang layak oleh suaminya. Saya yakin hampir tidak akan ada yang akan seikhlas Hajar. Membiarkan pergi suaminya dengan alasan “sekedar” perintah Tuhan.

Ikhlas adalah ketika kita memilih untuk patuh, padahal kita bisa saja melawan. Ikhlas adalah ketika kita memilih berhenti, padahal kita bisa terus saja berlari mengejar. Ikhlas bukan menghitung hasil. Ikhlas ya ikhlas. Tak ada koma. Ikhlas bukanlah perkara yang gampang. Sulit. Sangat sulit malah. Namun, jika sudah memutuskan untuk melakukannya, maka lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Dengan niat yang tulus. Semampumu. Dan Tuhanmulah yang akan menilainya. Wallahu a’lam.

*Buletin Masjid Jendral Sudirman, Edisi – 41 Jumat, 04 Agustus 2017/04 Dzulqo’dah 1438 H

Author: Devi Ernawati

ABOUT THE AUTHOR

Devi Ernawati


COMMENTS