kredit foto @langkahawal
Kaha Anwar

Bagaimana bila, dahulu yang diutus Allah menjadi khalifatullah fil ardh ini bukannya manusia, melainkan malaikat atau kalangan setan saja. Akankah bumi tidak mengalami seperti sekarang ini?

Bagaimana bila, yang dimakan Adam dan Hawa bukan buah khuldi, melainkan alpukat atau stroberi. Akankah mereka tetap tinggal di surga, menikmati taman-taman yang indah dengan berbagai persediaan, tinggal ngomong langsung ada, dan tak perlu bertelanjang diri lantas repot-repot memungut dedaunan untuk menutupi aurat mereka?

Bagaimana bila, ternyata Allah mengampuni Adam dan Hawa yang telah telanjur makan buah khuldi dan tidak menurunkan mereka ke dunia fana? Mereka tetap tinggal di surga, kemudian menikmati buah khuldi yang ranum-ranum, yang tumbuh di pinggir surga, tanpa ada lagi perasaan takut akan murka Tuhan. Sebab, mereka tahu bahwa maafnya Tuhan lebih besar daripada dosa memakan secuil buah khuldi. Kemudian, mereka dengan kepintarannya membuat kejutan-kejutan di surga, jualan buah dan manisan, mirip di supermarket-supermarket.

Bagaimana bila, pertemuan Adam dan Hawa bukan di tanah Arafah, melainkan di Yogyakarta, tepat di Tugu Yogya berdiri? Kemudian, mereka berdua kembali berpisah lagi. Adam menuju Merapi. Hawa menuju Laut Kidul. Mereka asyik dengan dunianya masing-masing. Adam mengelola dan menjadi juru kunci Merapi, mendirikan villa-villa megah dan disewakan kepada pengunjung surga yang bosan dengan suasana akhirat. Sedangkan Hawa menjelma menjadi Kanjeng Ratu Kidul yang cantik jelita. Dari istananya, Hawa memandang puncak Merapi yang kemedul dan tersenyum kangen.

Bagaimana bila, ternyata anak-anak Adam dijodohkan sesuai kehendak mereka, dan kemudian mereka hidup damai, tanpa ada peristiwa pertumpahan darah, perang saudara gara-gara masalah perempuan. Dinasti Adam ini hidup damai, ayem tentrem, bercocok tanam dan tak pernah mengenal perang.

Bagaimana bila, Allah menyuruh Nabi Nuh membuat pesawat terbang, bukan kapal laut. Nabi Nuh kemudian belajar menyetir pesawat terbang bersama anaknya, Kan’an. Semua umatnya diangkut dengan pesawat terbang itu dan menikmati daerahnya yang tersapu banjir bah dari dalam pesawat sambil dilayani para pramugari yang cantik-cantik. Dan kemudian mendarat di Bandara Adi Sucipto.

Bagaimana bila, yang di belah Nabi Musa bukanlah lautan, melainkan durian yang dibawa sebagai bekal perjalanan kaumnya. Kemudian, bala tentara Firaun ditawari makan. Akhirnya, mereka makan buah durian bersama-sama. Kemudian mereka kembali lagi ke Mesir, membatalkan tujuan semula menuju ke tanah Israel. Firaun dan Nabi Musa hidup berdampingan, damai tanpa ada konflik.

Bagaimana bila, Nabi Muhammad saw. menerima tawaran kaum kafir Quraisy bergantian ibadah: sehari menyembah Tuhannya Muhammad saw. dan sehari menyembah berhalanya kaum Quraisy. Begitu seterusnya.

Bagaimana bila, ternyata Indonesia tidak memerdekakan diri. Indonesia ikut menjadi negara boneka salah satu negara penjajah, misalnya Inggris. Dan waktu acara pernikahan Pangeran Wiliam-Kate, Pak SBY diundang dan menjadi saksi pernikahannya mereka. Sedangkan para rakyat Indonesia di minta bantuannya untuk rewang-rewang acara pesta.

Bagaimana bila, ternyata Amerika Serikat menggempur Irak dan negara lainnya bukan dengan senjata-senjata mematikan, melainkan senjata mainan. Rudalnya tidak berhulu ledak nuklir, tetapi isinya gethuk telo yang mereka buat bersama warga Gunung Kidul. Senapannya bukan senapan otomatis, melainkan hanya senapan-senapan yang dibuat dari papah gedang. Pelornya bukan timah panah, melainkan kertas yang dibulat-bulatkan dengan idu. Suara dar... der... dor yang keluar bukan letusan amunisi, melainkan dari mulut pasukan itu. Saat lelah, mereka bareng-bareng makan sego tiwul dan menikmati segarnya es degan pinggir kali.

***

Sayang, semua itu hanya ada dalam anganku. Semuanya telah terjadi dan harus dipahami. Memahami berarti mencari sesuatu inti sari. Golek galehe kangkung, golek tapake kuntul nglayang. Begitu kata Simbah. Mencari sesuatu yang tersembunyi, yang samar tetapi sebenarnya itulah yang sejati. Memetik hikmah itu bahasa agamanya. Barang siapa mendapatkan hikmah berarti mendapatkan sesuatu yang berharga.

Semua telah terjadi dan harus dipahami. Bukan malaikat, bukan pula setan yang diutus Allah untuk mengelola alam dunia.

Kini kita dapat melihat rencana Tuhan itu. Dunia berkeadaan gayeng. Mulai gemerlapnya lampu-lampu kota, kereta yang bukan lagi ditarik kuda. Ada kereta terbang. Kapal-kapal selam dan induk yang besarnya melebihi besarnya kampungku. Ada mainan pintar, komputer, internet dan lainnya. Bukankah itu semua kegayengan dunia? Klangenan masa tua. Memang benar protesnya malaikat. Protesnya terbukti bahwa manusia juga senang membuat keributan, melihat muncratnya darah, runtuhnya gedung-gedung. Menggusur tempat tidur orang, ndelike uang negara, uang rakyat dan lainnya.

Semua telah terjadi dan harus dipahami. Yang dimakan Adam dan Hawa memang buah khuldi, bukan alpukat, stroberi. Adam dan Hawa juga tidak pernah berniat dodolan jus atau manisan di surga. Malah sebaliknya, mereka berdua nangis gero-gero, bersalah dan terus mohon ampun, “Rabbana zhalamnaa anfusana waillam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanaa kunnana minal khasiriin”. Buah khuldi yang ngleleki itu membuatnya telanjang diri. Buah yang menyebabkan ngganjel di tenggorokan dan berubah menjadi gulu menjing bagi Adam dan benjolan susu bagi Hawa. Itu kata Simbah. Dongeng masa kecilku.

Semua telah terjadi dan harus dipahami. Adam dan Hawa harus turun ke dunia. Bertemunya bukan di Tugu Yogya atau di Stasiun Tugu, melainkan di tanah Arafah. Pertemuannya ini disimbolkan dalam temu nganten. Dua insan yang oleh Tuhan sudah dijodohkan sejak dahulu kala dan terpisah tempat dan waktu, kini bertemu dalam satu tempat. Di bawah tarub, berhias janur kuning, ada tebu, ada dua batang pisang lengkap dengan buah dan kembangnya, juga ada cengkir gading. Semua ini adalah sanepan, simbol. Kita, lagi-lagi, harus mereguk sesuatu yang tersirat.

Semua telah terjadi dan harus dipahami. Anak-anak Adam harus dinikahkan silang yang kemudian menimbulkan kecemburuan dan peristiwa pembunuhan pertama kali di dunia. Begitu pula dengan Nabi Nuh. Yang dibuat bukanlah pesawat terbang, melainkan kapal laut. Nabi Musa juga tidak membelah durian, apalagi makan bersama Firaun. Nabi Musa membelah samudra dengan tongkatnya. Terserah mau percaya atau tidak, tetapi tolong jangan lantas mentakhayulkan. Tak ada yang tak mungkin. Semua harus dicari galeh-nya. Intinya. Tongkat berarti penyangga, alat bantu jalan. Bisa juga sebagai senjata. Berarti kita bisa memaknai “tongkat” sebagai ilmu, teknologi, atau kemampuan apa saja yang bisa membantu, menyangga diri. Bukankah Tuhan berfirman, kamu takkan mampu menembus langit kecuali dengan sulthan?

Semua telah terjadi dan harus dipahami. Kanjeng Nabi Muhammad saw. tidak menerima tawaran kaum kafir Quraisy. Tidak ada negosiasi iman. Iman tidak bisa diperjualbelikan, ditukar dengan sekantong berlian atau pupu perempuan.

“Meski matahari kalian letakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, aku takkan sudi, ora sudi, ora patheken dengan itu semua.” Begitu kata Nabi bila diucapkan dengan bahasa Jawa.

Semua telah terjadi dan harus dipahami. Bangsa Indonesia lebih suka merdeka, bebas. Tidak sudi menjadi gundik, bonekanya negara penjajah. Merdeka atau mati. Lebih baik mati berkalang tanah daripada menyembah kaki bangsa lain. Hidup mulia atau mati syahid. Semua itu bukan sekadar semboyan, bukan pula orasi podium saat kampanye. Itu adalah jiwa yang mengalir dalam setiap darah juangnya. Sadumuk bathuk sanyari bumi ditohi pati.

Sudah, itu saja lamunanku.

Author: Kaha Anwar

ABOUT THE AUTHOR

Kaha Anwar

Tukang Angon Wedhos dari Ngawi.


COMMENTS