Beragamalah dengan agama cinta, demikian yang pernah dikatakan oleh Jalaludin Rumi. Sebab dalam cinta, ‘aku’ dan ‘egoku’ menjadi lenyap. Yang ada hanyalah Ia yang dicintai. Maka dari itu, dengan beragama cinta, tidak ada lagi aku, agamaku, maupun aliranku. Aku ingin kita memasuki surga dan kita bersama menemui Tuhan dalam perjumpaan yang indah.

Ada suatu konsep menarik tentang cinta dan jiwa, demikian yang didendangkan oleh kelompok musik Debu dalam lagunya yang berjudul Nyawa dan Cinta:

Dengan cara sangat khusus

Roh dan cinta dicampurkan

Dan cinta yang memang halus

Menghilang dalam campuran

Ketika cinta dan roh atau jiwa, dicampurkan dengan seizin Allah, maka yang menghilang adalah cinta. Menghilang dalam artian ia melebur dalam jiwa. Kehalusannya membuat ia menempati keseluruhan rongga dan pori di dalam jiwa, sementara jiwa tetap pada tampilan asalnya. Katakanlah, cinta menjadi substansi jiwa. Di sisi lain jiwa adalah substansi tubuh, sehingga ia pun merupakan representasi tubuh. Tubuh yang didalamnya memiliki jiwa dengan substansi cinta yang memenuhi setiap rongganya, maka akan berpikir, bergerak, dan bertindak dengan cinta. Oleh karena segala sesuatu jika memiliki dasar cinta, maka segala ekspresi maupun hasil akan baik adanya.

***

Mengunjungi Gereja Protestan yang terletak di Jalan Malioboro lantaran undangan diskusi yang dikhususkan kepada kami, membuat saya bahagia. Bagaimana tidak? Selama ini semacam ada jarak dengan rumah ibadah lain, pemeluk agama lain, maupun kurangnya atmosfer untuk memulai interaksi. Kecanggungan pasti ada, namun hati dan pikiran yang terbuka membuat langkah sangat ringan. Dan ternyata, penyambutan mereka sangat luar biasa. Salam, senyum yang merekah lebar, dan mempersilakan kami duduk serta mencicipi sedikit ransum dengan semangat, sampai rasanya tergopoh-gopoh. Kami tentu datang dengan atribut keagamaan kami, dan mereka sangat menerima dengan tangan terbuka. Bagaimana bisa hal itu dilakukan, jika tidak dengan orang-orang yang memiliki dasar keyakinan atas cinta, di dalam sanubarinya?

“Tuhan Allah tidak menghendaki kita untuk berbuat jahat. Bagaimana pun, kita selalu diingatkan bahwa kita semua memiliki tujuan akhir yang sama, yaitu kekekalan hidup kelak. Jika kita menjunjung Alkitab atau Al-Quran (kitab suci masing-masing) di atas kepala kita, niscaya kita akan selamat karena kita berada dalam tuntunan Tuhan. Tapi sekarang, kitab suci ditaruh di bawah. Rupanya pemahaman dan penafsiran kita sendiri atas kitab suci jauh lebih dianggap daripada substansi kebenaran di dalam kitab kita masing-masing. Oleh karena itulah, yang terjadi saat ini adalah kepentingan mendahului ayat. Karena ayat digunakan untuk melegitimasi kepentingan.” Kurang lebih begitu kalimat yang saya ingat dari salah seorang bapak jemaat GPIB Marga Mulya Yogyakarta.

“Takut akan Tuhan adalah permulaan”, kata seorang bapak lain yang merupakan jemaat GPIB Marga Mulya Yogyakarta asal Gunung Kidul. Beliau kemudian bercerita tentang kemajemukan beragama di daerah tempatnya tinggal. Di sana, Idul Fitri tidak seramai acara Rasulan, di mana acara Rasulan ini menjadi tempat berkumpulnya seluruh masyarakat, dan tentu saja seluruh komunitas agama di daerah tersebut. Semuanya menjadi satu dalam suatu tradisi yang langgeng sampai sekarang, tidak pernah dipermasalahkan halal atau haramkah tradisi tersebut.

Saya jadi teringat masa-masa kecil saya di Kalimantan sana. Kampung saya merupakan sebuah perkampungan yang majemuk, beragam suku, ada suku Melayu, Dayak dan Tionghoa sebagai penduduk yang sudah lama menetap. Melihat kenyataan tersebut, dinamika beragama juga menjadi beragam. Namun hidup berjalan damai dan interaksi yang dilakukan antar penduduk sangat wajar dan biasa. Takbiran Idul Fitri bukan lagi menjadi milik orang Islam semata, namun seluruh penduduk dengan turun ke jalan ikut pawai dan meramaikan suasana,  saling menjaga dan tertib. Silaturahmi Idul Fitri tidak hanya antar orang Islam, namun orang Kristen dan Konghucu juga ikut berlebaran dari rumah ke rumah. Pada saat Natal maupun Imlek pun, hal yang sama juga dilakukan orang Islam. Tidak hanya saling berkunjung, namun juga saling memberi simbol perayaan. Rumah saya sering mendapat hantaran makanan, misalnya kue keranjang saat Imlek berlangsung.

Pada pokoknya situasi tenang, situasi damai. Dalam kedamaian tersebut, kami merasakan nyaman untuk beribadah dan eksistensi kami sebagai Muslim semakin teguh.

Begitu pula ketika suatu bulan berselang kami mengunjungi Ashram Smrti Krishna. Sebuah asrama dengan basis Weda yang merupakan kuil pemujaan Krishna. Asrama ini terletak di daerah Sleman. Kami datang dan diterima dengan tangan terbuka. Kami bahkan diizinkan untuk melihat perayaan Hari Sarasvati dan ikut melakukan pembacaan salah satu ayat dalam Bhagavad-gita. Kami turut diperciki air suci, meraba hangatnya api untuk diusapkan ke muka dan kepala, bahkan ikut mencium melati yang dibawa seorang anak sebagai bagian dari ritual. Yang paling saya bisa rasakan adalah pengalaman religius mereka yang luar biasa dan terpancar sebagai keimanan yang tidak bisa digugat dengan cara apa pun. Dalam hati saya membisikkan “Ya Allah, hari ini aku melihat-Mu di dalam nyanyian dan tarian itu. Aku tidak takut, tidak merasa asing sama sekali.”

“Bagi kami, Krishna  adalah Tuhan. Namun, kami juga tidak berkeberatan jika Krishna dalam agama lain disebut Allah, Yesus, Yahweh. Sama seperti istilah Allahu Akbar, Krishna bagi kami juga adalah Mahima, atau Maha Besar. Tuhan memang satu namun karena ke-Maha Besar-anNya, maka Dia layak disebut dengan bermacam-macam nama. Karena Tuhan melampaui segala sesuatu yang ada. Dan karena Dia Maha Tahu, maka apa pun yang kita sebutkan pada-Nya, selagi hati kita memang tertuju kepada Dia, maka Tuhan akan tahu.” Wejangan dari bapak guru yang mengaji Bhagawad-gita sungguh memberikan oase di siang yang panas itu, juga oase terhadap kegelisahan melihat tingkah segelintir orang beragamakan simbol yang sungguh jauh dari cinta kasih.

Saya selalu teringat dengan apa yang pernah dikatakan Ayah saya ketika mulai beranjak belajar agama. “Jika kamu dilahirkan di Amerika, misalnya, dan bukan di perkampungan Melayu seperti di sini, apa kamu yakin kamu akan tetap beragama Islam, bukan beragama lain? Kalau begitu, kenapa lantas kamu sedemikian bangga, saking bangganya sampai antipati dengan orang lain yang agamanya berbeda darimu? Ketika takdir memilihmu untuk lahir di dalam keluarga Islam dan kamu menjadi Islam karenanya, apakah Allah lantas senang padamu dan akan menghukum orang yang ditakdirkan untuk lahir di Amerika dan karenanya ia memeluk agama selain Islam? Jahat sekali Allah jika begitu!”

Jika kita menyadari, bahwa perbedaan adalah niscaya, bahkan sebuah rahmat, maka kita menyadari ada milyaran kemungkinan pengalaman religius-spiritual seseorang. Proses religius tentu tak lepas dari lingkungan, renungan, dan keterbukaan hati nurani. Pengalaman ini pada akhirnya akan membentuk iman. Dan berbicara tentang iman maka kita berbicara dalam tataran rasa. Rasa yang berakar kuat, penuh energi, penuh penyerahan dan kecintaan. Dan karena saya sangat meyakini bahwa Allah sama sekali tidak jahat, maka saya percaya, perbedaan itu maupun ejawantahnya tidak lain adalah ke-Maha Besar-an Allah. Semacam kode dari Allah untuk kita semua: bila kamu sungguh mencintai-Ku, maka temukanlah Aku, di mana pun! Waallahua’lam.

*Buletin Jumat Masjid Jendral Sudirman, Edisi – 05 Jumat, 20 Oktober 2017/28 Muharram 1439 H

Author: Ria Fitriani

ABOUT THE AUTHOR

Ria Fitriani

Apoteker, Suka Sastra.


COMMENTS