Kebudayaan Jawa itu kebudayaan simbol. Simbol adalah sesuatu yang menjelaskan sesuatu yang lain. Janur kuning di mulut gang merupakan sesuatu yang menjelaskan bahwa di dalam gang itu sedang ada hajatan pernikahan. Maka janur kuning itu merupakan simbol. Simbol, dalam kacamata al-Quran termasuk dalam cakupan kata: ayat, yang penggunaannya dalam al-Quran diredaksikan sebanyak 28 kali. Meminjam istilah al-Quran, kebudayaan Jawa merupakan kebudayaan ayat-ayat.

Kesamaan Jawa dan Arab

Dalam kebudayaan Jawa, segala hal selalu berada di balik semak belukar simbol. Tak boleh sembarangan berkata, berpikir, bertindak. Tak pula boleh kaku. Harus luwes. Apa yang tampak oleh mata, seringkali bukan begitu aslinya. Apa yang diraba oleh pikiran, acapkali bukan seperti itu sebenarnya. Apa yang dilintas oleh hati, kerap kali bukan semacam itu sejatinya. Semuanya seolah menggantung.

Soalnya, kebenaran dalam peradaban Jawa, baru akan menampakkan dirinya setelah manusia melakukan upaya penggalian sampai lapisan paling dasar dan melakukan pendakian hingga puncak tertinggi. Dalam keadaan kebelum-selesai-an penggalian dan pendakian, semua hal masih menggantung. Bisa jadi Anda benar di sisi ini tapi salah di sisi itu. Kira-kira, keadaan itu dapat dicermati dari ungkapan orang Jawa: ngono ya ngono ning ojo ngono (begitu ya begitu, tapi jangan begitu). Memahami kebudayaan Jawa itu wang-sinawang. Gampang-gampang susah. Susah-susah gampang.

Setiap kata atau istilah Jawa, tak bisa diartikan dengan sekali pukul. Nyaris tak mungkin mengartikan satu kata secara apa adanya. Setiap kata memiliki 10-20 arti, yang dalam kesusastraan Jawa disebut dengan istilah dasanama. Dasa artinya sepuluh. Nama artinya nama. “Sepuluh” di sana bukan sepuluh dalam arti sesuatu yang berjumlah sepuluh. “Sepuluh” hanya penyederhanaan istilah untuk mengatakan betapa banyaknya sesuatu itu. Sama halnya dengan kata sewu dalam ungkapan amit sewu, yang merupakan ungkapan sederhana tentang limpahan permohonan perkenan.

Ke-dasanama-an kata-kata Jawa sebanding dengan ke-dasanama-an kata-kata Arab. Coba cek kata-kata ini: rumah (بيت), kitab (كتاب), tanah (تراب), di kamus terbesar Bahasa Arab, Lisanul ‘Arab karya Ibnu Manzhur (1232-1311 M). Anda akan menemukan uraiannya sepanjang lebih dari dua halaman bolak-balik. Meskipun, dalam aliran linguistik Arab mazhab Abu ‘Ali al-Farisi (901-987 M), ke-dasanama-an/sinonimitas ditolak. Bila ada kesamaan arti dalam satu-dua kata Arab, itu bukan sinonim (taraduf), tapi hanya penjelas perbedaan (mutabayinat). Dha’if (ضعيف) artinya lemah. ‘Ajiz (عجيز) juga artinya lemah. Akan tetapi lemahnya dha’if bukan lemahnya ‘Ajiz. Ada perbedaan dimensi, kedetailan, dan hakikat kelemahan yang ditunjuk masing-masing kata.

Kesimpulannya, baik dalam kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Arab, dibutuhkan metode berpikir untuk menggali lapisan-lapisan simbol dan mendaki gunung-gunung tanda. Agar kebenaran atau setidaknya jarak terdekat kebenaran ditemukan. Sama halnya dengan membuka bungkusan kado cincin emas. Cincin emas itu tentu ada di dalam bungkusan. Untuk mendapatkannya, kita harus membuka lapis demi lapis sampul pembungkus. Begitulah “takdir” yang harus dijalani oleh manusia Jawa dan manusia Arab.

Satu untuk menghina, satu untuk menemukan Tuhan

Dalam kebudayaan Jawa, sepenangkapan saya, ada dua metode berpikir populer untuk membuka lapis-lapis sampul itu. Sampai saat ini orang Jawa masih sering mengoperasikannya. Pertama, utak-atik-gatuk. Kedua, jarwo dosok.

Secara sederhana utak-atik-gatuk dipahami sebagai upaya pencocok-cocokan konsep agar ‘berjumpa’ dengan peristiwa sehari-hari, yang biasanya berbentuk kata/bahasa/istilah. Metode berpikir utak-atik-gatuk sejak dari sononya dipakai untuk lucu-lucuan. Dalam skala kehidupan sosial-budaya, ia sering dipakai untuk ngenyek, menghina, menyudutkan, dan menertawakan.

Contohnya kata “Siti”, yang artinya tanah. Sebagai lucu-lucuan, hasil penerapan metode utak-atik-gatuk terhadap kata “Siti” salah satunya adalah isine wong mati (isinya orang mati). Ya! Betul! Tanah memang berisi orang mati. Contoh lain, kata “Krikil” yang di-utak-atik-gatuk menjadi keri-keri neng sikil (sesuatu yang membuat geli-geli di kaki). Faktanya memang demikian. Kerikil sering membuat geli agak menohok tapak kaki.

Metode kedua adalah jarwo dosok. Banyak orang yang silap memahami dan tidak bisa membedakan utak-atik-gatuk dengan jarwo dosok. Bahkan orang Jawa sendiri kerap melakukan kesilapan itu. Sehingga dengan metode utak-atik-gatuk, orang Jawa sering mengenyek, merendahkan, mengejek, dan menertawakan kebudayaannya sendiri. Di satu sisi itu wajar. Soalnya, di zaman ini, manusia tidak berbiasa berpikir mendalam dan rinci. Semuanya serba instant dan cepat selesai. Lagipula, keduanya sama-sama metode berpikir untuk membaca kenyataan/kata/tanda/konsep/bahasa.

Hanya saja, jarwo dosok berbeda dengan utak-atik-gatuk. Dari segi istilahnya saja keduanya sudah jauh berpisah. Jarwa artinya menimbang, menilai, menakar, membawa. Dosok artinya menaikkan ke atas. “Atas”, oleh orang Jawa sering dimaknai sebagai langit atau sesuatu yang tinggi. Jadi, jarwo dosok tidak dipakai untuk lucu-lucuan, menghina, atau bahkan merendahkan martabat sesuatu, melainkan untuk menaikkan sesuatu ke “langit”.

Anda pasti tahu apa maksud “langit” di sini, yaitu makna asali yang berisi konsep luhur dari benda/peristiwa/tanda/kata/bahasa itu. Dan, khusus dalam pemaknaan tingkat tertinggi lungid, “langit” dimaknai sebagai Tuhan dan nama-perbuatan-Nya. Dapat dikatakan bahwa jarwo dosok merupakan metode menggali makna simbol dengan mencari keterkaitannya dengan dunia langit.

Contoh pengoperasian metode jarwo dosok, misalnya dalam kata garwa. Garwa artinya pasangan hidup, yaitu suami atau istri. Garwa, dalam operasi metode jarwo dosok, merupakan pemendekan dari istilah sigaraning nyawa, yang artinya belahan jiwa. Dalam Bahasa Inggris, garwa searti dengan istilah soulmate. Melalui operasi jarwo dosok, dapat diketahui bahwa istri adalah separuh diri suami. Begitu juga sebaliknya.

Contoh lain Sumur. Sumur dalam pembacaan jarwo dosok, merupakan pemendekan dari istilah susuhing umur (sumber umur). Kenapa? Karena sumur adalah tempatnya mata air memuncrat. Mata air menandakan asal-muasal kehidupan, yaitu dari air. Al-Quran berkata dalam Surat Al-Anbiya’ [21]: 30 “… dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”. Karena itu, orang Jawa memuliakan sumur. Ingat, memuliakan maksudnya bukan menyembah, akan tetapi merawat, membersihkan, menjaga. Sumur yang sudah tidak dipakai, dianjurkan untuk tidak ditutup. Sumur dianggap “tahu” kapan ia digunakan dan kapan tidak. Biar ia “mati” dengan sendirinya seturut kehendak tanah-air.

Meminjam bahasa Kyai Sinung, jarwo dosok termasuk dalam cabang metode Semiotika Iqro’, yaitu membaca tanda-tanda atau iqro' dengan nalar bismi robbik. Iqro’ itu men-jarwa. Bismi robbik itu men-dosok atau menaikkan ke “langit’. Dalam istilah tasawuf, jarwo dosok sepadan dengan pekerjaan menemukan Allah di balik segala sesuatu. Wallahu a'lam.

Author: Muhammad Yaser Arafat

SHARE THIS POST
ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Yaser Arafat

Peneliti kebudayaan, aktif di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta.


COMMENTS