Kau pelajari begitu banyak ilmu, kau baca seribu buku, tetapi pernahkah kau baca dirimu sendiri?

Kau datangi masjid dan kuil, tetapi pernahkah kau datangi jiwamu sendiri?

Begitu payah kau memerangi iblis, tetapi kapan kau lawan semua niat busuk di dalam hatimu?

Mungkin saja awan sudah kau genggam, tetapi sekadar untuk menyentuh apa yang ada dalam hatimu saja kau tak mampu!

Syair di atas adalah buah karya dari Bulleh Shah Al-Funjabi, seorang mursyid sufi asal India yang lahir pada tahun 1680. Syair tersebut saya baca kali pertama saat membuka Facebook pada suatu pagi, Rabu, 17 Mei 2017. Pada kesempatan yang sama, saya mengamati berbagai status yang melintas di beranda. Saya perhatikan, beberapa di antaranya didominasi oleh status pemberitaan seputar kasus penistaan yang dilakukan Ahok, buntut panjang Pilkada, polemik keberadaan HTI, dan skandal Rizieq Shihab. Rasanya, Indonesia hanya dipenuhi permasalahan yang isinya itu-itu melulu. Padahal, ada hal-hal lain yang lebih mendesak untuk dibicarakan dan dicarikan jalan keluar. Di sudut-sudut rumah, para ibu tengah berpikir keras mengencangkan ikat pinggang demi memenuhi gizi anak-anaknya ketika harga bahan-bahan dapur merangkak naik satu per satu. Para bapak juga semakin memutar otak demi menggenapi tagihan listrik yang terus membengkak.

Di antara banjirnya status berbau politik tersebut, ada sebuah status yang cukup menarik perhatian saya. Itulah status yang dibagikan oleh Alfathri Adlin, seorang dosen dan pengurus masjid kampus di ITB, Bandung. Ia menulis paparan tentang “mengenali diri” berdasarkan syair Bulleh Shah Al-Funjabi.

Kenalilah Dirimu

Mengapa status tersebut menarik perhatian saya? Alasannya, karena status tersebut mengingatkan saya pada kajian Ngaji Filsafat di Masjid Jendral Sudirman yang diampu oleh Pak Fahruddin Faiz. Dalam salah satu tema kajiannya, Pak Faiz mewanti-wanti kepada para santri mengajinya untuk mengenali diri sendiri. “Kenalilah dirimu,” katanya. Kalimat yang dilontarkan Pak Faiz tersebut senada dengan status yang ditulis oleh Alfathri Adlin.

Pak Faiz, terkait kalimat yang ia lontarkan, menyodorkan beberapa pertanyaan yang diperuntukkan untuk mengenali diri. Siapakah aku? Dari mana asalku? Mengapa aku ada? Untuk apa aku hidup? Bagaimana aku harus hidup? Ke mana tujuanku nanti? Apa yang harus aku lakukan dan apa yang tidak boleh aku lakukan? Sudah tepatkah setiap tindakan yang aku lakukan selama ini? Benarkah pengetahuan tentang hidup yang aku punyai selama ini? Apa bedanya aku dengan yang lain?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah penjabaran-elaborasi dari sebuah hadis yang berbunyi: Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu. Artinya, ‘Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya’. Maka, marilah kita merenung sejenak sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut! Demi mengenal Tuhan. Demi mendekatkan diri pada Allah.

Kelihatannya, pertanyaan demi pertanyaan itu enteng untuk dicari jawabannya. Akan tetapi, sekelas filosof, seperti Socrates saja merasa berat untuk menjawabnya! Bahkan, ia pun telah mewanti-wanti dalam jargonnya, “Know your self!”

Senada dengan hal di atas, ada sebuah konsep “mengenal diri” juga yang dijelaskan oleh Mbah Maridjan. Menurutnya, apabila seseorang telah menempuh tiga jalan sabawa rasa, maka orang akan menyadari bahwa hubungan hamba dengan Sang Khalik tidak ubahnya sebagai hubungan yang satu (manunggaling kawula Gusti). Tiga jalan sabawa rasa, meliputi kesadaran atas: (1) urip iki soko sopo? (hidup ini berasal dari apa?); (2) urip iki pungkasane piye? (hidup ini akan berakhir seperti apa?); dan (3) urip iki arep ngopo? (hidup ini untuk melakukan apa?). Sementara itu, maksud dari manunggaling kawula Gusti (menyatunya diri dengan Tuhan) adalah menjadi insan kamil, manusia yang berkarakter ilahiah. Orang yang mengenal dirinya melalui jalan sabawa rasa dan manunggaling kawula Gusti, akan menunjukkan tingkah laku dan tutur kata yang mengandung pesan-pesan ilahiah. Hal itu tidak mengherankan sebab orang yang melalui jalan tersebut senantiasa mengarahkan pandangannya (hanya) kepada Tuhan.

Saya kira, hadis dan ajaran Mbah Marijan tersebut tidak hanya berlaku pada ranah konsep pengenalan diri pribadi saja. Keduanya juga dapat diberlakukan pada ranah konsep pengenalan sosial kemasyarakatan. Salah satu contoh penerapan konsep “mengenal diri” dalam ranah sosial adalah peristiwa khalwat yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. di Gua Hira. Dalam pengasingannya tersebut, beliau tidak hanya berusaha mengenal dirinya sendiri saja, tetapi sekaligus merenung-kenali keadaan sosial masyarakat Arab yang Jahiliah pada saat itu. Setelah mengenal dirinya dan mengenal-mempelajari masyarakat Arab, beliau kemudian mempunyai misi untuk menyempurnakan akhlak masyarakat Arab. Selama kurang lebih 23 tahun, Rasulullah Saw. pun sukses membangun dan mengantarkan masyarakat Arab yang Jahiliah menuju masyarakat yang berperadaban.

Innama buistu li utami makarima akhlaq—‘Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak’.

Kenalilah Bangsamu

Barangkali, sebagian besar orang Indonesia mengamalkan hadis tentang “mengenali diri” tersebut hanya dalam ranah pribadi. Sementara itu, “mengenali diri” dalam ranah sosial belum terjamah. Akibatnya, masyarakat kita masih berkutat pada kepentingan individual-egoistis. Kepentingan-kepentingan bersama pun belum menjadi prioritas.

Begitu utamanya kepentingan dalam ranah sosial sampai-sampai Allah menyematkan banyak hikmah dalam hampir setiap peribadatan, seperti shalat, zakat, dan sebagainya. Oleh karena itu, mencari hakikat sosial pada konsep “mengenali diri” pun menjadi penting. Salah satu cara yang dapat diterapkan dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia, menurut saya, adalah mempelajari sejarah bangsa. Dengan belajar sejarah bangsa Indonesia, kita dapat mengenal ‘Siapa itu bangsa Indonesia?’ untuk kemudian menuju peradaban yang lebih tinggi. Proses tersebut sama seperti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. ketika berkhalwat di Gua Hira untuk mengenal-pelajari bangsa Arab Jahiliah.

Ada kengerian dan kekhawatiran ketika saya membaca buku Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 karya Peter Carey. Dalam prakatanya, Peter Carey—orang Barat sendiri yang berbicara—menyampaikan bahwa sebagian besar orang Indonesia kini hidup dalam kekosongan historiografi; mereka lebih akrab dengan budaya populer dari Barat dibandingkan warisan budaya mereka yang unik. Ia juga menyebutkan bahwa 90% karya ilmiah tentang Indonesia justru disusun oleh mereka yang tinggal di luar Indonesia—yang sebagian besar tentunya adalah orang asing. Jika angka tersebut benar, maka Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang paling kurang efektif menjelaskan dirinya sendiri kepada dunia luar. Oleh karena itu, Carey berharap agar orang Indonesia “tergugah”.

Sangat disayangkan, sebuah masyarakat dari sebuah bangsa tidak mengenal bangsanya sendiri, sedangkan orang luar justru lebih mengerti dan mengenal bangsa ini. Sebuah bangsa yang kurang akrab terhadap bangsanya.

Adapun khalwat Rasulullah Saw. dilakukan setiap Ramadhan. Oleh kerena itu, mari jadikan Ramadhan sebagai tonggak momentum untuk mengamalkan hadis tersebut dengan berusaha kembali mengenali diri dan bangsa Indonesia!

*) Santri Ngaji Filsafat yang bergiat di MJS Press dan sedang menekuni bidang Ilmu Sejarah

Author: M. Mas’udi Rahman

SHARE THIS POST
ABOUT THE AUTHOR

M. Mas’udi Rahman

Penjual Pulsa, Suka Besepeda. Asli Yogyakarta.


COMMENTS