Pada kesempatan Ngaji Rubaiyat Rumi tadi malam (24/9), Kyai Kuswaidi Syafi’ie menerangkan bahwa orang yang mengalami dimensi musikal (spiritual) dalam hidupnya selalu indah. Bahasa lain dari musikalitas ruhani itu adalah air kehidupan (maaul hayat).

Sebagai contoh musikalitas rohani, Cak Kus, panggilan akrap beliau, menceritakan kisah K.H. Muhammad Zuhri ketika didatangi seorang tamu Nasrani. Saat menyambut sang tamu, beliau tidak mengedepankan ke-aku-annya tetapi menampilkan sifat jamaliyah Allah (sifat keindahan Allah). Karena itulah, sang tamu merasa tergetar. Getaran sehebat itu tidak dirasakan ketika mendatangi gereja atau majelis Nasrani lain.

Musik, papar Cak Kus, termasuk pancaran sifat jamaliyah Allah. Karena itulah, musik bisa digunakan sebagai sarana pembebasan dan pencerahan laku spiritual.

Tanda orang yang mengalami itu, dalam kesahariannya ia bergegas melakukan perjalanan ruhani. Sebab, ia ingin secepatnya menikmati cinta agungnya yang terpendam.

Tanda lainnya, para pecinta Ilahi tidak nganggur. Nganggur, bagi para pecinta, menjurus pada hal yang kurang produktif. Hari-harinya tidak lebih seperti tumbuhan dan hewan: makan-tidur.

Para pecinta sejati setiap hari selalu sibuk mendekati Yang Maha Cinta. Pun dalam tidurnya ia selalu terjaga. Mata fisiknya merem tapi ruhaninya berdzikir.

Tanda selanjutnya, pecinta adalah orang yang merasa dirinya lalai. Orang lalai merasa kehilangan. Akibatnya, ia merasakan kerinduan yang sangat. Ia pun segera bergegas menuju cinta Ilahiyah.

Selain itu, pecinta Ilahi tak egois. Ia tidak abai pada yang lain. Ia ingin membagi kenikmatan mabuk ruhani kepada yang lain.

Pecinta Ilahi punya karakter istimewa lain. Ia selalu mawas diri. Pada diri sendiri, ia selalu mencari kekurangan. Pada orang lain, ia selalu melihat kelebihan.

Demikian pula soal penegakkan hukum (termasuk fiqh). Pada orang lain, ia bersikap longgar. Pada diri sendiri, ia bersikap ketat.

Dalam pembahasan lain, yang masih berkaitan dengan tema musik rohani, Cak Kus membedakan tawakal dan takwa. Yang dimaksud dengan tawakal adalah kau bukan aku, aku juga bukan engkau. Takwa itu, kau adalah aku, aku adalah engkau.

Selain itu, Cak Kus juga memberi tips menghilangkan penyakit stres, yaitu buanglah stres dengan cinta Ilahi.

*Catatan Ngaji Rubaiyat Rumi bersama Kyai Kuswaidi Syafi’ie, Jum’at 25 November 2016.

Author: M. Mas’udi Rahman

ABOUT THE AUTHOR

M. Mas’udi Rahman

Penjual Pulsa, Suka Besepeda. Asli Yogyakarta.


COMMENTS